A. Latar Belakang Masalah
Sering kita temui mahasiswa yang meninggalkan tanah
kelahirannya hanya untuk mencari ilmu. Pelajar yang rela meninggalkan orang
tua, kerabat, saudara, sahabat, dan segalanya yang ada di daerah mereka. Terutama mahasiswa yang
meninggalkan daerahnya dan hanya kembali ke rumah jika tugas mereka telah usai.
Seperti halnya mahasiswa yang tinggal di kos-kosan atau mungkin tinggal di
pesantren, mahasiswa seperti mereka patut di beri acungan jempol karena merelakan
jiwa dan raganya untuk mencari ilmu di kota orang.
Sebagian mahasiswa yang berasal dari
luar kota biasanya memilih untuk memiliki tempat tinggal sementara dekat
perguruan tinggi tempat mereka mengenyam pendidikan dengan tujuan mempermudah
mobilitas selama masa belajar. Mereka ada yang mengontrak rumah, tinggal di
asrama milik universitas, dan juga dapat memilih untuk tinggal di tempat kost.[1]
Orang yang dapat menyesuaikan diri
dengan baik mempelajari berbagai keterampilan sosial seperti kemampuan untuk
menjalin hubungan secara diplomatis dengan orang lain baik teman maupun orang
yang tidak kenal sehingga sikap orang lain terhadap mereka menyenangkan.[2]
Menurut Havighurst perkembangan
sosial yang harus dicapai pada masa remaja[3]
yaitu:
1. Mencapai hubungan sosial yang lebih matang dengan teman-teman
sebayanya baik dengan teman sejenis maupun dengan teman lawan jenisnya.artinya
para remaja menjadi manusia dewasa diantara orang-orang dewasa.mereka dapat
bekerjasama dengan orang lain dengan tujuan bersama, dapat menahan dan
mengendalikan perasaan-perasaan peribadi dan belajar memimpin orang lain dengan
atau tanpa dominasi.
2. Dapat menjalankan peranan sosial menurut jenis kelamin
masing-masing.artinya mempelajari dan menerima peranan masing-masing sesuai
dengan ketentuan dan norma masyarakat.
3. Memperlihatkan tingkah laku yang secara sosial dapat
dipertanggungjawabkan artinya ikut serta dalam kegiatan-kegiatan sosial sebagai
orang dewasa, menghormati serta mentaati nilai-nilai sosial yang berlaku di
masyarakat.
Kemandirian itu tumbuh atas tuntutan yang harus di
lakukan dalam penyesuaian diri karena keberadaannya di lingkungan yang baru
serta keadaan yang berbeda dari lingkungan tanah kelahirannya.
Kemandirian dan penyesuaian diri
padamahasiswa awal tahun perkuliahan memang perludibicarakan karena mahasiswa
awal tahun perkuliahanberarti sedang berada pada masa transisi dan
penyesuaiandiri dengan lingkungan akademis yang baru. Mahasiswaawal tahun dalam
perkuliahan ini dituntut untuk mandiridan memiliki kemampuan menghadapi perubahanstruktur
kehidupan sosial, maupun akademisnya. Setiapmahasiswa tingkat awal, terutama
yang jauh dari orangtua, harus memiliki tingkat kemandirian yang lebihdaripada
mahasiswa yang tinggal bersama orang tua.[4]
Menurut Esther (2009) Pada umumnya
mahasiswa yang merantau dihadapkan pada masalah-masalah seperti mengurus
keperluan sehari-hari seorang diri, bertemu dengan teman-teman baru yang
berbeda latar belakang dan usia di tempat tinggal mereka , maupun di dalam
perkuliahan, menghadapi situasi perkuliahan yang berbeda dengan bangku SMA,
sampai masalah mengatasi rasa rindu pada orang tua di rumah.[5]
Alasan peneliti mengambil tema kemandirian yang
digabungkan dengan penyesuaian sosial
adalah karena berdasarkan pengamatan peneliti tentang banyaknya
mahasiswa Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri yang kemandirian dan penyesuaian sosialnya berhubungan.
Dalam penelitian ini peneliti mengambil sampel
mahasiswa Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri yang berdomosili di
pondok pesantren dan di kost yang notabenenya mereka adalah mahasiswa yang
merantau dan rela meninggalkan segalanya dari tanah kelahiran.
Selain itu, peneliti juga akan memaparkan tentang
hubungan serta perbedaan antara kemandirian dan penyesuaian diri mahasiswa
perantau yang berdomisili di pondok pesantren serta kemandirian dan penyesuaian
diri mahasiswa yang domisilinya berada di kost.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana kemandirian mahasiswa
perantau di pondok dan di kost?
2. Bagaimana penyesuaian diri
mahasiswa perantau di pondok dan di kost?
3. Bagaimana hubungan antara kemandirian dengan penyesuaian diri mahasiswa
perantau di pondok dan di kost ?
C.
Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui kemandirian mahasiswa perantau di pondok dan di kost
2. Untuk mengetahui penyesuaian diri pada mahasiswa perantau di pondok
dan di kost
3. Untuk mengetahui hubungan antara kemandirian
dengan penyesuaian diri mahasiswa perantau di pondok dan di kost
D.
Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Menambah keilmuan bidang
kemandirian, terutama untuk meningkatkan kemandirian mahasiswa perantau di
Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri.
b. Menambah wawasan dalam penyesuain
diri di bidang akademik serta lingkungan tempat tinggal mahasiswa perantau.
2. Manfaat Praktis
a. Untuk acuan menjadi mahasiswa
yang dapat mengembangkan kemandiriannya.
b. Memudahkan mahasiswa dalam
menyesuaikan diri.
c. Dapat dijadikan motivasi untuk
menjadi anak mandiri dan dapat berbaur dengan baik.
E.
Hipotesis Penelitian
Hipotesis Penelitian
merupakan jawaban sementara atas masalah penelitian yang secara teoritis dianggap
paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya.[6]
Hipotesis alternatif (Ha).
Adanya
hubungan antara kemandirian dengan penyesuaian diri mahasiswa perantau baik yang berdomisili di pondok maupun
yang di kost.
Anggraini
(2013), menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif yang berarti antara
kemandirian dan penyesuaian diri pada mahasiswa baru yang merantau untuk
berkuliah di Malang.[7]
Menurut
Crededan Niehorster, faktor yangmempengaruhi penyesuaian diri terhadapperguruan
tinggi adalah self-efficacy. Hal initerlihat dari hasil penelitiannya
yangmenunjukkan bahwa penyesuaian diri terhadapperguruan tinggimempunyai
hubungan yangpositif terhadap self-efficacy pada mahasiswa danterlihat juga
bahwa hubungan tersebut tergolongdalam kategori kuat.Dalam penelitian
yangdilakukan oleh Elias, dkk jugamenunjukkan bahwa mahasiswa yang
mempunyaiself-efficacy yang kuat cenderung mempunyaipenyusuaian diri yang bagus
di lingkunganperguruan tinggi.[8]Dalam
masa transisi sebagai mahasiswa baru, seseorang secara tidak langsung melakukan
penyesuaian diri di perguruan tinggi.[9]
Beberapa alasan
mahasiswa perantau adalah untuk mencari pendidikan yang lebih baik, ingin
merasakan sesuatu yang baru di daerah yang baru, terbebas dari orang tua, mengetahui
dan mengenal adat dan budaya daerah lain, ingin menyesuaikan diri dengan
lingkungan yang baru serta ingin melatih diri agar lebih mandiri.
F. Definisi Operasional
Definisi Operasional
adalah definisi yang didasari atas sifat-sifat sesuatu yang dapat diamati. Secara tidak langsung
definisi operasional itu akan menunjuk penggalian sebuah makna yang tersirat
dalam sebuah peristiwa, orang, benda, yang menjadi fokus penelitian.[10]
Definisi Operasional ini
membahas mengenai hubungan kemandirian dan penyesuaian diripada mahasiswa perantau di
Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri.
Adapun definisi
operasional yang akan dibuat adalah :
1.
Kemandirian mahasiswa menghadapi berbagai permasalahan di pondok ataupun di
kos baik dari tugas kampus maupun lingkungan sekitar tempat tinggal mahasiswa
perantau.
2.
Penyesuaian diri mahasiswa perantau di lingkungan tempat tinggalnya.
G. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan merupakan suatu penjabaran tentang
hal-hal yang akan ditulis, yang secara garis besar terdiri dari bagian awal,
bagian utama / inti dan bagian akhir.
Adapun sistematika penulisan yang penulis gunakan
adalah:
BAB I : Pendahuluan, yang berisi : a) Latar Belakang
Masalah, b) Rumusan Masalah, c) Tujuan Penelitian, d) Manfaat
Penelitian, e) Hipotesa Penelitian, f) Definisi Operasional, dan g)
Sistematika Penulisan.
BAB II : Kajian Teori, yang berisi teori untuk
memperkuat penelitian, tentang: a) kemandirian mahasiswa perantau, b) penyesuaian
diri, serta c) hubungan serta perbedaan
kemandirian dan penyesuaian diri antara yang berdomisili di pondok dan di kost.
BAB III : Metode Penelitian, yang berisi: a) Rancangan
Penelitian, b) Populasi dan Sampel, c) Instrumen Penelitian, d) Teknik Pengumpulan
Data, dan e) Teknik Analisis Data.
BAB IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan, yang berisi:
a) Hasil Penelitian dan b) Pembahasan Penelitian.
BAB V : Penutup yang berisi: a) Kesimpulan dan b)
Saran.
[1] Aryanti
Christin PhanggaYoku, “Hubungan Antara Kemandirian Dengan Penyesuaian Diri Pada
Mahasiswa Program Penelusuran Pengembangan Dan Potensi Putra Dan Putri Papua
(P5) Kabupaten Jayapura Di Kota Salatiga”, (Skripsi, Universitas Kristen Satya
Wacana Salatiga, Salatiga, 2016), h.6.
[2] Hurlock, Psikologi
Perkembangan; Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (Jakarta :
Erlangga. 1994, h. 287.
[3] Rifa’i, M.S, Psikologi
Perkembangan Remaja Dari Segi Kehidupan Sosial. (Jakarta : Bina
Aksara.1987), h. 23.
[4]Lidya
Irene Saulina Sitorus Hadi Warsito WS, “Perbedaan Tingkat Kemandirian dan
Penyesuaian Diri Mahasiswa Perantauan Suku Batak ditinjau dari Jenis Kelamin”,
Character, Volume 01, Nomor 02, (2013), h. 2
[5]Aryanti
Christin PhanggaYoku, “Hubungan Antara Kemandirian Dengan Penyesuaian Diri Pada
Mahasiswa Program Penelusuran Pengembangan Dan Potensi Putra Dan Putri Papua
(P5) Kabupaten Jayapura Di Kota Salatiga”, (Skripsi, Universitas Kristen Satya
Wacana Salatiga, Salatiga, 2016), h.1.
[6] Pedoman
Penulisan Skripsi (Kediri:IAIT Press Cetakan iv,2016),h. 6.
[7]Aryanti
Christin PhanggaYoku, “Hubungan Antara Kemandirian Dengan Penyesuaian Diri Pada
Mahasiswa Program Penelusuran Pengembangan Dan Potensi Putra Dan Putri Papua
(P5) Kabupaten Jayapura Di Kota Salatiga”, (Skripsi, Universitas Kristen Satya
Wacana Salatiga, Salatiga, 2016), h.3.
[8]M. Irfan,
dan Veronika Suprapti,“Hubungan Self-Efficacy Dengan Penyesuaian Diri Terhadap
Perguruan Tinggi Pada Mahasiswa Baru Fakultas Psikologi Universitas Airlangga”
Jurnal Psikologi Pendidikan Dan Perkembangan Volume 3, No. 3, (Desember 2014),
h. 176.
[9] Ibid., h. 173.
[10] Pedoman
Penulisan Skripsi (Kediri:IAIT Press Cetakan iv,2016),h. 25.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar