Minggu, 08 Oktober 2017

SKRIPSI Hubungan Kemandirian dengan Penyesuaian DIri pada Mahasiswa Perantau di Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri BAB II KAJIAN TEORI


A.      Kemandirian
1.    Pengertian Kemandirian
Kemandirian adalah  hal atau keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain[11]. Kemandirian merupakan salah satu ciri kualitas hidup manusia yang memiliki peran penting bagi kesuksesan hidup bangsa maupun individu.[12]

Individu yang memiliki kemandirian akan lebih siap untuk menghadapi situasi,masalah maupun lingkungan baru karena ia tidak bergantung pada orang lain, sehingga individu memiliki pengaturan diri, atau kebebasan untuk memilih , menguasai dan menentukan dirinya sendiri, hal ini akan mendukung proses penyesuaian diri pada mahasiswa yang merantau yang bertempat tinggal di kost, kontrakkan maupun Asrama milik kampus, karena dengan melalui pengaturan diri tersebut individu dapat menempatkan diri dengan lebih baik atau tepat pada situasi dan lingkungan yang baru dibanding mereka yang tidak memiliki kemandirian. Individu yang memiliki tingkat kemandirian yang tinggi juga akan memiliki kemampuan penyesuaian diri yang baik terhadap situasi dan kondisi tempat tinggal dan perkuliahan.
Kemampuan remaja untuk mengembangkan kemandirian berkaitan dengan pengalaman mereka bersama keluarganya.[13]
Hubungan yang baik antara orang tua (keluarga) dan remaja akan mendukung remaja untuk mandiri, sehingga perkembangan kemandirian remaja tidak menghasilkan penolakan atas pengaruh orang tua, justru remaja akan mencari masukan dari orang tua untuk untuk mengambil keputusan. Perjuangan remaja meraih kemandirian dimata dirinya sendiri ataupun di mata orang lain merupakan proses yang panjang dan terkesan sulit. Tiga kondisi utama dalam perkembangan remaja dalam usahanya mencapai kemandirian, yaitu bebas secara emosional, mampu mengambil keputusan sendiri, mampu menetapkan batasan-batasan, nilai-nilai dan moral sendiri. Bagi seorang remaja, menjadi mandiri adalah salah satu syarat untuk dapat disebut dewasa, dengandemikian remaja akan memperoleh pengakuan dari lingkungannya.[14]




Menurut Nasution (2007) kemandirian dapat dipengaruhi beberapa faktor antara lain:
a.         Faktor eksogen
Faktoreksogenmerupakan faktor yang berasal dariluar yaitu yang berasal dari keluarga,sekolah, masyarakat dan kelompokteman sebaya.
b.         Faktor endogen,
Faktorendogenmerupakan faktor yang berasal daridalam individu yaitu faktor fisiologisdan faktor psikologis. Faktor fisiologis diantaranya kondisi fisik sehat dan tidak sehat atau sempurna dan tidak sempurna, sedangkan faktor psikologis meliputi: bakat, minat, motivasi, IQ dan kepribadian.[15]
2.      Aspek-aspek Kemandirian
Menurut Masrun (1986), terdapat lima aspek penting dalam kemandirian[16], yaitu:
a.    Kebebasan Bertindak
Ditunjukkan dengan aktivitas sendiri yaitu tindakkan yang dilakukan atas kehendak sendiri bukan karena orang lain, tidak tergantung pada orang lain.

b.    Kemantapan Diri
Ditunjukkan dengan rasa percaya diri yang tinggi terhadao kemampuan diri sendiri, menerima diri sendiri, serta memperoleh kepuasan dari usahanya sendiri.
c.    Inisiatif
Memiliki kreatifitas, mempunyai ide-ide atau gagasan sendiri, menyukai hal-hal baru, suka mencoba dan tidak suka meniru orang lain.
d.   Pengendalian Diri
Ditunjukkan dengan kemampuan mengendalikan emosi, mampu mengendalikan tindakkan, menyukai penyelesaian masalah secara damai, berpikir dahulu sebelum bertindak dan memiliki disiplin diri.
e.    Progresif dan Ulet
Ditunjukkan dengan adanya usaha untuk mengejar prestasi, tidak mudah menyerah dalam menghadapi masalah, tekun dalam usaha mengejar prestasi, mempunyai rencana dalam mewujudkan harapan-harapannya, melakukan banyak cara untuk mencapai tujuan dengan ketepatan tinggi dalam melaksanakan tugas, dan menyukai hal-hal yang menantang.

3.      Efek dari Kemandirian
Menurut Lindzey & Ritter, berpendapat bahwa individu yang mampu mandiri[17] meliputi;
a.         Menunjukkan inisiatif dan berusaha untuk mengejar prestasi
b.         Secara relatif jarang mencari pertolongan pada orang lain
c.         Menunjukkan rasa percaya diri
d.        Mempunyai rasa ingin menonjol
Seiring dengan pendapat dari ahli diatas, Antonius mengemukakan bahwa ciri-ciri individu yang mandiri[18] adalah sebagai berikut:
a.         Percaya diri
b.         Mampu bekerja sendiri
c.         Menguasai keahlian dan keterampilan yang sesuai dengan kerjanya
d.        Menghargai waktu
e.         Tanggung jawab
a)      Kemandirian Mahasiswa perantau yang berdomisili di Pondok
Kemandirian merupakan salah satu ciri kualitas hidup manusia yang memiliki peran penting bagi kesuksesan hidup bangsa maupun individu. Selain itu individu yang memiliki kemandirian yang kuat akan mampu bertanggungjawab, menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan, berani menghadapi masalah dan resiko, dan tidak mudahterpengaruh atau tergantung pada orang lain[19]
b)     Kemandirian Mahasiswa perantau yang berada di Kost
Menurut Bhatia (1977), Kemandirianmerupakan perilaku yang aktivitasnya diarahkan oleh diri sendiri, tidak mengharapkan pengarahan dari orang lain dan bahkan mencoba memecahkan atau menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa meminta bantuan orang lain.[20]
Mandiri memiliki tujuan untuk menjadi seseorang yang dapat mengatur diri sendiri, dapat mengambil inisiatif (menciptakan hal yang baru), dan mengatasi permasalahan yang dihadapinya. Selain itu individu yang memiliki kemandirian yang kuat akan mampu bertanggungjawab, menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan, berani menghadapi masalah dan resiko, dan tidak mudah terpengaruh atau tergantung pada orang lain[21]





B.     Penyesuaian Diri
1.      Pengertian Penyesuaian Diri
Menurut Calhoun dan Acocella, Penyesuaian diri dapat didefinisikan sebagai interaksi yang kontinu dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan dunia/ lingkungan.[22]
Penyesuaian diri terhadap perguruan tinggi merupakan kesejahteraan seorang mahasiswayang berhubungan dalam hal akademik, sosial, stabilitas emosi, dan komitmen terhadap institusi atau perguruan tinggi.[23]
2.      Aspek-Aspek Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri memiliki beberapa aspek. Aspek-aspek penyesuaian diri terdiri dari penyesuain diri negatif (abnormal) dan penyesuaian diri positif (normal). Penyesuaian diri yang normal dapat dilihat dari beberapa aspek[24], yaitu:
a.         Mampu mengontrol emosionalitas yang berlebihan
Penyesuaian diri yang normal dapat ditandai dengan tidak adanya emosi yang relatif berlebihan atau tidak terdapat gangguan emosi yang merusak. Individu yang mampu menanggapi situasi atau masalah yang dihadapinya dengan cara yang normal akan merasa tenang dan tidak panik sehingga dapat menentukan penyelesaian masalah yang dibebankan kepadanya.
b.        Mampu mengatasi mekanisme psikologis
Kejujuran dan keterusterangan terhadap adanya masalah atau konflik yang dihadapi individu akan lebih terlihat sebagai reaksi yang normal dari pada suatu reaksi yang diikuti dengan mekanisme-mekanisme pertahanan diri seperti rasionalisasi, proyeksi, atau kompensasi. Individu mampu menghadapi masalah dengan pertimbangan yang rasional dan mengarah langsung kepada masalah.
c.       Mampu mengatasi perasaan frustrasi pribadi
Adanya perasaan frustrasi akan membuat individu sulit atau bahkan tidak mungkin bereaksi secara normal terhadap situasi atau masalah yang dihadapinya. Individu harus mampu menghadapi masalah secara wajar, tidak menjadi cemas dan frustrasi.
d.      Kemampuan untuk belajar
Mampu untuk mempelajari pengetahuan yang mendukung apa yang dihadapi sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat dipergunakan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi.

e.       Kemampuan memanfaatkan pengalaman
Adanya kemampuan individu untuk belajar dan memanfaatkan pengalaman merupakan hal yang penting bagi penyesuaian diri yang normal. Dalam menghadapi masalah, individu harus mampu membandingkan pengalaman diri sendiri dengan pengalaman orang lain sehingga pengalaman-pengalaman yang diperoleh dapat digunakan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi.
f.       Memiliki sikap yang realistis dan obyektif
Karakteristik ini berhubungan erat dengan orientasi seseorang terhadap realitas yang dihadapinya. Individu mampu mengatasi masalah dengan segera, apa adanya dan tidak ditunda-tunda.
3.      Karakteristik Penyesuaian Diri
Harber dan Runyon (1984), menjelaskan lima karakteristik dari penyesuaian diri yang efektif[25],yaitu:
a.         Persepsi yang akurat terhadap kenyataan
Individu dikatakan memiliki persepsi yang tepat tentang kenyataan jika individu dapat melihat kenyataan seperti layaknya kebanyak orang mempersepsikan kenyataan tersebut. Selain itu, individu juga mampu menyusun tujuan hidupnya secara realistis sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang ada pada lingkungannya, serta secara aktif bergerak untuk mencapai tujuan tersebut.
b.        Mampu mengatasi stress dan kecemasan
Dalam hal individu harus belajar bahwa ia dihadapkan pada tujuan yang membutuhkan proses dan waktu. Penundaan kepuasan dari kebutuhan ini seringkali memunculkan rasa gelisah dan tekanan sehingga menimbulkan stress dan perasaan tidak nyaman.
c.       Citra diri yang positif
Individu dapat menyesuaikan dirinya dengan efektif apabila mampu memandang dirinya dengan suatu cara yang positif. Dalam hal ini, individu harus dapat menerima kekurangan dirinya sama seperti kelebihan yang dimilikinya sehingga individu mengerti benar kapasitas dirinya dan kemudian dapat mengembangkan, kelebihan-kelebihan yang dimilikinya tersebut.
d.      Mampu mengekspresikan emosi
Orang yang sehat secara emosional adalah orang yang mampu merasakan dan mengekspresikan seluruh spectrum dari emosi dan perasaannya. Individu dapat menunjukkan emosinya secara realistis namun tetap terkendali.
e.       Hubungan interpersonal yang baik
Orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik mampu untuk mencapai tingkat keakraban (intimacy) yang tepat dalam hubungan sosial mereka. Individu dapat berkompeten dan merasa nyaman dalam berinteraksi dengan orang lain.

4.      Faktor-faktor yang mempengaruhi Penyesuaian Diri
Menurut Kehler (Rahmat, 2009) mengelompokkan faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri[26] sebagai berikut:
a.       Kondisi fisik
·        Pengaruh Pembawaan dan Keadaan Jasmani
Pembawaan dan keadaan jasmani sangat berpengaruh terhadap proses penyesuaian diri. Menurut Sunarto “struktur jasmani merupakan kondisi prima bagi tingkah laku”.[27]


·      Kesehatan dan Penyakit Jasmani
Gangguan penyakit jasmaniah yang diderita oleh seseorang akan menganggu proses penyesuaian diri. Hal ini disebabkan penyakitkronis yang dapat menimbulkan kurangnya kepercayaan pada diri sendiri, ketergantungan dan perasaan ingin dikasihi.
b.      Kondisi Psikologis
·      Pengalaman
Pergaulan yang menyenangkan akan menimbulkan proses penyesuaian diri yang baik, sebaliknya pergaulan yang buruk akan menimbulkan penyesuaian diri yang negative karena pergaulan akan menjadi pengalaman yang berarti bagi individu.
·      Belajar
Belajar merupakan sesuatu yang fundamental dalam proses penyesuaian diri karena melalui proses belajar individu akan berkembang pola-pola respon yang akan membentuk kepribadiannya. Sebagian besar respon dan ciri-ciri kepribadian lebih banyak yang diperoleh secara genetik. Dalam proses penyesuaian diri belajar merupakan proses modifikasi.
c.       Kemandirian
Kemandirian merupakan unsur penting dalam proses penyesuaian diri karena melalui kemandirian, individu akan selalu merasa siap untuk menghadapi situasi maupun kondisi baru yang akan dihadapi sepanjang hidupnya.
5.      Kriteria Penyesuaian Diri Sosial
Penyesuaian diri dalam segi sosial memiliki beberapa kriteria[28] yaitu:
a.       Penyesuaian sosial di lingkungan keluarga
·         Menjalin hubungan yang baik dengan para anggota keluarga (orangtua dansaudara).
·         Menerima otoritas orangtua, menaati peaturan yang ditetapkan orangtua.
·         Berusaha untuk membantu anggota keluarga dan menerima tanggung jawabsebagai anggota keluarga.
b.      Penyesuaian sosial di lingkungan sekolah
·      Bersikap respek dan mau menerima peraturan sekolah
·      Bepartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sekolah
·      Menjalin persahabatan dengan teman-teman di sekolah
·      Bersikap hormat pada guru, pemimpin sekolah dan staff lainnya.
c.       Penyesuaian sosial di lingkungan masyarakat
·      Mengakui dan menghargai hak-hak orang lain
·      Memelihara jalinan persahabatan dengan orang lain
·      Bersikap simpati terhadap kesejahteraan orang lain
·      Mau mengikuti kegiatan sosial dalam masyarakat
·      Mengikuti norma-norma dan peraturan yang berlaku dalam masyarakat
a)        Penyesuaian Diri Mahasiswa perantau yang berdomisili di Pondok
Penyesuaian diri merupakan suatu konstruksi / bangunan psikologi yang luas dan komplek, serta melibatkan semua reaksi individu terhadap tuntutan baik dari lingkungan luar maupun dari dalam diri individu itu sendiri. Dengan perkataan lain, masalah penyesuaian diri menyangkut aspek kepribadian individu dalam interaksinya dengan lingkungan dalam dan luar dirinya.[29]
b)        Penyesuaian Diri Mahasiswa perantau yang berada di Kost
Menurut Schneiders, Penyesuaian diri adalah suatu proses yang mencakup respon mental dan tingkah laku, dimana individu berusaha untuk dapat berhasil mengatasi kebutuhan-kebutuhan dalam dirinya, ketegangan-ketegangan, konflik-konflik, dan frustrasi yang dialaminya, sehingga terwujud tingkat keselarasan atau harmoni antara tuntutan dari dalam diri dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan dimana ia tinggal.[30]
C.      Hubungan kemandirian dan penyesuaian diri antara mahasiswa yang berdomisili di pondok dan di kost.
Runyon dan Haber (1984) mengatakan bahwa setiap orang pasti mengalami masalah dalam mencapai tujuan hidupnya dan penyesuaian diri sebagai keadaan atau sebagai proses.Mereka terus menerus mengubah tujuannya sesuai dengan keadaan lingkungannya. Individu mengubah tujuan dalam hidupnya seiring dengan perubahan yang terjadi dilingkungannya. Berdasarkan konsep penyesuaian diri sebagai proses penyesuaian diri yang efektif dapat diukur dengan mengetahui bagaimana kemampuan individu menghadapi lingkungan yang senantiasa berubah.[31]





[11] Dikutip dari  KBBI Online di http://kbbi.web.id/mandiri pada tanggal 16 april 2017 pukul 09:45-09:55 WIB
[12]F. Nashori, “Hubungan Antara Religiusitas dengan Kemandirian pada Siswa Sekolah Menengah Umum”, Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi No. 8 Th. IV. (Yogyakarta, UII, 1999), h. 32.
[13] Lilik, “Meningkatkan Motivasi, Kemandirian, Dan Penyesuaian Diri Karyawan”,  Jurnal Pendidikan BK. Jilid 11. No 1. (Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 2008), h. 63.
[14]Steinberg, Psikologi Umum. (Bandung : Tarsito, 2002), h.270.
[15] Anis Rahmawati Hasanah, “Hubungan Antara Kemandirian Dengan Penyesuaian Diri pada Siswa Pondok Pesantren “,( Naskah Publikasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta, 2012), h. 3.
[16] Aryanti Christin Phangga Yoku, “Hubungan Antara Kemandirian Dengan Penyesuaian Diri Pada Mahasiswa Program Penelusuran Pengembangan Dan Potensi Putra Dan Putri Papua (P5) Kabupaten Jayapura Di Kota Salatiga”, (Skripsi, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Salatiga, 2016), h.15.
[17] Gunarsa, S. D, Psikologi praktis: anak, remaja, dan keluarga. (Jakarta: Gunung Mulia,  2000), h. 56.
[18] Hurlock, E. (Psikologi perkembangan: suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga. 2002),h.145.
[19] F. Nashori, “Hubungan Antara Religiusitas dengan Kemandirian pada Siswa Sekolah Menengah Umum”, Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi No. 8 Th. IV. (Yogyakarta, UII, 1999), h. 32.
[20]Aryanti Christin Phangga Yoku, “Hubungan Antara Kemandirian Dengan Penyesuaian Diri Pada Mahasiswa Program Penelusuran Pengembangan Dan Potensi Putra Dan Putri Papua (P5) Kabupaten Jayapura Di Kota Salatiga”, (Skripsi, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Salatiga, 2016), h.14.
[21] M. Ali & M. Asrori, Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik. (Jakarta: Bumi Aksara, 2010),h. 49.
[22] Sobur Arikunto. Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. Edisi Revisi. (Jakarta: Rineka Cipta. 2006), h. 526.
[23] Fatimah, Psikologi perkembangan Peserta Didik. (Bandung: CV Pustaka Ceria. 2008),h. 35.
[24]Di kutip dari http://www.psychologymania.com/2012/09/aspek-aspek-penyesuaian-diri.html pada tanggal 10 April 2017 pukul 11:00-11:20
[25]Aryanti Christin Phangga Yoku, “Hubungan Antara Kemandirian Dengan Penyesuaian Diri Pada Mahasiswa Program Penelusuran Pengembangan Dan Potensi Putra Dan Putri Papua (P5) Kabupaten Jayapura Di Kota Salatiga”, (Skripsi, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Salatiga, 2016), h.11.
[26] Ibid., h. 12.
[27] Desmita, Psikologi perkembangan. (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2009). h, 18.
[28] Schneiders, Personal Adjustment And Mental Healt. (New York: Holt Rinehart dan Winston. 1964), h. 79.
[29] Desmita, Psikologi Perkembangan. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2009),h. 191.
[30] Ibid,. h, 192.
[31] Lidya Irene Saulina Sitorus Hadi Warsito WS, “Perbedaan Tingkat Kemandirian dan Penyesuaian Diri Mahasiswa Perantauan Suku Batak ditinjau dari Jenis Kelamin”, Character, Volume 01, Nomor 02, (2013), h. 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SKRIPSI Hubungan Kemandirian dengan Penyesuaian DIri pada Mahasiswa Perantau di Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri BAB I PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang Masalah Sering kita temui mahasiswa yang meninggalkan tanah kelahirannya hanya untuk mencari ilmu. Pelajar ya...