Jumat, 06 Mei 2016

PAB



ANAK BERBAKAT
Makalah ini Disusun guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Anak Berbakat


Dosen Pengampu:
Uswatun Hasanah,M.Psi

logo iait.jpeg





Disusun Oleh:
Nadya Khussotu Birliana
2013.06.0.0087

PRODI PSIKOLOGI ISLAH
FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM TRIBAKTI (IAIT)
KEDIRI
2015-2016


KATA PENGANTAR


Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini telah disusun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar serta terima kasih kepada Ibu Uswatun Hasanah,M.Psi yang telah memberikan banyak ilmunya kepada kami teman-teman yang selalu memberikan dukungan.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar dapat memperbaiki makalah ke depannya.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.






Kediri, 05 April 2016

   
Penyusun






BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Setiap anak memilki anugrah tersendiri yang diberikan dari sang maha pencipta kepadanya melalui berbagai cara salah satunya adalah sperti anak yang berbakat. Anugrah yang diberikan bukan hanya saja berupa keblebihan namun erkadang kekuranganpun termasuk anugrah dari tuhan yang diberikan kepada umatnya. Setiap kelebihan dan kekurangan pada manusia pada dasarnya harus di syukuri dan cara yang mensyukuri yang paling baik adalah dengan mengembangkan kekurangan menjadi suatu kelebihan dan menjadikan kelebihan sebagai sebagai perantara untuk membantu orang lain dalam hal kebaikan.
Dalam makalah ini akan dibahasa bagaimana cara menangani anak yang berbakat, oleh karena itu mengapa anak berbakat masuk kedalam kategori anak berkebutuhan khusus karena pada dasarnya anak berbakat itu anak yang memilki perbedaan dengan anak yang lainnya sehingga perlu mendapatkan penanganan atau wadah untuk menampung anak berbakat tersebut.
Isu menarik berkaitan dengan layanan pendidikan bagi anak berbakat (gifted) yang dalam bahasa undang – undang disebut dengan peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa atau lebih popular di masyarakat dengan cerdas istimewa (CI) dan bakat istimewa (BI) adalah adanya beragam motivasi dan implementasinya.
Dalam perspektif global, penyelenggaraan program akselerasi memberikan nilai positif, karena tidak dapat dipungkiri bahwa tantangan global dan persaingan antar bangsa dalam berbagai aspek kehidupan semakin nyata. Sehingga dengan penyelengaraan program akselerasi diharapkan lahir sumber daya manusia unggul yang dapat bersaing dalam lingkup nasional dan global.





B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari anak berbakat?
2.      Bagaimana ciri-ciri anak berbakat?
3.      Bagaimana klasifikasi anak berbakat?
4.      Sebutkan ciri keberbakatan kecerdasan majemuk?
5.      Bagaimana cara penanganan anak berbakat?

C.    Tujuan
1.      Mengetahui definisi atau pengertian dari anak berbakat
2.      Mengetahui ciri-ciri anak berbakat
3.      Mengetahui bagaimana klasifikasi dari anak bernakat
4.      Mengetahui ciri keberbakatan kecerdasan majemuk
5.      Mengatahui bagaimana cara penanganan anak berbakat



















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Anak Berbakat
Pengertian berbakat di Amerika Serikat pada dasarnya dikaitkan dengan skor tes inteligensia Stanford Binet yang dikembangkan oleh Terman setelah Perang Dunia I. Dalam hasil tesnya itu, anak-anak yang memiliki skor IQ 130 atau 140 dinyatakan sebagai anak berbakat (Kirk  &  Gallagher, 1979:6). Sekitar tahun 1950 pengertian tersebut mulai berkembang ketika para pendidik di Amerika Serikat berusaha memberikan  pengertian yang lebih luas tentang anak berbakat.
Pada waktu itu yang dimaksud dengan anak berbakat (gifted dan talented) ialah mereka yang menunjukkan secara konsisten penampilan luar biasa hebat dalam suatu bidang yang berfaedah (Henry, seperti dikutip oleh Kirk dan Gallagher, 1979:61). Adapun definisi yang digunakan dalam Public Law 97-135 yang disahkan oleh Kongres Amerika Serikat pada tahun 1981, yang dimaksud dengan anak berbakat (gifted and talented) ialah berikut ini.
Anak yang menunjukkan kemampuan/penampilan yang tinggi dalam bidang-bidang, seperti intelektual, kreatif, seni, kapasitas kepemimpinan atau bidang-bidang, akademik khusus, dan yang memerlukan pelayanan-pelayanan atau aktivitas-aktivitas yang tidak biasa disediakan oleh sekolah agar tiap kemampuan berkembang secara penuh (Clark, 1983:5).
Banyak istilah keberbakatan (anak berbakat) yang digunakan dalam psikologi seperti gifted, talented, genius dan prodigy ternyata tidak memiliki satu definisi atau batasan yang sama, hanya saja memiliki pengertian yang saling melengkapi antara satu istilah dengan istilah lainnya.
Istilah gifted ditujukan untuk orang, anak didik atau siswa yang memiliki kemampuan akademis (secara umum) yang tinggi, yang ditandai dengan didapatkannya skor IQ yang tinggi pada pengerjaan tes kecerdasan/intelegensi, sedangkan talented adalah kebalikannya, ditujukan untuk orang yang memiliki kemampuan unggul dalam bidang akademis yang khusus (seperti matematika, bahasa), juga bidang seni, musik, dan drama.
Jadi kalau gifted itu ditujukan untuk kemampuan akademis secara umum, sedangkan talented ditujukan untuk dua kemampuan unggul:
Ø  Bidang akademis khusus.
Ø  Bidang non-akademis
Bakat (aptitude) biasanya diartikan sebagai kemampuan bawaan yang merupakan potensi (potential ability) yang masih perlu dikembangkan atau dilatih agar dapat terwujud. Dalam referensi lain dijelaskan bahwa bakat ialah kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan atau keterampilan, yang relatif bisa bersifat umum (minsalnya, bakat intelektual umum) atau khusus (bakat akademis khusus), maka bakat khusus disebut juga talent.
Contoh orang yang talented bisa diwakili oleh Bung Karno yang sangat jago dalam berpidato dan jago menguasai massa. Presiden Soekarno (EYD: Sukarno) dapat berpidato berjam-jam tanpa jeda dan tanpa teks, dan anehnya pendengarnya tidak jenuh-jenuh dan tetap serius mendengarkan beliau. Mengenai betapa berbakatnya Bung Karno dalam kemampuan berpidato dan mempersuasi massa dapat dibaca pada artikel Keajaiban-keajaiban Pidato Bung Karno.
B.     Ciri-ciri Anak Berbakat
1.      Renzulli dan kawan – kawan (1981), dari hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa yang menentukan bakat seseorang pada pokoknya merujuk pada tiga kelompok ciri-ciri, yakni:
a.       Kemampuan di atas rata – rata
Kemampuan di atas rata – rata tidak berarti bahwa kemampuan itu harus unggul. Yang pokok ialah kemampuan itu harus cukup diimbangi oleh kreativitas dan tanggung jawab terhadap tugas. Selain itu, yang dimaksud dengan kemampuan umum ialah suatu bidang – bidang kemampuan umum yang biasanya diukur dengan tes intelegensi, tes prestasi (achievement test), tes bakat (aptitude test), atau tes kemampuan mental.
b.      Kreativitas
Kreativitas ialah kemampuan untuk memberikan gagasan – gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Kreativitas ciri – ciri aptitude seperti kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan keaslian (orisinalitas) dalam pemikiran maupun ciri – ciri (non-aptitude) seperti; rasa ingin tahu, senang mengajukan pertanyaan, dan selalu ingin mencari pengalaman baru.
c.       Tanggung jawab atau pengikatan diri terhadap tugas
Tanggung jawab atau pengikatan diri terhadap tugas menunjuk pada semangat dan motivasi untuk mengerjakan dan menyelesaikan suatu tugas, suatu pengikatan diri dari dalam. Jadi, bukan tanggung jawab yang diterima dari luar.
2.      R.A. Martison dalam bukunya The Identification of the Gifted and Talented (1974), merinci anak-anak berbakat sebagai berikut:
a.       Membaca pada usia yang relatif lebih muda.
b.      Membaca lebih cepat dan lebih banyak.
c.       Memiliki perbendaharaan kata yang luas.
d.      Memiliki rasa ingin tahu yang kuat.
e.       Mempunyai minat yang luas, juga pada persoalan “dewasa”.
f.       Mempunyai inisiatif, dapat bekerja sendiri.
g.      Menunjukkan keaslian (orisinalitas) dalam ungkapan verbal.
h.      Memberikan berbagai jawaban yang baik.
i.        Bisa membeikan banyak gagasan.
j.        Luwes dalam berfikir,
k.      Terbuka untuk ransangan-ransangan dari lingkungan.
l.        Memiliki pengalaman yang tajam.
m.    Bisa berkonsentrasi untuk waktu yang lebih panjang, terutama terhadap tugas atau bidang yang diminati.
n.      Berfikir kritis, juga terhadap diri sendiri.
o.      Senang mencoba hal-hal baru.
p.      Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sisntesis yang tinggi.
q.      Sedang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah.
r.        Cepat mendapat hubungan hubungan-hubungan (sebab akibat).
s.       Berperilaku terarah pada tujuan.
t.        Mempunyai daya imajinasi yang kuat.
u.      Mempunyai banyak kegemaran (hobi).
v.      Memiliki daya ingat yang kuat.
w.    Tidak cepat puas dengan prestasinya.
x.      Sensitif dan mengunakan intuisi (firasat).
y.      Mengingatkan kebebasan dalam gerakkan dan tindakkan.
C.    Klasifikasi Anak Berbakat
Berikut adalah klasifikasi anak berbakat :
1.      Genius
Genius ialah anak yang memiliki kecerdasan luar biasa, sehingga dapatmenciptakan sesuatu yang sangat tinggi nilainya.Intelligence Quotien-nya (IQ) berkisar antara 140 sampai 200.Anak genius memiliki sifat-sifat positif sebagai berikut; daya abstraksinya baik sekali, mempunyai banyak ide, sangat kritis, sangat kreatif, suka menganalisis, dan sebagainya. Di samping memiliki sifat-sifat positif juga memiliki sifat negatif, diantaranya; cenderung hanya mementingkan dirinya sendiri (egois), temperamennya tinggi sehingga cepat bereaksi (emosional), tidak mudah bergaul, senang menyendiri karena sibuk melakukan penelitian, dan tidak mudah menerima pendapat orang lain.
2.      Gifted
Anak ini disebut juga gifted and talented adalah anak yang tingkatkecerdasannya (IQ) antara 125 sampai dengan 140. Di samping memiliki IQ tinggi, juga bakatnya yang sangat menonjol, seperti ; bakat seni musik, drama, dan ahli dalam memimpin masyarakat. Anak gifted diantaranya memiliki karakteristik; mempunyai perhatian terhadap sains, serba ingin tahu, imajinasinya kuat, senang membaca, dan senang akan koleksi.
3.      Superior
Anak superior tingkat kecerdasannya berkisar antara 110 sampai dengan 125sehingga prestasi belajarnya cukup tinggi.Anak superior memiliki karakteristik sebagai berikut; dapat berbicara lebih dini, dapat membaca lebih awal, dapat mengerjakan pekerjaan sekolah dengan mudah dan dapat perhatian dari temantemannya.James H. Bryan and Tanis H. Bryan (1979; 302) mengemukakan bahwa karakteristik anak berbakat itu (gifted) meliputi; physical, personal, and social characteristics. Sedangkan David G. Amstrogn and Tom V. Savage (1983; 327) mengemukakan; “Gifted and talented students are individuals who arecharacteristized by a blaned of (1) high intelligence, (2) high task comitment, and (3) high creativity. Secara umum hampir semua pendapat itu sama, bahwa anak berbakat memiliki kemampuan yang tinggi jika dibandingkan dengan anak-anak pada umumnya.
Hasil studi lain menemukan bahwa “Anak-anak berbakat memiliki karakteristik belajar yang berbeda dengan anak-anak normal. Mereka cenderung memiliki kelebihan menonjol dalam kosa kata dan menggunakannya secara luwes, memiliki informasi yang kaya, cepat dalam menguasai bahan pelajaran, cepat dalam memahami hubungan antar fakta, mudah memahami dalil-dalil dan formulaformula, tajam kemampuan analisisnya, membaca banyak bahan bacaan (gemar membaca), peka terhadap situasi yang terjadi di sekelilingnya, kritis dan memiliki rasa ingin yang sangat besar” (Renzuli, 1979, Fahrle dkk.; 1985, Galagher, 1985, Maker; 1982) dalam Dedi Supriadi (1992; 9).
D.    8 Ciri Keberbakatan Kecerdasan Majemuk
1.      Kecerdasan Linguistik
Kecerdasan linguistik merupakan kecerdasan seseorang dalam menggunakan kata secara efektif untuk mengungkapkan idea atau gagasan. Ciri-ciri anak cerdas dalam bidang linguistik memiliki karakteristik awal, seperti suka menulis kreatif di rumah; mengarang kisah khayal atau menuturkan lelucon dan cerita; sangat hafal nama, tempat, tanggal, atau hal-hal kecil; menikmati membaca buku di waktu senggang; maupun mengeja kata-kata dengan tepat dan mudah.
2.      Kecerdasan Logika Matematika
Kecerdasan logika matematika pada dasarnya berhubungan dengan kemampuan logika seseorang untuk menyelesaikan masalah. Sehingga hal ini tidak hanya dapat dilihat dari kemampuan matematika saja. Namun, kecerdasan logika matematika dapat dilihat pada anak dalam menyelesaikan permainan puzzle, pemahaman irama dalama sajak dan lagu, ataupun ketertarikan anak pada bentuk ruang.

3.      Kecerdasan Visual-Spasial
Kecerdasan visual-spasial merupakan kecerdasan dalam memvisualisasikan grafik atau ide spasial ke dalam diri secara tepat. Hal ini dapat dilihat dengan ciri-ciri anak yang peka terhadap perubahan interior rumah atau mengagumi aneka mesin dan peralatan aneh.
4.      Kecerdasan Gerak Tubuh
Selanjutnya kecerdasan gerak tubuh berhubungan dengan kemampuan kontrol gerakan, keseimbangan, ketangkasan dan keanggunan dalam bergerak, dan mengeksplorasi dunia dengan otot-ototnya. Ciri-ciri anak cerdas ini dapat dilihat dari kemampuan anak yang menonjol dalam bidang olahraga, atletik, maupun ketertarikan mereka dalam mengeksplor hal-hal baru di luar rumah.
5.      Kecerdasan Musikal
Kecerdasan musikal seseorang berkaitan erat dengan nada dan melodi dalam keseharian yang berperan penting dalam beriteraksi dengan budaya dan sosial masyarakat. Seseorang dengan kecerdasan ini memiliki kekampuan lebih dalam memainkan alat musik dan menciptakan lagu.
6.      Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan interpersonal merupakan kecerdasan seseorang dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Anak dengan kecerdasan ini sejak awal akan menunjukkan kemampuannya dalam berteman dengan banyak teman baru, menggunakan berbagai macam cara untuk berinteraksi saat bermain, dan lain-lain.
7.      Kecerdasan Intrapersonal
Kebalikan dari kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal merupakan kemampuan dalam memahami diri sendiri. Dengan memahami diri maka seseorang tentu tahu apa yang ingin dilakukan dan degan cara apa untuk mewujudkannya. Hal ini bukan sesuatu yang dimiliki secara instan, namun memerlukan bimbingan orang tua dalam mengajarkan anak untuk menghargai diri sendiri.
8.      Kecerdasan Natural
Kecerdasan yang terakhir, yaitu kecerdasan naturalis yang berhubungan dengan alam. Ciri-ciri anak cerdas dalam bidang naturalis biasanya menyukai alam, mencintai lingkungan, dan menjaganya.
E.     Bentuk Layanan Terhadap Anak Berbakat
1.      Kurikulum
Selain masalah kriteria dan prosedur identifikasi, perhatian khusus kepada anak berbakat melibatkan beberapa dimensi lain, seperti dikemukakan oleh Dedi Supriadi (1992; 11) yaitu; “Perancangan kurikulum, penyediaan sarana pembelajarannya, model perllakuannya, kerjasama dengan keluarga dan pihak luar, serta model bimbingan dan konselingnya”. Kurikulum berdiferensiasi bagi anak berbakat mengacu pada penanjakan kehidupan mental melalui berbagai program yang akan menumbuhkan kreativitasnya serta mencakup berbagai pengalaman belajar intelektual pada tingkat tinggi. Dilihat dari kebutuhan perkembangan anak berbakat, maka kurikulum berdiferensiasi memperhatikan perbedaaan kualitatif individu berbakat dari manusia lainnya.Dalam kurikulum berdeferensiasi terjadi penggemukan materi, artinya materi kurikulum diperluas atau diperdalam tanpa menjadi lebih banyak.Secara kualitatif materi pelajaran berubah daalam penggemukan beberapa konsep esensial dari kurikulum umum sesuai dengan tuntutan bakat, perilaku, keterampilan dan pengetahuan serta sifat luar biasa anak berbakat.
Dengan demikian, kurikulum pendidikan seyogyanya bisa mengakomodasi dimensi vertikal maupun horisontal pendidikan anak.Secara vertikal, anak-anak berbakat harus dimungkinkan untuk menyelesaikannya pendidikannya lebih cepat.Secara horisontal, disediakan program pengayaan (enrichment), dimana siswa berbakat dimungkinkan untuk menerima materi tambahan, baik dengan tugas-tugas maupun sumber-sumber belajar tambahan, baik dengan tugas-tugas maupun sumber-sumber belajar tambahan.
2.      Model Pembelajaran
Untuk layanan pendidikan terhadap anak berbakat ini ada beberapa model yang dapat digunakan, yaitu; pengayaan, percepatan, dan segregasi. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Philip E. Veron (1979; 142) sebagai berikut; “Acceleration,segregation, and enrichment”. Sedangkan David G. Amstrong and Tom V. Savage(19883; 327) mengemukakan dua model, yaitu; “Enrichment and acceleration”.
Penjelasan dari model-model di atas adalah sebagai berikut :
a.       Pengayaan (enrichment)
Dalam model enrichment ini anak mendapatkan pembelajaran tambahan sebagai pengayaan.Pengayaan ini dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu sebagaiberikut :
Ø  Secara vertikal
Cara ini untuk memperdalam salah satu atau sekelompok mata pelajarantertentu.Anak diberi kesempatan untuk aktif memperdalam ilmuPengetahuan yang disenangi, sehingga menguasai materi pelajaran secaraluas dan mendalam.
Ø  Secara horizontal
Anak diberi kesempatan untuk memperluas pengetahuan dengan tambahanatau pengayaan yang berhubungan dengan pelajaran yang sedang dipelajari.
b.      Percepatan (scceleration)
Secara konvensional bagi anak yang memiliki kemampuan superiordipromosikan untuk naik kelas lebih awal dari biasanya. Dalam percepatan iniada beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu sebagai berikut :
Ø    Masuk sekolah lebih awal/sebelum waktunya (early admission), misalnyasebelum usia 6 tahun, dengan catatan bahwa anak sudah matang untukmasuk Sekolah Dasar.
Ø    Loncat kelas (grade skipping) atau skipping class, misalnya karena kemampuannya luar biasa pada salah satu kelas, maka langsung dinaikkan ke kelas yang lebih tinggi satu tingkat (dari kelas satu langsung ke kelastiga).
Ø    Penambahan pelajaran dari tingkatan di atasnya, sehingga dapatmenyelesaikan materi pelajaran lebih awal.
Ø    Maju berkelanjutan tanpa adanya tingkatan kelas. Dalam hal ini sekolahtidak mengenal tingkatan, tetapi menggunakan sistem kredit. Ini berarti anakberbakat dapat maju terus sesuai dengan kemampuannya tanpa menungguteman-teman yang lainnya.
c.       Segregasi
Anak-anak berbakat dikelompokkan ke dalam satu kelompok yang disebut “ability grouping” dan diberi kesempatan untuk memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan potensinya. Mengenai sistem penyelenggaraan pendidikan, selain yang telah dikemukakan di atas, ada beberapa sistem dalam pendidikan bagi anak berbajat, yaitu; (1) Sekolah khusus, (2) Kelas khusus, dan (Terintegrasi dalam kelas regular atau normal dengan perlakukan khusus.
Model pertama dan ke dua nampaknyabanyak mengundang kritik, karena cenderung eksklusif dan elit, sehingga bias menimbulkan kecemburuan sosial. Kedua sistem ini hanya bisa dilakukan untuk bidang-bidang tertenu saja.Model yang kini populer adalah sistem dimana anak-anak berbakat diintegrasikan dalam kelas reguler atau normal.Cara ini mempunyai banyak keuntungan bagi perkembangan psikologis dan sosial anak. Hal yang menyulitkan adalah bagaimanakah perhatian diberikan secara berbeda melalui apa yang disebut “pengajaran yang diindividualisasikan”, yaitu settingnya kelas tetapi perhatian diberikan kepada individu anak. Konsekwensinya perlu kurikulum yang fleksibel, yaitu kurikulum yang berdiferensiasi, yang bisa mengakomodasi anak-anak biasa dan anak berbakat.
Pada dasarnya penyelenggaraan pendidikan anak berbakat menyangkut bagaimana anak-anak diperlakukan di sekolah melalui sistem pengelompokkan.Sistem pengelompokkan bermacam-macam, tetapi intinya ada dua, yaitu pengelompokkan homogen dan heterogen.Dasar pengelompokkan bisa berupa jenis kelamin, tingkat kemampuan belajar, atau minat-minat khusus pada mata pelajaran tertentu.
Fahrle, Duffi dan Schulz (1985) dalam DediSupriadi (1992; 23) mengemukakan bahwa program pendidikan untuk anak-anak berbakat harus memberikan kepada anak-anak dua macam pengalaman yang bernilai sosial.Pertama mereka harus memiliki kesempatan untuk bergaul secara luas dan wajar dengan teman-teman sebayanya.Kedua program pendidikan untuk anak-anak berbakat harus menyediakan peluang kepada peserta didik untuk secara intelektual tumbuh bersama rekan-rekan sebayanya.
Sistem manapun yang dipilih, penyelenggara harus tetap berpegang pada prinsip bahwa pendidikan itu tidak boleh mengorbankan fungsi sosialisasi nilai-nilai budaya (toleransi, solidaritas, kerja sama) kepada anak. Program pendidikan untuk anak-anak berbakat tidak identik dengan perlakuan yang eksklusif dan elitis, melainkan semata-mata supaya untuk memberikan peluang kepada anak didik untuk berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Dalam layanan pendidikan bagi anak berbakat, khususnya pada jenjang sekolah dasar di Indonesia saat ini adalah sistem yang terpadu, yakni anak-anak berbakat masuk ke sekolah yang samaadian mereka diperlakukan dengan system pengajaran yang dindividualisasikan, yakni sistem yang memberikan perhatiansecara individual kepada setiap siswa dalam kelas biasa. Dengan demikian yang diperlukan dalam layan pendidikan bagi anak berbakat khususnya pada sekolah dasar, bukanlah sekolah, kelas, ataupun kurikulum khusus, melainkan modifikasi kurikulum dan sarana pendukungnya agar sesuai dengan kebutuhan anak-anak berbakat.

3.      Model Penilaian
Pada bagian bagian identiffikasi telah dikemukakan trntsng penilsisn snsk berbakat, pada bagian ini akan dikemukakan alat dan aspek penilaian. Proses penilaian pada anak berbakat sebetulnya tidak berbeda dari penilaian pada umumnya, namun karena pada cakupan kurikulum berbeda, maka akan berbeda dalam penerapan penilaian.
Penerapan penilaian mencakup ciri-ciri belajar yang berkenaan dengan tingkat berfikir tinggi.Biasanya anak berbakat sering mampu menilai hasil kinerjanya sendiri secara kritis. Selain itu setiap anak tersebut harus memperoleh umpan balik tentang hasil kinerjanya secara terbuka (Conny Semiawan; 1994; 273).
Biasanya penilaian yang menunjuk pada suatu asesmen dilakukan oleh guru yang bukan saja mengenal muridnya, melainkan juga melatih, mendidik dan mengamatinya sehari-hari. Asesmen ini adalah langkah dalam proses penyerahan dan penempatan tertentu dan merupakan rangkaian upaya perolehan informasi dan bukan semata-mata hasil proses tersebut.
Tujuan pengukuran pada dasarnya berbeda-beda, bila hendakmembandingkan anak tertentu, maka gunakan pengukuran acuan norma dengan :
Ø  Membandingkan anak berbakat dengan seluruh populasi.
Ø  Membandingkan anak berbakat dengan teman sebaya.
Ø  Membandingkan anak berbakat dengan populasi anak berbakat lagi.
Ø  Membandingkan anak berbakat dengan dirinya sendiri.

4.      Guru Anak Berbakat
Untuk menangani anak berbakat di Sekolah Dasar, tentunya membutuhkan guru-guru yang memiliki kemampuan yang khusus. Dalam hal ini David G. Armstrong And Tom V. Savage (1983; 334) mengutip pendapat James O. Schnur (1980) sebagai berikut; “most descriptions of capable teachers of the gifted and talnted”. Deskripsi kemampuan guru yang dimaksud adalah sebagai berikut :
Ø  Memiliki kematangan dan keamanan.
Ø  Memiliki kreativitas dan fleksibilitas.
Ø  Memiliki kemampuan mengindividualisasikan materi pelajaran.
Ø  Memiliki kedalaman pemahaman terhadap pengajar.













BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa identifikasi anak berbakat adalah suatu proses mengenali anak-anak yang memiliki kemampuan motivasi, konsep diri, dan potensi kreativitas berada jauh di atas rata-rata sehingga harus di perlukan layanan kurikulum yang berdiferesiansi agar mereka dapat berkembang secara penuh seperti potensi yang dimiliki.
Identifikasi dini terhadap anak yang berbakat perlu di laksanakan baik oleh orang tua, guru dan orang disekitarnya. Itu merupakan langkah yang strategis karena dengan data yang bukan hanya sekedar informasi guru nantinya akan dapat melayani kebutuhan anak yang pada dasarnya memang memiliki kemampuan yang berbeda- beda. Dengan data ini guru akan dapat mencapai tujuan pembelajaran, melakukan analisis intruksional, menyusun strategi pembelajaran, memilih media yang akan dipakai, dan merancang evaluasi yang tepat dengan langkah yang mantap.















DAFTAR PUSTAKA

Munandar,S.C.U.Pemanduan Anak Berbakat: Suatu Studi Penjajakan.(Jakarta: C.V.Rajawali, 1982)
Semiawan,Conny, et.al. ,Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah, Petunjuk bagi Guru dan Orang Tua.(Jakarta: Gramedia, 1984)
Sobur Alex.Psikologi Umum.(Bandung: Pustaka Setia, 2003) Anak Masa Depan.(Bandung: Angkasa, 1991)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SKRIPSI Hubungan Kemandirian dengan Penyesuaian DIri pada Mahasiswa Perantau di Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri BAB I PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang Masalah Sering kita temui mahasiswa yang meninggalkan tanah kelahirannya hanya untuk mencari ilmu. Pelajar ya...