ANAK
BERBAKAT
Makalah
ini Disusun guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Anak Berbakat
Dosen
Pengampu:
Uswatun
Hasanah,M.Psi

Disusun
Oleh:
Nadya
Khussotu Birliana
2013.06.0.0087
PRODI
PSIKOLOGI ISLAH
FAKULTAS
DAKWAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM TRIBAKTI (IAIT)
KEDIRI
2015-2016
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama
Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji
syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini telah disusun
dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat
memperlancar serta terima kasih kepada Ibu Uswatun Hasanah,M.Psi yang
telah memberikan banyak ilmunya kepada kami teman-teman yang selalu memberikan
dukungan.
Terlepas dari semua
itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi
susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu kami menerima segala
saran dan kritik dari pembaca agar dapat memperbaiki makalah ke depannya.
Akhir kata kami
berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap
pembaca.
Kediri, 05 April 2016
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Setiap anak memilki anugrah tersendiri yang diberikan dari
sang maha pencipta kepadanya melalui berbagai cara salah satunya adalah sperti
anak yang berbakat. Anugrah yang diberikan bukan hanya saja berupa keblebihan
namun erkadang kekuranganpun termasuk anugrah dari tuhan yang diberikan kepada
umatnya. Setiap kelebihan dan kekurangan pada manusia pada dasarnya harus di
syukuri dan cara yang mensyukuri yang paling baik adalah dengan mengembangkan
kekurangan menjadi suatu kelebihan dan menjadikan kelebihan sebagai sebagai
perantara untuk membantu orang lain dalam hal kebaikan.
Dalam makalah ini akan dibahasa bagaimana cara menangani
anak yang berbakat, oleh karena itu mengapa anak berbakat masuk kedalam
kategori anak berkebutuhan khusus karena pada dasarnya anak berbakat itu anak
yang memilki perbedaan dengan anak yang lainnya sehingga perlu mendapatkan
penanganan atau wadah untuk menampung anak berbakat tersebut.
Isu menarik berkaitan dengan layanan pendidikan bagi anak
berbakat (gifted) yang dalam bahasa undang – undang disebut dengan peserta
didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa atau lebih popular di
masyarakat dengan cerdas istimewa (CI) dan bakat istimewa (BI) adalah adanya
beragam motivasi dan implementasinya.
Dalam
perspektif global, penyelenggaraan program akselerasi memberikan nilai positif,
karena tidak dapat dipungkiri bahwa tantangan global dan persaingan antar
bangsa dalam berbagai aspek kehidupan semakin nyata. Sehingga dengan
penyelengaraan program akselerasi diharapkan lahir sumber daya manusia unggul
yang dapat bersaing dalam lingkup nasional dan global.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa pengertian dari anak berbakat?
2. Bagaimana ciri-ciri anak berbakat?
3. Bagaimana klasifikasi anak berbakat?
4. Sebutkan ciri keberbakatan
kecerdasan majemuk?
5. Bagaimana cara penanganan anak
berbakat?
C.
Tujuan
1. Mengetahui definisi atau pengertian
dari anak berbakat
2. Mengetahui ciri-ciri anak berbakat
3. Mengetahui bagaimana klasifikasi
dari anak bernakat
4. Mengetahui ciri keberbakatan
kecerdasan majemuk
5. Mengatahui bagaimana cara penanganan
anak berbakat
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Anak Berbakat
Pengertian berbakat di Amerika Serikat pada dasarnya dikaitkan dengan
skor tes inteligensia Stanford Binet yang dikembangkan oleh Terman setelah
Perang Dunia I. Dalam hasil tesnya itu, anak-anak yang memiliki skor IQ 130
atau 140 dinyatakan sebagai anak berbakat (Kirk & Gallagher,
1979:6). Sekitar tahun 1950 pengertian tersebut mulai berkembang ketika para
pendidik di Amerika Serikat berusaha memberikan pengertian yang lebih
luas tentang anak berbakat.
Pada waktu itu yang dimaksud
dengan anak berbakat (gifted dan talented) ialah mereka yang menunjukkan secara
konsisten penampilan luar biasa hebat dalam suatu bidang yang berfaedah (Henry,
seperti dikutip oleh Kirk dan Gallagher, 1979:61). Adapun definisi yang
digunakan dalam Public Law 97-135 yang disahkan oleh Kongres Amerika Serikat
pada tahun 1981, yang dimaksud dengan anak berbakat (gifted and talented) ialah
berikut ini.
Anak yang menunjukkan kemampuan/penampilan yang tinggi dalam
bidang-bidang, seperti intelektual, kreatif, seni, kapasitas kepemimpinan atau
bidang-bidang, akademik khusus, dan yang memerlukan pelayanan-pelayanan atau
aktivitas-aktivitas yang tidak biasa disediakan oleh sekolah agar tiap
kemampuan berkembang secara penuh (Clark, 1983:5).
Banyak istilah keberbakatan (anak
berbakat) yang digunakan dalam psikologi seperti gifted, talented, genius dan
prodigy ternyata tidak memiliki satu definisi atau batasan yang sama, hanya
saja memiliki pengertian yang saling melengkapi antara satu istilah dengan istilah
lainnya.
Istilah gifted ditujukan untuk orang, anak didik atau siswa
yang memiliki kemampuan akademis (secara umum) yang tinggi, yang ditandai
dengan didapatkannya skor IQ yang tinggi pada pengerjaan tes
kecerdasan/intelegensi, sedangkan talented adalah kebalikannya, ditujukan untuk
orang yang memiliki kemampuan unggul dalam bidang akademis yang khusus (seperti
matematika, bahasa), juga bidang seni, musik, dan drama.
Jadi kalau gifted itu ditujukan
untuk kemampuan akademis secara umum, sedangkan talented ditujukan untuk dua
kemampuan unggul:
Ø Bidang akademis khusus.
Ø Bidang non-akademis
Bakat (aptitude) biasanya diartikan
sebagai kemampuan bawaan yang merupakan potensi (potential ability) yang masih
perlu dikembangkan atau dilatih agar dapat terwujud. Dalam referensi lain
dijelaskan bahwa bakat ialah kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan
atau keterampilan, yang relatif bisa bersifat umum (minsalnya, bakat
intelektual umum) atau khusus (bakat akademis khusus), maka bakat khusus
disebut juga talent.
Contoh orang yang talented bisa
diwakili oleh Bung Karno yang sangat jago dalam berpidato dan jago menguasai
massa. Presiden Soekarno (EYD: Sukarno) dapat berpidato berjam-jam tanpa jeda
dan tanpa teks, dan anehnya pendengarnya tidak jenuh-jenuh dan tetap serius mendengarkan
beliau. Mengenai betapa berbakatnya Bung Karno dalam kemampuan berpidato dan
mempersuasi massa dapat dibaca pada artikel Keajaiban-keajaiban Pidato Bung
Karno.
B.
Ciri-ciri
Anak Berbakat
1.
Renzulli
dan kawan – kawan (1981), dari hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa yang
menentukan bakat seseorang pada pokoknya merujuk pada tiga kelompok ciri-ciri,
yakni:
a. Kemampuan di atas rata – rata
Kemampuan
di atas rata – rata tidak berarti bahwa kemampuan itu harus unggul. Yang pokok
ialah kemampuan itu harus cukup diimbangi oleh kreativitas dan tanggung jawab
terhadap tugas. Selain itu, yang dimaksud dengan kemampuan umum ialah suatu
bidang – bidang kemampuan umum yang biasanya diukur dengan tes intelegensi, tes
prestasi (achievement test), tes bakat (aptitude test), atau tes kemampuan
mental.
b. Kreativitas
Kreativitas
ialah kemampuan untuk memberikan gagasan – gagasan baru dan menerapkannya dalam
pemecahan masalah. Kreativitas ciri – ciri aptitude seperti kelancaran,
keluwesan (fleksibilitas), dan keaslian (orisinalitas) dalam pemikiran maupun
ciri – ciri (non-aptitude) seperti; rasa ingin tahu, senang mengajukan
pertanyaan, dan selalu ingin mencari pengalaman baru.
c. Tanggung jawab atau pengikatan diri
terhadap tugas
Tanggung
jawab atau pengikatan diri terhadap tugas menunjuk pada semangat dan motivasi
untuk mengerjakan dan menyelesaikan suatu tugas, suatu pengikatan diri dari
dalam. Jadi, bukan tanggung jawab yang diterima dari luar.
2.
R.A.
Martison dalam bukunya The Identification of the Gifted and Talented (1974),
merinci anak-anak berbakat sebagai berikut:
a. Membaca pada usia yang relatif lebih
muda.
b. Membaca lebih cepat dan lebih
banyak.
c. Memiliki perbendaharaan kata yang
luas.
d. Memiliki rasa ingin tahu yang kuat.
e. Mempunyai minat yang luas, juga pada
persoalan “dewasa”.
f. Mempunyai inisiatif, dapat bekerja
sendiri.
g. Menunjukkan keaslian (orisinalitas)
dalam ungkapan verbal.
h. Memberikan berbagai jawaban yang baik.
i.
Bisa
membeikan banyak gagasan.
j.
Luwes
dalam berfikir,
k. Terbuka untuk ransangan-ransangan
dari lingkungan.
l.
Memiliki
pengalaman yang tajam.
m. Bisa berkonsentrasi untuk waktu yang
lebih panjang, terutama terhadap tugas atau bidang yang diminati.
n. Berfikir kritis, juga terhadap diri
sendiri.
o. Senang mencoba hal-hal baru.
p. Mempunyai daya abstraksi,
konseptualisasi, dan sisntesis yang tinggi.
q. Sedang terhadap kegiatan intelektual
dan pemecahan masalah.
r.
Cepat
mendapat hubungan hubungan-hubungan (sebab akibat).
s. Berperilaku terarah pada tujuan.
t.
Mempunyai
daya imajinasi yang kuat.
u. Mempunyai banyak kegemaran (hobi).
v. Memiliki daya ingat yang kuat.
w. Tidak cepat puas dengan prestasinya.
x. Sensitif dan mengunakan intuisi
(firasat).
y. Mengingatkan kebebasan dalam
gerakkan dan tindakkan.
C.
Klasifikasi
Anak Berbakat
Berikut adalah klasifikasi anak berbakat :
1.
Genius
Genius ialah anak yang memiliki kecerdasan luar biasa,
sehingga dapatmenciptakan sesuatu yang sangat tinggi nilainya.Intelligence
Quotien-nya (IQ) berkisar antara 140 sampai 200.Anak genius memiliki
sifat-sifat positif sebagai berikut; daya abstraksinya baik sekali, mempunyai
banyak ide, sangat kritis, sangat kreatif, suka menganalisis, dan sebagainya.
Di samping memiliki sifat-sifat positif juga memiliki sifat negatif,
diantaranya; cenderung hanya mementingkan dirinya sendiri (egois),
temperamennya tinggi sehingga cepat bereaksi (emosional), tidak mudah bergaul,
senang menyendiri karena sibuk melakukan penelitian, dan tidak mudah menerima
pendapat orang lain.
2.
Gifted
Anak ini disebut juga gifted and talented adalah anak yang
tingkatkecerdasannya (IQ) antara 125 sampai dengan 140. Di samping memiliki IQ
tinggi, juga bakatnya yang sangat menonjol, seperti ; bakat seni musik, drama,
dan ahli dalam memimpin masyarakat. Anak gifted diantaranya memiliki
karakteristik; mempunyai perhatian terhadap sains, serba ingin tahu,
imajinasinya kuat, senang membaca, dan senang akan koleksi.
3.
Superior
Anak superior tingkat kecerdasannya berkisar antara 110
sampai dengan 125sehingga prestasi belajarnya cukup tinggi.Anak superior
memiliki karakteristik sebagai berikut; dapat berbicara lebih dini, dapat
membaca lebih awal, dapat mengerjakan pekerjaan sekolah dengan mudah dan dapat
perhatian dari temantemannya.James H. Bryan and Tanis H. Bryan (1979; 302)
mengemukakan bahwa karakteristik anak berbakat itu (gifted) meliputi; physical,
personal, and social characteristics. Sedangkan David G. Amstrogn and Tom V.
Savage (1983; 327) mengemukakan; “Gifted and talented students are individuals
who arecharacteristized by a blaned of (1) high intelligence, (2) high task
comitment, and (3) high creativity. Secara umum hampir semua pendapat itu sama,
bahwa anak berbakat memiliki kemampuan yang tinggi jika dibandingkan dengan
anak-anak pada umumnya.
Hasil studi lain menemukan bahwa
“Anak-anak berbakat memiliki karakteristik belajar yang berbeda dengan
anak-anak normal. Mereka cenderung memiliki kelebihan menonjol dalam kosa kata
dan menggunakannya secara luwes, memiliki informasi yang kaya, cepat dalam
menguasai bahan pelajaran, cepat dalam memahami hubungan antar fakta, mudah
memahami dalil-dalil dan formulaformula, tajam kemampuan analisisnya, membaca banyak
bahan bacaan (gemar membaca), peka terhadap situasi yang terjadi di
sekelilingnya, kritis dan memiliki rasa ingin yang sangat besar” (Renzuli,
1979, Fahrle dkk.; 1985, Galagher, 1985, Maker; 1982) dalam Dedi Supriadi
(1992; 9).
D.
8
Ciri Keberbakatan Kecerdasan Majemuk
1. Kecerdasan Linguistik
Kecerdasan linguistik merupakan
kecerdasan seseorang dalam menggunakan kata secara efektif untuk mengungkapkan
idea atau gagasan. Ciri-ciri anak cerdas dalam bidang linguistik memiliki
karakteristik awal, seperti suka menulis kreatif di rumah; mengarang kisah
khayal atau menuturkan lelucon dan cerita; sangat hafal nama, tempat, tanggal,
atau hal-hal kecil; menikmati membaca buku di waktu senggang; maupun mengeja
kata-kata dengan tepat dan mudah.
2. Kecerdasan Logika Matematika
Kecerdasan logika matematika pada dasarnya berhubungan
dengan kemampuan logika seseorang untuk menyelesaikan masalah. Sehingga hal ini
tidak hanya dapat dilihat dari kemampuan matematika saja. Namun, kecerdasan
logika matematika dapat dilihat pada anak dalam menyelesaikan permainan puzzle,
pemahaman irama dalama sajak dan lagu, ataupun ketertarikan anak pada bentuk
ruang.
3. Kecerdasan Visual-Spasial
Kecerdasan visual-spasial merupakan kecerdasan dalam
memvisualisasikan grafik atau ide spasial ke dalam diri secara tepat. Hal ini
dapat dilihat dengan ciri-ciri anak yang peka terhadap perubahan interior rumah
atau mengagumi aneka mesin dan peralatan aneh.
4. Kecerdasan Gerak Tubuh
Selanjutnya kecerdasan gerak tubuh berhubungan dengan
kemampuan kontrol gerakan, keseimbangan, ketangkasan dan keanggunan dalam
bergerak, dan mengeksplorasi dunia dengan otot-ototnya. Ciri-ciri anak cerdas
ini dapat dilihat dari kemampuan anak yang menonjol dalam bidang olahraga,
atletik, maupun ketertarikan mereka dalam mengeksplor hal-hal baru di luar
rumah.
5. Kecerdasan Musikal
Kecerdasan musikal seseorang berkaitan erat dengan nada dan
melodi dalam keseharian yang berperan penting dalam beriteraksi dengan budaya
dan sosial masyarakat. Seseorang dengan kecerdasan ini memiliki kekampuan lebih
dalam memainkan alat musik dan menciptakan lagu.
6. Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan interpersonal merupakan kecerdasan seseorang
dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Anak dengan kecerdasan
ini sejak awal akan menunjukkan kemampuannya dalam berteman dengan banyak teman
baru, menggunakan berbagai macam cara untuk berinteraksi saat bermain, dan
lain-lain.
7. Kecerdasan Intrapersonal
Kebalikan dari kecerdasan interpersonal, kecerdasan
intrapersonal merupakan kemampuan dalam memahami diri sendiri. Dengan memahami
diri maka seseorang tentu tahu apa yang ingin dilakukan dan degan cara apa
untuk mewujudkannya. Hal ini bukan sesuatu yang dimiliki secara instan, namun
memerlukan bimbingan orang tua dalam mengajarkan anak untuk menghargai diri
sendiri.
8. Kecerdasan Natural
Kecerdasan yang terakhir, yaitu kecerdasan naturalis yang
berhubungan dengan alam. Ciri-ciri anak cerdas dalam bidang naturalis biasanya
menyukai alam, mencintai lingkungan, dan menjaganya.
E.
Bentuk
Layanan Terhadap Anak Berbakat
1.
Kurikulum
Selain masalah kriteria dan prosedur
identifikasi, perhatian khusus kepada anak berbakat melibatkan beberapa dimensi
lain, seperti dikemukakan oleh Dedi Supriadi (1992; 11) yaitu; “Perancangan
kurikulum, penyediaan sarana pembelajarannya, model perllakuannya, kerjasama
dengan keluarga dan pihak luar, serta model bimbingan dan konselingnya”.
Kurikulum berdiferensiasi bagi anak berbakat mengacu pada penanjakan kehidupan
mental melalui berbagai program yang akan menumbuhkan kreativitasnya serta mencakup
berbagai pengalaman belajar intelektual pada tingkat tinggi. Dilihat dari
kebutuhan perkembangan anak berbakat, maka kurikulum berdiferensiasi
memperhatikan perbedaaan kualitatif individu berbakat dari manusia
lainnya.Dalam kurikulum berdeferensiasi terjadi penggemukan materi, artinya
materi kurikulum diperluas atau diperdalam tanpa menjadi lebih banyak.Secara
kualitatif materi pelajaran berubah daalam penggemukan beberapa konsep esensial
dari kurikulum umum sesuai dengan tuntutan bakat, perilaku, keterampilan dan
pengetahuan serta sifat luar biasa anak berbakat.
Dengan demikian, kurikulum
pendidikan seyogyanya bisa mengakomodasi dimensi vertikal maupun horisontal
pendidikan anak.Secara vertikal, anak-anak berbakat harus dimungkinkan untuk
menyelesaikannya pendidikannya lebih cepat.Secara horisontal, disediakan
program pengayaan (enrichment), dimana siswa berbakat dimungkinkan untuk
menerima materi tambahan, baik dengan tugas-tugas maupun sumber-sumber belajar
tambahan, baik dengan tugas-tugas maupun sumber-sumber belajar tambahan.
2.
Model
Pembelajaran
Untuk layanan pendidikan terhadap
anak berbakat ini ada beberapa model yang dapat digunakan, yaitu; pengayaan,
percepatan, dan segregasi. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Philip E.
Veron (1979; 142) sebagai berikut; “Acceleration,segregation, and enrichment”.
Sedangkan David G. Amstrong and Tom V. Savage(19883; 327) mengemukakan dua
model, yaitu; “Enrichment and acceleration”.
Penjelasan dari model-model di atas adalah sebagai berikut :
a.
Pengayaan
(enrichment)
Dalam model enrichment ini anak mendapatkan pembelajaran
tambahan sebagai pengayaan.Pengayaan ini dapat dilakukan melalui dua cara,
yaitu sebagaiberikut :
Ø Secara vertikal
Cara
ini untuk memperdalam salah satu atau sekelompok mata pelajarantertentu.Anak
diberi kesempatan untuk aktif memperdalam ilmuPengetahuan yang disenangi,
sehingga menguasai materi pelajaran secaraluas dan mendalam.
Ø Secara horizontal
Anak
diberi kesempatan untuk memperluas pengetahuan dengan tambahanatau pengayaan
yang berhubungan dengan pelajaran yang sedang dipelajari.
b.
Percepatan
(scceleration)
Secara konvensional bagi anak yang memiliki kemampuan
superiordipromosikan untuk naik kelas lebih awal dari biasanya. Dalam
percepatan iniada beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu sebagai berikut :
Ø Masuk sekolah lebih awal/sebelum
waktunya (early admission), misalnyasebelum usia 6 tahun, dengan catatan bahwa
anak sudah matang untukmasuk Sekolah Dasar.
Ø Loncat kelas (grade skipping) atau
skipping class, misalnya karena kemampuannya luar biasa pada salah satu kelas,
maka langsung dinaikkan ke kelas yang lebih tinggi satu tingkat (dari kelas
satu langsung ke kelastiga).
Ø Penambahan pelajaran dari tingkatan
di atasnya, sehingga dapatmenyelesaikan materi pelajaran lebih awal.
Ø Maju berkelanjutan tanpa adanya
tingkatan kelas. Dalam hal ini sekolahtidak mengenal tingkatan, tetapi
menggunakan sistem kredit. Ini berarti anakberbakat dapat maju terus sesuai
dengan kemampuannya tanpa menungguteman-teman yang lainnya.
c.
Segregasi
Anak-anak berbakat dikelompokkan ke
dalam satu kelompok yang disebut “ability grouping” dan diberi kesempatan untuk
memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan potensinya. Mengenai sistem
penyelenggaraan pendidikan, selain yang telah dikemukakan di atas, ada beberapa
sistem dalam pendidikan bagi anak berbajat, yaitu; (1) Sekolah khusus, (2)
Kelas khusus, dan (Terintegrasi dalam kelas regular atau normal dengan
perlakukan khusus.
Model pertama dan ke dua
nampaknyabanyak mengundang kritik, karena cenderung eksklusif dan elit,
sehingga bias menimbulkan kecemburuan sosial. Kedua sistem ini hanya bisa
dilakukan untuk bidang-bidang tertenu saja.Model yang kini populer adalah
sistem dimana anak-anak berbakat diintegrasikan dalam kelas reguler atau
normal.Cara ini mempunyai banyak keuntungan bagi perkembangan psikologis dan
sosial anak. Hal yang menyulitkan adalah bagaimanakah perhatian diberikan
secara berbeda melalui apa yang disebut “pengajaran yang diindividualisasikan”,
yaitu settingnya kelas tetapi perhatian diberikan kepada individu anak.
Konsekwensinya perlu kurikulum yang fleksibel, yaitu kurikulum yang
berdiferensiasi, yang bisa mengakomodasi anak-anak biasa dan anak berbakat.
Pada dasarnya penyelenggaraan
pendidikan anak berbakat menyangkut bagaimana anak-anak diperlakukan di sekolah
melalui sistem pengelompokkan.Sistem pengelompokkan bermacam-macam, tetapi
intinya ada dua, yaitu pengelompokkan homogen dan heterogen.Dasar
pengelompokkan bisa berupa jenis kelamin, tingkat kemampuan belajar, atau minat-minat
khusus pada mata pelajaran tertentu.
Fahrle, Duffi dan Schulz (1985)
dalam DediSupriadi (1992; 23) mengemukakan bahwa program pendidikan untuk
anak-anak berbakat harus memberikan kepada anak-anak dua macam pengalaman yang
bernilai sosial.Pertama mereka harus memiliki kesempatan untuk bergaul secara
luas dan wajar dengan teman-teman sebayanya.Kedua program pendidikan untuk
anak-anak berbakat harus menyediakan peluang kepada peserta didik untuk secara
intelektual tumbuh bersama rekan-rekan sebayanya.
Sistem manapun yang dipilih,
penyelenggara harus tetap berpegang pada prinsip bahwa pendidikan itu tidak
boleh mengorbankan fungsi sosialisasi nilai-nilai budaya (toleransi,
solidaritas, kerja sama) kepada anak. Program pendidikan untuk anak-anak
berbakat tidak identik dengan perlakuan yang eksklusif dan elitis, melainkan
semata-mata supaya untuk memberikan peluang kepada anak didik untuk berkembang
sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Dalam layanan pendidikan bagi anak
berbakat, khususnya pada jenjang sekolah dasar di Indonesia saat ini adalah
sistem yang terpadu, yakni anak-anak berbakat masuk ke sekolah yang samaadian
mereka diperlakukan dengan system pengajaran yang dindividualisasikan, yakni
sistem yang memberikan perhatiansecara individual kepada setiap siswa dalam
kelas biasa. Dengan demikian yang diperlukan dalam layan pendidikan bagi anak
berbakat khususnya pada sekolah dasar, bukanlah sekolah, kelas, ataupun
kurikulum khusus, melainkan modifikasi kurikulum dan sarana pendukungnya agar
sesuai dengan kebutuhan anak-anak berbakat.
3.
Model
Penilaian
Pada bagian bagian identiffikasi
telah dikemukakan trntsng penilsisn snsk berbakat, pada bagian ini akan
dikemukakan alat dan aspek penilaian. Proses penilaian pada anak berbakat
sebetulnya tidak berbeda dari penilaian pada umumnya, namun karena pada cakupan
kurikulum berbeda, maka akan berbeda dalam penerapan penilaian.
Penerapan penilaian mencakup
ciri-ciri belajar yang berkenaan dengan tingkat berfikir tinggi.Biasanya anak
berbakat sering mampu menilai hasil kinerjanya sendiri secara kritis. Selain
itu setiap anak tersebut harus memperoleh umpan balik tentang hasil kinerjanya
secara terbuka (Conny Semiawan; 1994; 273).
Biasanya penilaian yang menunjuk
pada suatu asesmen dilakukan oleh guru yang bukan saja mengenal muridnya,
melainkan juga melatih, mendidik dan mengamatinya sehari-hari. Asesmen ini
adalah langkah dalam proses penyerahan dan penempatan tertentu dan merupakan
rangkaian upaya perolehan informasi dan bukan semata-mata hasil proses
tersebut.
Tujuan pengukuran pada dasarnya
berbeda-beda, bila hendakmembandingkan anak tertentu, maka gunakan pengukuran
acuan norma dengan :
Ø Membandingkan anak berbakat dengan
seluruh populasi.
Ø Membandingkan anak berbakat dengan
teman sebaya.
Ø Membandingkan anak berbakat dengan
populasi anak berbakat lagi.
Ø Membandingkan anak berbakat dengan
dirinya sendiri.
4.
Guru
Anak Berbakat
Untuk menangani anak berbakat di
Sekolah Dasar, tentunya membutuhkan guru-guru yang memiliki kemampuan yang
khusus. Dalam hal ini David G. Armstrong And Tom V. Savage (1983; 334) mengutip
pendapat James O. Schnur (1980) sebagai berikut; “most descriptions of capable
teachers of the gifted and talnted”. Deskripsi kemampuan guru yang dimaksud
adalah sebagai berikut :
Ø Memiliki kematangan dan keamanan.
Ø Memiliki kreativitas dan
fleksibilitas.
Ø Memiliki kemampuan
mengindividualisasikan materi pelajaran.
Ø Memiliki kedalaman pemahaman
terhadap pengajar.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat
disimpulkan bahwa identifikasi anak berbakat adalah suatu proses mengenali
anak-anak yang memiliki kemampuan motivasi, konsep diri, dan potensi
kreativitas berada jauh di atas rata-rata sehingga harus di perlukan layanan
kurikulum yang berdiferesiansi agar mereka dapat berkembang secara penuh
seperti potensi yang dimiliki.
Identifikasi dini terhadap anak yang
berbakat perlu di laksanakan baik oleh orang tua, guru dan orang disekitarnya.
Itu merupakan langkah yang strategis karena dengan data yang bukan hanya
sekedar informasi guru nantinya akan dapat melayani kebutuhan anak yang pada
dasarnya memang memiliki kemampuan yang berbeda- beda. Dengan data ini guru
akan dapat mencapai tujuan pembelajaran, melakukan analisis intruksional,
menyusun strategi pembelajaran, memilih media yang akan dipakai, dan merancang
evaluasi yang tepat dengan langkah yang mantap.
DAFTAR PUSTAKA
Munandar,S.C.U.Pemanduan Anak Berbakat: Suatu Studi
Penjajakan.(Jakarta: C.V.Rajawali, 1982)
Semiawan,Conny,
et.al. ,Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah, Petunjuk bagi
Guru dan Orang Tua.(Jakarta: Gramedia, 1984)
Sobur
Alex.Psikologi Umum.(Bandung: Pustaka
Setia, 2003) Anak Masa Depan.(Bandung:
Angkasa, 1991)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar