Jumat, 06 Mei 2016

Proposal



KEMANDIRIAN PELAJAR/MAHASISWA PERANTAU YANG BERKAITAN DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL DI LINGKUNGAN YANG BARU
 
A.      LATAR BELAKANG
Sering kita temui pelajar yang meninggalkan tanah kelahirannya hanya untuk mencari ilmu. Pelajar yang rela meninggalkan orang tua, kerabat, saudara, sahabat, dan segalanya yang ada di daerah mereka.Terutama pelajar yang meninggalkan daerahnya dan hanya kembali ke rumah jika tugas mereka telah usai.Seperti halnya pelajar yang tinggal di rumah temannya, bertempat tinggal di kos-kosan atau mungkin tinggal di pesantren, pelajar seperti mereka patut di beri acungkan jempol. Merelakan jiwa dan raganya untuk mencari ilmu di kota orang.
Kemandirian belajar adalah Sikap mandiri seseorang tidak terbentuk dengan cara yang mendadak, namun melalui proses sejak masa anak-anak. Dalam perilaku mandiri antara tiap individu tidak sama, kondisi ini dipengaruhi oleh banyak hal. Hal yang mempengaruhi atau faktor penyebab sikap mandiri seseorang itu dibagi menjadi dua, yaitu faktor dari dalam individu dan faktor dari luar individu.
Penelitian Independen adalah proses, metode dan filsafat pendidikan dimana peserta didik memperoleh pengetahuan dengan upaya nya sendiri dan mengembangkan kemampuan untuk penyelidikan dan evaluasi kritis.(Permen, 1991).
Hofstede (1980) menggunakan istilah individualisme dan kolektivisme untuk menggambarkan hubungan antara individu dan kelompok mereka mengidentifikasi diri mereka dengan (Greenfield, Trumbull, Keller, Rothstein-Fisch, Suzuki, Quiroz, 2006).
Kemerdekaan tidak adanya bimbingan, tetapi hasil dari proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk mendapatkan kebutuhan yang cukup untuk merencanaan dan tindakan wawasan.(Knight, 1996).[1]
Menurut Steinberg (2002), kemandirian didefinisikan sebagai kemampuan individu dalam bertingkah laku, merasakan sesuatu, dan mengambil keputusan berdasar kehendaknya sendiri. Peningkatan tanggung jawab, kemandirian, dan menurunnya tingkat ketergantungan remaja terhadap orang tua, adalah perkembangan yang harus dipenuhi individu pada periode remaja akhir.
Menurut Calhoun dan Acocella (Wijaya, 2007) penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dilingkungannya. Dan proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan sekitar tempat individu hidup.
Sedangkan menurut Gerungan (Amar, 2009) menjelaskan bahwa menyesuaikan diri itu diartikan dalam artian yang luas, dan dapat berarti mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan) diri
Kemandirian subyek itu di karenakan subyek memiliki tuntutan dari dirinya sendiri untuk jadi anak yang tidak tergantungan dengan orang lain dan karena subyek tidak terlalu suka dengan keadaan yang rame, mayoritas teman subyek jika ada perkumpulan isinya adalah ghibah (ghosip) dan subyek merasa jika semua itu hal yang tidak penting dan membuang-buang waktu.
Penyesuaian subyek dengan sosial, lingkungan, teman, dll lumayan bagus. Subyek selalu tersenyum sehingga banyak yang senang berteman dengan subyek. Kebanyakan teman subyek ingin jadi anak yang yang mandiri sehingga kemandirian subyek dapat member jalan pada teman untuk belajar mandiri dan subyek merasa sangat senang.
Alasan peneliti mengambil tema kemandirian yang digabungkan dengan penyesuaian sosial  adalah karena berdasarkan pengamatan peneliti yang melihat banyaknya anak yang mandiri dan penyesuaian sosialnya peneliti ambil dari anak Pondak Pesantren Putri Lirboyo Al-Mahrusiyah yang merantau dan rela meninggalkan segalanya dari tanah kelahiran.


B.       RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimana kemandirian subjek?
2.    Bagaimana penyesuaian sosial subjek?
3.    Bagaimana hub antara kemandirian belajar dengan penyesuaian sosial?

C.      TUJUAN PEMBAHASAN
1.    Untuk mengetahui kemandirian subjek
2.    Untuk mengetahui penyesuaian sosial pada subjek
3.    Untuk mengetahui hubungan antara kemandirian belajar dengan penyesuaian sosial

D.  MANFAAT PEMBAHASAN
1.    Manfaat Teoritis
a.    Menambah keilmuan bidang kemandirian.
b.    Menambah wawasan dalam penyesuain sosial.
2.    Manfaat Praktis
a.    Untuk acuan menjadi pelajar atau mahasiswa yang dapat mengembangkan kemandiriannya.
b.    Memudahkan pelajar atau mahasiswa dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.
c.    Dapat dijadikan motivasi untuk menjadi anak mandiri dan dapat berbaur dengan lingkungan dengan baik.

E.  HIPOTESIS PENELITIAN
Hipotesis alternatif (Ha).
Adanya hubungan antara kemandirian belajar dengan penyesuaian sosial subjek.Hubungan ini pun di dukung dengan teori Musdalifah (2007) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian salah satunya adalah penyesuaian diri.
Pada proses pendewasaan dalam mencapai kesuksesan, mahasiswa perantau dihadapkan pada berbagai perubahan dan perbedaan diberbagai aspek kehidupan yang membutuhkan kepercayaan diri, mandiri serta banyak penyesuaian (Chandra, 2004).
Beberapa alasan mahasiswa merantau adalah untuk mencari pendidikan yang lebih baik, bebas kendali dari orang tua, ingin merasakan sesuatu yang baru di daerah yang baru,mengetahui dan mengenal adat dan budaya daerah lain, ingin menyesuaikan diridengan lingkungan yang baru serta ingin melatih diri agar lebih mandiri. Seiringdengan kemajuan jaman dan kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi anak-anak, maka orang tua mereka memperbolehkan anak-anaknya untuk merantau agar memiliki kehidupan yang lebih baik dari sekarang (Irene, 2013).
Fenomena mahasiswa perantau umumnya bertujuan untuk meraih kesuksesan melalui kualitas pendidikan yang lebih baik pada bidang yang diinginkan.Fenomena ini juga dianggap sebagai usaha pembuktian kualitas diri sebagai orang dewasa yang mandiri dan bertanggung jawab dalam membuat keputusan (Santrock, 2002).
Ada hu

F.       DEFINISI OPERASIONAL
Dalam proposal ini membahas mengenai kemandirian belajar serta penyesuaian sosial pelajar yang jauh dari orang tua atau meninggalkan tanah kelahirannya.
Ciri-ciri Kemandirian belajar subyek Di pondok
1.         Subyek selalu berusaha semampunya subyek karena harus bisa sendiri.
2.         Subyek jarang sekali meminta bantuan teman jika tidak terpaksa.
3.         Jika mendapat masalah, subjek tidak menceritakan pada siapapun.
Menurut Masrun (Patriana, 2007), kemandirian adalah suatu sikap yang memungkinkan seseorang untuk berbuat bebas, melakukan sesuatu atas dorongan diri sendiri untuk kebutuhan sendiri, mengejar prestasi, penuh ketekunan, serta berkeinginan untuk melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain, mampu berpikir dan bertindak original, kreatif dan penuh inisiatif, mampu memengaruhi lingkungannya, mempunyai rasa percaya diri terhadap kemampuan diri sendiri, menghargai keadaan diri sendiri, dan memperoleh kepuasan dari usahanya.

G.    KAJIAN TEORI
1.      Kemandirian belajar
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia mandiri adalah ”berdiri sendiri”. Kemandirianbelajar adalah belajar mandiri, tidak menggantungkan diri kepada orang lain, siswa dituntut untuk memiliki keaktifan dan inisiatif sendiri dalam belajar, bersikap, berbangsa maupun bernegara (Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, 1990:13).
Menurut Stephen Brookfield (2000:130-133) mengemukakan bahwa kemandirian belajar merupakan kesadaran diri, digerakkan oleh diri sendiri, kemampuan belajar untuk mencapai tujuannya. Desi Susilawati, (2009:7-8) mendiskripsikan kemandirian belajar sebagai berikut:
1.      Siswa berusaha untuk meningkatkan tanggung jawab dalam mengambil berbagai keputusan.
2.      Kemandirian dipandang sebagai suatu sifat yang sudah ada pada setiap  orang dan situasi pembelajaran.
3.      Kemandirian bukan berarti memisahkan diri dari orang lain.
4.      Pembelajaran mandiri dapat mentransfer hasil belajarnya yang berupa  pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai situasi.
5.      Siswa yang belajar mandiri dapat melibatkan berbagai sumber daya dan  aktivitas seperti membaca sendiri, belajar kelompok, latihan dan  kegiatan korespondensi.
6.      Peran efektif guru dalam belajar mandiri masih dimungkinkan seperti berdialog dengan siswa, mencari sumber, mengevaluasi hasil dan mengembangkan berfikir kritis.
7.      Beberapa institusi pendidikan menemukan cara untuk mengembangkan belajar mandiri melalui program pembelajaran terbuka.

Ciri-ciri Kemandirian menurut Steinberg (Chandra, 2004), yang berkaitan dengan kemandirian pelajar/mahasiswa yang merantau yaitu, tanggung jawab terhadap tugas untuk menyelesaikan sesuatu dan diminta pertanggung jawaban atas hasil kerjanya.
Independensi adalah suatu kondisi dimana seseorang tidak tergantung kepada otoritas dan tidak membutuhkan arahan. Independensi juga mencakup ide adanya kemampuan mengurus diri sendiri dan menyelesaikan masalah diri sendiri, otonomi dan kebebasan untuk menentukan keputusan sendiri. Kemampuan menentukan arah sendiri (self-determination) berarti mampu mengendalikan atau mempengaruhi apa yang akan terjadi pada dirinya.
Calhoun dan Acocella (Wijaya, 2007) menambahkan salah satu ciri-ciri dari penyesuaian diri yaitu memiliki persepsi yang akurat pada realita, mampu beradaptasi dengan tekanan atau stress dan kecemasan, memiliki gambaran diri yang positif tentang dirinya, mampu mengekspresikan perasaan dengan tepat, mampu menjalin relasi interpersonal dengan baik, mengatur ritme hidup, mengelola diri dengan perubahan yang terjadi.

H.    METODE PENELITIAN
Metode penelitian merupakan suatu cara yang dilakukan untuk mmenentukan/menggali sesuatu yang telah ada untuk kemudian diuji kebenarannya yang mungkin masih diragukan.[2]
1.      Rencana Penelitian
Penelitian ini di rencanakan menggunakan metode kuantitatif yang mana di hitung dengan menggunakan perhitungan statistik dan SPSS.
2.      Populasi dan Sampel Penelitian.
Populasi penelitiannya adalah siswi kelas X.
Sample penelitiannya di Pondok Pesantren Putri Lirboyo Al-Mahrusiyah.
3.      Teknik pengambilan sample menggunakan Simple random sampling, yang mana pemilihan dilakukan dengan cara acak, di mana daftar nama responden dilakukan pengundian untuk terpilih
4.      Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian menggunakan angket ,perangkat tes, pedoman wawancara, pedoman observasi, skala, kamera dan sebaginya.
Menurut Suharmi Arikunto (2006:149) ada beberapa instrument yang namanya sama dengan metodenya,antara lain adalah:
a)      Instrument untuk metode tes adalah tes atau soal tes
b)      Instrument untuk metode angaket atau kuesioner adalah angket atau kuesioner
c)      Instrument untuk metode observasi adalah chek-list
d)     Instrument untuk metode observasi adalah pedoman observasi atau dapat juga chek-list
Aspek-aspek kemandirian menurut (Steinberg, 2002) kemandirian merupakan bagian dari pencapaian otonomi diri pada remaja. Untuk mencapai kemandirian pada remaja melibatkan tiga aspek yaitu:
a)      Aspek emotional autonomy, yaitu aspek kemandirian yang berkaitan dengan perubahan hubungan individu, terutama dengan orangtua. Individu mampu melepaskan ketergantungannya dengan orang tua dan dapat memenuhi kebutuhan kasih sayangnya tanpa adanya andil dari orang tua.
b)      Aspek behavioral autonomy, yaitu kemampuan untuk membuat suatu keputusan sendiri dan menjalankan keputusan tersebut. Individu tersebut mampu menjalankan kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkah laku pribadinya masing-masing.
c)      Aspek value autonomy, yaitu memiliki seperangkat prinsip-prinsip tentang mana yang benar dan mana yang salah, mengenai mana yang penting dan mana yang tidak penting. Individu dapat melakukan hal-hal sesuai dengan pendiriannya dan sesuai denganpenilaiannya tentang perilaku tersebut
Skor dalam setiap item berkisar dari 4 sampai 1, diberikan untuk item yang bersifat favourabel, sedangkan untuk item yang unfavourabel bergerak dari 1 sampai 4 (sugiyono, 2013). Beberapa pernyataan
Aspek 1:
a)      Jika anda mendapat tugas, maka segera anda kerjakan (fav)
b)      Jika dosen memberi tugas, anda langsung menghubungi kakak untuk membantu mengerjakan (unfav)
c)      Anda akan selalu berusaha sendiri sebisa mungkin (fav)
d)     Waktu anda hanya bisa di kerjakan dengan teman (unfav)

Aspek 2:
a)      meskipun anda mandiri tapi kebersamaan dengan teman tetap terjaga. (fav)
b)      anda akan lebih senang sendiri dari pada dengan teman-teman.(unfav)
c)      Anda mengerjakan terlebih dahulu baru jika adateman yang tanya anda akan membantunya. (fav)
d)     Jika ada waktu luang anda akan ngobrol sampai lupa waktu. (unfav)

Kartono (2008) menyatakan bahwa penyesuaian diri dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungan, sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, prasangka, depresi, kemarahan dan emosi negatif yang lain sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis. Maka dari itu penyesuaian diri merupakan proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah tingkah laku individu agar dari perubahan tingkah laku tersebut dapat terjadi hubungan yang lebih sesuai antara individu dan lingkungannya.

Aspek-aspek Penyesuaian Diri Menurut Runyon dan Haber (Irene, 2013)menyebutkan bahwa penyesuaian diri yang dilakukan individu memiliki lima aspek sebagai berikut:
a)      Persepsi yang akurat terhadap realita.
Individu tersebut mengubah persepsinya tentang kenyataan hidup dan kemudian menginterpretasikannya,sehingga individumampu menentukan tujuan yangrealistik sesuai dengan kemampuannya serta mampu mengenali konsekuensi dan tindakannya agar dapat menuntun pada perilaku yang sesuai.
b)      Kemampuan untuk mengatasi stress dan kecemasan.
Mempunyai kemampuan mengatasi stres dan kecemasan berarti individu mampu mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam hidup dan mampu menerima kegagalan yang dialami
c)      Self-image positif
Penilaian diri yang kita lakukan harus bersifat positif dan negatif. Kita tidak boleh terjebak pada satu penilaian saja terutama penilaian yang tidak diinginkan, kita harus berusaha memodifikasi penilaian positif dan negatif tersebut menjadi suatu perubahan yang lebih luas dan lebih baik. Individu seharusnya mengakui kelemahan dan kelebihannya, jika seseorang mengetahui dan memahami dirinya denga cara yang realistik, dia akan mampu mengembangkan potensi, sumber-sumber dirinya secara penuh.
d)     Kemampuan untuk mengungkapkan perasaan
Individu mampu mengekspresikan keseluruhan emosi secara realistik dan tetap berada di bawah kontrol. Masalah-masalah dalam pengungkapan perasaan seperti kurang kontrol atau adanya kontrol yang berlebihan. Kontrol yang berlebihan dapat menyebabkan dampak yang negatif, sedangkan kurangnya kontrol akan menyebabkan emosi yang berlebihan.
e)      Hubungan interpersonal yang baik
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Sejak kita berada dalam kandungan, kita selalu tergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti kebutuhan fisik, sosial dan emosi. Individu yang dapat menyesuaikan diri dengan baik mampu menciptakan suatu hubungan yang saling menguntungkan satu sama lain

5.      Teknik Pengumpulan Data
a)      Teknik Wawancara
Wawancara dilakukan pada siswi kelas X MA HM Al-Mahrusiyah

b)      Teknik Observasi
Kegiatan sehari-hari subyek di Pondok Pesantren Putri  Al-Mahrusiyah      

6.      Analisis Data
Analisis data adalah upaya atau cara untuk mengolah data menjadi informasi sehingga karakteristik data tersebut bisa dipahami dan bermanfaat untuk solusi permasalahan, tertutama masalah yang berkaitan dengan penelitian.
Adapun langkah-langkah dalam analisis data, yang diantaranya sebagai berikut ini:
a)       Tahap pengumpulan data.
b)       Tahap editing. Pada tahap ini yaitu memeriksa kejelasan maupun kelengkapan mengenai pengisian instrumen pengumpulan data.
c)       Tahap koding. Maksudnya pada tahap ini melakukan proses identifikasi dan proses klasifikasi dari tiap-tiap pernyataan yang terdapat pada instrumen pengumpulan data berdasarkan variabel yang sedang diteliti.
d)       Tahap tabulasi. Melakukan kegiatan mencatat ataupun entri data kedalam tebel-tabel induk dalam penelitian.
e)       Tahap pengujian. Pada tahapan ini data akan diuji kualitasnya yaitu menguji validitas maupun realiabilitas instrumen dari pengumpulan data.
f)        Tahap mendeskripsikan data. Menyajikan dalam bentuk tabel frekuensi ataupun diagram dan dalam berbagai macam ukuran tendensi sentral maupun ukuran dispersi. Dengan tujuan untuk memahami karakteristik data sampel dari penelitian tersebut.
g)       Tahap pengujian hipotesis. Tahap ini merupakan tahapan pengujian terhadap proposisi apakah ditolak atau bisa diterima dan memiliki makna atau tidak, atas dasar hipotesis inilah nantinya keputusan akan dibuat..
Teknik analisis data dalam penelitian ada 2 (dua) jenis, yang diantaranya sebagai berikut ini:
a)      Teknik analisis data secara deskriptif.
Teknik analisis data deskriptif merupakan tekhnik analisis yang dipakai untuk menganalisis data dengan mendeskripsikan atau menggambarkan data-data yang sudah dikumpulkan seadanya tanpa ada maksud membuat generalisasi dari hasil penelitian.Yang termasuk dalam teknik analisis data statistik deskriptif diantaranya seperti penyajian data kedalam bentuk grafik, tabel, presentase, frekwensi, diagram, grafik, mean, modus dll. Itulah penjelasan mengenai tekhnik analisis data deskriptif.

b)      Teknik analisis data secara inferensial.
Teknik analisis data inferensia merupakan statistik yang dipakai untuk melakukan analisis data dengan cara membuat kesimpulan yang berlaku secara umum. Ciri dari analisi data inferensial yaitu digunakanya rumus statistik tertentu, lalu hasil perhitungan yang sudah dilakukan itulah yang nantinya akan menjadi dasar dari pembuatan generalisasi yang berasal dari samber bagi populasi. Dengan begitu statistik inferensial mempunyai fungsi untuk mengeneralisasikan hasil dari penelitian sampel untuk populasi, sesuai dengan fungsi itulah maka statistik inferensial sangat berguna untuk penelitian sampel.Itulah penjelasan mengenai tekhnik analisis data inferensial.
Korelasi adalah istilah statistik yang menyatakan derajat hubungan linier (searah bukan timbal balik) antara dua variabel atau lebih. Penelitian ini menggunakan korelasi Product Moment Pearson, yakni Kedua variabelnya berskala interval yang bertujuan :
a)      Untuk menyatakan ada atau tidaknya hubungan antara variabel X dengan variabel Y
b)      Untuk menyatakan besarnya sumbangan variabel satu terhadap yang lainnya yang dinyatakan dalam persen.
I.       SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika merupakan suatu penjabaran secara deskriptif tentang hal-hal yang akan ditulis, yang secara garis besar terdiri dari bagian awal, bagian isi dan bagian akhir.[3].
Sistematika penulisan skripsi model penelitian kuantitatif yang akan saya kerjakan bahwasannya.
A.    BAB I PENDAHULUAN
a.       Latar belakang masalah
b.      Identifikasi masalah
c.       Pembatasan dan perumusan masalah
d.      Tujuan dan signifikasi penelitian
e.       Sistematika penulisan
B.     BAB II LANDASAN TEORI PENELITIAN
a.       Deskripsi teori
b.      Kerangka berfikir
c.       Hipotesis.
C.     BAB III KERANGKA METODOLOGIS
a.       Metode penelitian
b.      Populasi, sampel dan teknik penarikan sampel
c.       Instrumentasi penelitian
d.      Teknik pengumpulan data
e.       Teknik analisis data
D.    BAB IV HASIL PENELITIAN
a.       Deskripsi daerah/institusi
b.      Deskripsi karakteristik responden
c.       Penyajian analisis data
d.      Interpretasi hasil penelitian.
E.     BAB V PENUTUP
a.       Kesimpulan
b.      Rekomendasi


International Journal of Scientific Research in Education, Desember 2012, Vol. 5 (4), 287-291.Konsep budaya Belajar dan Pengembangan Waitshega Tefo MOCHAMA KENYA Moalosii Departemen Yayasan PendidikanUniversity of Botswana
Jurnal hubungan antara kemandirian dengan penyesuaian diripada mahasiswa baru yang merantau di kota malang
Jurnal hubungan antara kemandirian dengan penyesuaian diri pada mahasiswa yang merantau fakultas teknik industri universitas bina darma angkatan 2014/2015 palembang
Jurnal Zimmer-Gembeck
Musdalifah. (2007). Psikologi Remaja (Perkembangan Peserta Didik), Jakarta: Rineka Cipta
Irene. (2013).Perbedaan Tingkat Kemandirian dan Penyesuaian Diri Mahasiswa Perantauan Suku Batak Ditinjau Dari Jenis Kelamin.Jurnal Psikologi.Vol. 01. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya
Steinberg.(2002). Psikologi umum. Bandung : Tarsito
Sugiyono. (2013). Metodelogi Penelitian. Bandung: Penerbit : CV. Alfa Beta
Kartono, K. (2008). Bimbingan Anak dan Remaja yang Bermasalah. Jakarta: Rajawali Pers.
Santrock, J. W. (2002). Life Span Development. Dallas: Brown And Bench Mark Inc
Wijaya, N. (2007). Hubungan Antara Keyakinan Diri Akademik Dengan Penyesuaian Diri Siswa Tahun Pertama Sekolah Asrama SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan. Skripsi. Semarang: Universitas Diponegoro.
Patriana, P. (2007). Hubungan Antara Kemandirian Dengan Motivasi Bekerja Sebagai Pengajar Les Privat Pada Mahasiswa Di Semarang. Skripsi. Semarang:Universitas Diponegoro
Firman. (2009). Hubungan antara penyesuaian diri dengan kemandirian :Bineka cipta


[1] Knight, 1996, hal.35

[2] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis (Jakarta:Rineka Cipta, 1997), h. 102.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SKRIPSI Hubungan Kemandirian dengan Penyesuaian DIri pada Mahasiswa Perantau di Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri BAB I PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang Masalah Sering kita temui mahasiswa yang meninggalkan tanah kelahirannya hanya untuk mencari ilmu. Pelajar ya...