A.
Kemandirian
1.
Pengertian Kemandirian
Kemandirian
adalah hal atau keadaan dapat berdiri
sendiri tanpa bergantung pada orang lain[11]. Kemandirian
merupakan salah satu ciri kualitas hidup manusia yang memiliki peran penting
bagi kesuksesan hidup bangsa maupun individu.[12]
Individu yang memiliki kemandirian
akan lebih siap untuk menghadapi situasi,masalah maupun lingkungan baru karena
ia tidak bergantung pada orang lain, sehingga individu memiliki pengaturan
diri, atau kebebasan untuk memilih , menguasai dan menentukan dirinya sendiri,
hal ini akan mendukung proses penyesuaian diri pada mahasiswa yang merantau
yang bertempat tinggal di kost, kontrakkan maupun Asrama milik kampus, karena
dengan melalui pengaturan diri tersebut individu dapat menempatkan diri dengan
lebih baik atau tepat pada situasi dan lingkungan yang baru dibanding mereka
yang tidak memiliki kemandirian. Individu yang memiliki tingkat kemandirian
yang tinggi juga akan memiliki kemampuan penyesuaian diri yang baik terhadap
situasi dan kondisi tempat tinggal dan perkuliahan.
Kemampuan remaja untuk mengembangkan
kemandirian berkaitan dengan pengalaman mereka bersama keluarganya.[13]
Hubungan yang baik antara orang tua
(keluarga) dan remaja akan mendukung remaja untuk mandiri, sehingga perkembangan
kemandirian remaja tidak menghasilkan penolakan atas pengaruh orang tua, justru
remaja akan mencari masukan dari orang tua untuk untuk mengambil keputusan.
Perjuangan remaja meraih kemandirian dimata dirinya sendiri ataupun di mata
orang lain merupakan proses yang panjang dan terkesan sulit. Tiga kondisi utama
dalam perkembangan remaja dalam usahanya mencapai kemandirian, yaitu bebas
secara emosional, mampu mengambil keputusan sendiri, mampu menetapkan batasan-batasan,
nilai-nilai dan moral sendiri. Bagi seorang remaja, menjadi mandiri adalah salah
satu syarat untuk dapat disebut dewasa, dengandemikian remaja akan memperoleh
pengakuan dari lingkungannya.[14]
Menurut Nasution (2007) kemandirian dapat
dipengaruhi beberapa faktor antara lain:
a.
Faktor eksogen
Faktoreksogenmerupakan faktor yang
berasal dariluar yaitu yang berasal dari keluarga,sekolah, masyarakat dan
kelompokteman sebaya.
b.
Faktor endogen,
Faktorendogenmerupakan faktor yang
berasal daridalam individu yaitu faktor fisiologisdan faktor psikologis. Faktor
fisiologis diantaranya kondisi fisik sehat dan tidak sehat atau sempurna dan
tidak sempurna, sedangkan faktor psikologis meliputi: bakat, minat, motivasi,
IQ dan kepribadian.[15]
2.
Aspek-aspek
Kemandirian
Menurut
Masrun (1986), terdapat lima aspek penting dalam kemandirian[16],
yaitu:
a. Kebebasan
Bertindak
Ditunjukkan
dengan aktivitas sendiri yaitu tindakkan yang dilakukan atas kehendak sendiri
bukan karena orang lain, tidak tergantung pada orang lain.
b. Kemantapan
Diri
Ditunjukkan
dengan rasa percaya diri yang tinggi terhadao kemampuan diri sendiri, menerima
diri sendiri, serta memperoleh kepuasan dari usahanya sendiri.
c. Inisiatif
Memiliki
kreatifitas, mempunyai ide-ide atau gagasan sendiri, menyukai hal-hal baru,
suka mencoba dan tidak suka meniru orang lain.
d. Pengendalian
Diri
Ditunjukkan
dengan kemampuan mengendalikan emosi, mampu mengendalikan tindakkan, menyukai
penyelesaian masalah secara damai, berpikir dahulu sebelum bertindak dan
memiliki disiplin diri.
e. Progresif
dan Ulet
Ditunjukkan dengan adanya usaha
untuk mengejar prestasi, tidak mudah menyerah dalam menghadapi masalah, tekun
dalam usaha mengejar prestasi, mempunyai rencana dalam mewujudkan
harapan-harapannya, melakukan banyak cara untuk mencapai tujuan dengan
ketepatan tinggi dalam melaksanakan tugas, dan menyukai hal-hal yang menantang.
3.
Efek
dari Kemandirian
Menurut
Lindzey & Ritter, berpendapat bahwa individu yang mampu mandiri[17]
meliputi;
a.
Menunjukkan inisiatif dan berusaha untuk
mengejar prestasi
b.
Secara relatif jarang mencari pertolongan pada
orang lain
c.
Menunjukkan rasa percaya diri
d.
Mempunyai rasa ingin menonjol
Seiring
dengan pendapat dari ahli diatas, Antonius mengemukakan bahwa ciri-ciri
individu yang mandiri[18]
adalah sebagai berikut:
a.
Percaya diri
b.
Mampu bekerja sendiri
c.
Menguasai keahlian dan keterampilan yang sesuai
dengan kerjanya
d.
Menghargai waktu
e.
Tanggung jawab
a)
Kemandirian Mahasiswa perantau yang berdomisili di Pondok
Kemandirian merupakan salah satu ciri kualitas hidup manusia yang
memiliki peran penting bagi kesuksesan hidup bangsa maupun individu. Selain itu
individu yang memiliki kemandirian yang kuat akan mampu bertanggungjawab,
menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan, berani menghadapi masalah dan
resiko, dan tidak mudahterpengaruh atau tergantung pada orang lain[19]
b)
Kemandirian Mahasiswa perantau yang berada di Kost
Menurut Bhatia (1977), Kemandirianmerupakan perilaku yang
aktivitasnya diarahkan oleh diri sendiri, tidak mengharapkan pengarahan dari
orang lain dan bahkan mencoba memecahkan atau menyelesaikan masalahnya sendiri
tanpa meminta bantuan orang lain.[20]
Mandiri memiliki tujuan untuk menjadi seseorang yang
dapat mengatur diri sendiri, dapat mengambil inisiatif (menciptakan hal yang
baru), dan mengatasi permasalahan yang dihadapinya. Selain itu individu yang memiliki kemandirian yang kuat akan mampu
bertanggungjawab, menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan, berani
menghadapi masalah dan resiko, dan tidak mudah terpengaruh atau tergantung pada
orang lain[21]
B.
Penyesuaian Diri
1.
Pengertian Penyesuaian Diri
Menurut Calhoun dan Acocella, Penyesuaian diri dapat didefinisikan
sebagai interaksi yang kontinu dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan
dengan dunia/ lingkungan.[22]
Penyesuaian diri terhadap perguruan tinggi merupakan kesejahteraan
seorang mahasiswayang berhubungan dalam hal akademik, sosial, stabilitas emosi,
dan komitmen terhadap institusi atau perguruan tinggi.[23]
2. Aspek-Aspek Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri
memiliki beberapa aspek. Aspek-aspek penyesuaian diri terdiri dari penyesuain
diri negatif (abnormal) dan penyesuaian diri positif (normal). Penyesuaian diri yang normal dapat dilihat dari beberapa
aspek[24], yaitu:
a.
Mampu mengontrol emosionalitas yang berlebihan
Penyesuaian diri yang
normal dapat ditandai dengan tidak adanya emosi yang relatif berlebihan atau
tidak terdapat gangguan emosi yang merusak. Individu yang mampu menanggapi
situasi atau masalah yang dihadapinya dengan cara yang normal akan merasa
tenang dan tidak panik sehingga dapat menentukan penyelesaian masalah yang
dibebankan kepadanya.
b.
Mampu mengatasi mekanisme psikologis
Kejujuran dan
keterusterangan terhadap adanya masalah atau konflik yang dihadapi individu
akan lebih terlihat sebagai reaksi yang normal dari pada suatu reaksi yang
diikuti dengan mekanisme-mekanisme pertahanan diri seperti rasionalisasi,
proyeksi, atau kompensasi. Individu mampu menghadapi masalah dengan
pertimbangan yang rasional dan mengarah langsung kepada masalah.
c.
Mampu mengatasi perasaan frustrasi pribadi
Adanya perasaan
frustrasi akan membuat individu sulit atau bahkan tidak mungkin bereaksi secara
normal terhadap situasi atau masalah yang dihadapinya. Individu harus mampu menghadapi
masalah secara wajar, tidak menjadi cemas dan frustrasi.
d.
Kemampuan untuk belajar
Mampu untuk mempelajari
pengetahuan yang mendukung apa yang dihadapi sehingga pengetahuan yang
diperoleh dapat dipergunakan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi.
e.
Kemampuan memanfaatkan pengalaman
Adanya kemampuan
individu untuk belajar dan memanfaatkan pengalaman merupakan hal yang penting
bagi penyesuaian diri yang normal. Dalam menghadapi masalah, individu harus
mampu membandingkan pengalaman diri sendiri dengan pengalaman orang lain
sehingga pengalaman-pengalaman yang diperoleh dapat digunakan dalam mengatasi
permasalahan yang dihadapi.
f.
Memiliki sikap yang realistis dan obyektif
Karakteristik ini
berhubungan erat dengan orientasi seseorang terhadap realitas yang dihadapinya.
Individu mampu mengatasi masalah dengan segera, apa adanya dan tidak
ditunda-tunda.
3. Karakteristik Penyesuaian Diri
Harber dan Runyon (1984), menjelaskan lima karakteristik dari
penyesuaian diri yang efektif[25],yaitu:
a.
Persepsi yang akurat terhadap
kenyataan
Individu dikatakan memiliki persepsi yang tepat tentang
kenyataan jika individu dapat melihat kenyataan seperti layaknya kebanyak orang
mempersepsikan kenyataan tersebut. Selain itu, individu juga mampu menyusun
tujuan hidupnya secara realistis sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang
ada pada lingkungannya, serta secara aktif bergerak untuk mencapai tujuan
tersebut.
b.
Mampu mengatasi stress dan
kecemasan
Dalam hal individu harus belajar bahwa ia dihadapkan pada
tujuan yang membutuhkan proses dan waktu. Penundaan kepuasan dari kebutuhan ini
seringkali memunculkan rasa gelisah dan tekanan sehingga menimbulkan stress dan
perasaan tidak nyaman.
c. Citra diri yang positif
Individu dapat menyesuaikan dirinya dengan efektif apabila
mampu memandang dirinya dengan suatu cara yang positif. Dalam hal ini, individu
harus dapat menerima kekurangan dirinya sama seperti kelebihan yang dimilikinya
sehingga individu mengerti benar kapasitas dirinya dan kemudian dapat
mengembangkan, kelebihan-kelebihan yang dimilikinya tersebut.
d. Mampu mengekspresikan emosi
Orang yang sehat secara emosional adalah orang yang mampu
merasakan dan mengekspresikan seluruh spectrum dari emosi dan perasaannya.
Individu dapat menunjukkan emosinya secara realistis namun tetap terkendali.
e. Hubungan interpersonal yang baik
Orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik mampu untuk
mencapai tingkat keakraban (intimacy) yang tepat dalam hubungan sosial
mereka. Individu dapat berkompeten dan merasa nyaman dalam berinteraksi dengan
orang lain.
4. Faktor-faktor yang
mempengaruhi Penyesuaian Diri
Menurut Kehler (Rahmat, 2009) mengelompokkan faktor-faktor
yang mempengaruhi penyesuaian diri[26]
sebagai berikut:
a. Kondisi fisik
·
Pengaruh Pembawaan dan Keadaan
Jasmani
Pembawaan dan keadaan jasmani sangat berpengaruh terhadap proses
penyesuaian diri. Menurut Sunarto “struktur jasmani merupakan kondisi prima
bagi tingkah laku”.[27]
·
Kesehatan dan Penyakit Jasmani
Gangguan penyakit jasmaniah yang diderita oleh seseorang akan
menganggu proses penyesuaian diri. Hal ini disebabkan penyakitkronis yang dapat
menimbulkan kurangnya kepercayaan pada diri sendiri, ketergantungan dan
perasaan ingin dikasihi.
b. Kondisi Psikologis
·
Pengalaman
Pergaulan yang menyenangkan akan menimbulkan proses
penyesuaian diri yang baik, sebaliknya pergaulan yang buruk akan menimbulkan
penyesuaian diri yang negative karena pergaulan akan menjadi pengalaman yang
berarti bagi individu.
·
Belajar
Belajar merupakan sesuatu yang fundamental dalam proses
penyesuaian diri karena melalui proses belajar individu akan berkembang
pola-pola respon yang akan membentuk kepribadiannya. Sebagian besar respon dan
ciri-ciri kepribadian lebih banyak yang diperoleh secara genetik. Dalam proses
penyesuaian diri belajar merupakan proses modifikasi.
c. Kemandirian
Kemandirian
merupakan unsur penting dalam proses penyesuaian diri karena melalui
kemandirian, individu akan selalu merasa siap untuk menghadapi situasi maupun
kondisi baru yang akan dihadapi sepanjang hidupnya.
5. Kriteria Penyesuaian Diri Sosial
Penyesuaian diri dalam segi
sosial memiliki beberapa kriteria[28]
yaitu:
a.
Penyesuaian sosial di
lingkungan keluarga
·
Menjalin hubungan yang baik
dengan para anggota keluarga (orangtua dansaudara).
·
Menerima otoritas orangtua,
menaati peaturan yang ditetapkan orangtua.
·
Berusaha untuk membantu
anggota keluarga dan menerima tanggung jawabsebagai anggota keluarga.
b.
Penyesuaian sosial di
lingkungan sekolah
·
Bersikap respek dan mau
menerima peraturan sekolah
·
Bepartisipasi dalam
kegiatan-kegiatan sekolah
·
Menjalin persahabatan
dengan teman-teman di sekolah
·
Bersikap hormat pada guru,
pemimpin sekolah dan staff lainnya.
c.
Penyesuaian sosial di
lingkungan masyarakat
·
Mengakui dan menghargai
hak-hak orang lain
·
Memelihara jalinan
persahabatan dengan orang lain
·
Bersikap simpati terhadap
kesejahteraan orang lain
·
Mau mengikuti kegiatan
sosial dalam masyarakat
·
Mengikuti norma-norma dan
peraturan yang berlaku dalam masyarakat
a)
Penyesuaian Diri Mahasiswa perantau yang berdomisili di Pondok
Penyesuaian
diri merupakan suatu konstruksi / bangunan psikologi yang luas dan komplek,
serta melibatkan semua reaksi individu terhadap tuntutan baik dari lingkungan
luar maupun dari dalam diri individu itu sendiri. Dengan perkataan lain,
masalah penyesuaian diri menyangkut aspek kepribadian individu dalam
interaksinya dengan lingkungan dalam dan luar dirinya.[29]
b)
Penyesuaian Diri Mahasiswa perantau yang berada di Kost
Menurut Schneiders, Penyesuaian diri adalah suatu proses yang
mencakup respon mental dan tingkah laku, dimana individu berusaha untuk dapat
berhasil mengatasi kebutuhan-kebutuhan dalam dirinya, ketegangan-ketegangan,
konflik-konflik, dan frustrasi yang dialaminya, sehingga terwujud tingkat
keselarasan atau harmoni antara tuntutan dari dalam diri dengan apa yang
diharapkan oleh lingkungan dimana ia tinggal.[30]
C. Hubungan kemandirian dan penyesuaian diri antara mahasiswa yang berdomisili di
pondok dan di kost.
Runyon dan Haber (1984) mengatakan bahwa setiap orang pasti
mengalami masalah dalam mencapai tujuan hidupnya dan penyesuaian diri sebagai keadaan
atau sebagai proses.Mereka terus menerus mengubah tujuannya sesuai dengan
keadaan lingkungannya. Individu mengubah tujuan dalam hidupnya seiring dengan
perubahan yang terjadi dilingkungannya. Berdasarkan konsep penyesuaian diri
sebagai proses penyesuaian diri yang efektif dapat diukur dengan mengetahui
bagaimana kemampuan individu menghadapi lingkungan yang senantiasa berubah.[31]
[11] Dikutip dari KBBI Online di http://kbbi.web.id/mandiri pada tanggal
16 april 2017 pukul 09:45-09:55 WIB
[12]F.
Nashori, “Hubungan Antara Religiusitas dengan Kemandirian pada Siswa Sekolah
Menengah Umum”, Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi No. 8 Th. IV.
(Yogyakarta, UII, 1999), h. 32.
[13] Lilik,
“Meningkatkan Motivasi, Kemandirian, Dan Penyesuaian Diri Karyawan”, Jurnal Pendidikan BK. Jilid 11. No 1.
(Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 2008), h. 63.
[15]
Anis Rahmawati Hasanah, “Hubungan Antara Kemandirian Dengan Penyesuaian Diri
pada Siswa Pondok Pesantren “,( Naskah Publikasi, Universitas Muhammadiyah
Surakarta, Surakarta, 2012), h. 3.
[16]
Aryanti Christin Phangga Yoku, “Hubungan Antara Kemandirian Dengan Penyesuaian
Diri Pada Mahasiswa Program Penelusuran Pengembangan Dan Potensi Putra Dan
Putri Papua (P5) Kabupaten Jayapura Di Kota Salatiga”, (Skripsi, Universitas
Kristen Satya Wacana Salatiga, Salatiga, 2016), h.15.
[17] Gunarsa, S. D,
Psikologi praktis: anak, remaja, dan keluarga. (Jakarta: Gunung
Mulia, 2000), h. 56.
[18] Hurlock, E. (Psikologi
perkembangan: suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta:
Erlangga. 2002),h.145.
[19] F.
Nashori, “Hubungan Antara Religiusitas dengan Kemandirian pada Siswa Sekolah
Menengah Umum”, Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi No. 8 Th. IV.
(Yogyakarta, UII, 1999), h. 32.
[20]Aryanti
Christin Phangga Yoku, “Hubungan Antara Kemandirian Dengan Penyesuaian Diri
Pada Mahasiswa Program Penelusuran Pengembangan Dan Potensi Putra Dan Putri
Papua (P5) Kabupaten Jayapura Di Kota Salatiga”, (Skripsi, Universitas Kristen
Satya Wacana Salatiga, Salatiga, 2016), h.14.
[21] M.
Ali & M. Asrori, Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik.
(Jakarta: Bumi Aksara, 2010),h. 49.
[22] Sobur
Arikunto. Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. Edisi Revisi.
(Jakarta: Rineka Cipta. 2006), h. 526.
[23] Fatimah, Psikologi
perkembangan Peserta Didik. (Bandung: CV Pustaka Ceria. 2008),h. 35.
[24]Di kutip dari http://www.psychologymania.com/2012/09/aspek-aspek-penyesuaian-diri.html pada tanggal
10 April 2017 pukul 11:00-11:20
[25]Aryanti
Christin Phangga Yoku, “Hubungan Antara Kemandirian Dengan Penyesuaian Diri
Pada Mahasiswa Program Penelusuran Pengembangan Dan Potensi Putra Dan Putri
Papua (P5) Kabupaten Jayapura Di Kota Salatiga”, (Skripsi, Universitas Kristen
Satya Wacana Salatiga, Salatiga, 2016), h.11.
[26] Ibid., h. 12.
[27] Desmita,
Psikologi perkembangan. (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2009). h, 18.
[28]
Schneiders, Personal Adjustment And Mental Healt. (New York: Holt
Rinehart dan Winston. 1964), h. 79.
[29] Desmita, Psikologi
Perkembangan. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2009),h. 191.
[30] Ibid,. h, 192.
[31] Lidya
Irene Saulina Sitorus Hadi Warsito WS, “Perbedaan Tingkat Kemandirian dan
Penyesuaian Diri Mahasiswa Perantauan Suku Batak ditinjau dari Jenis Kelamin”,
Character, Volume 01, Nomor 02, (2013), h. 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar