BAB
II
KAJIAN
TEORI
A.
Kemandirian
1.
Pengertian Kemandirian
Menurut
kamus besar bahasa indonesia (KBBI), kemandirian adalah keadaan dapat berdiri
sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
Menurut
steinberg (2002), kemandiriaan merupakan kemampuan individu untuk bertingkah
laku secara seorang diri.
Menurut
Desmita (2010) konsep yang sering digunakan atau berdekatan dengan kemandirian
adalah autonomy.
Kemandirian
merupakan salah satu ciri kualitas hidup manusia yang memiliki peran penting
bagi kesuksesan hidup bangsa maupun individu.[12]
Schaefer (1996) menyebutkan tujuan
dari sikap mandiri yaitu untuk menjadi seorang manusia yang dapat mengatur diri
sendiri, dapat mengambil inisiatif, dan mengatasi permasalahannya.
Selain
itu individu yang memiliki kemandirian yang kuat akan mampu bertanggungjawab,
menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan, berani menghadapi masalah dan
resiko, dan tidak mudah terpengaruh atau tergantung pada orang lain[13]
Menurut
Steinberg (2002), kemandirian didefinisikan sebagai kemampuan individu dalam
bertingkah laku, merasakan sesuatu, dan mengambil keputusan berdasarkan
kehendaknya sendiri. Mandiri merupakan salah satu ciri utama kepribadian yang
dimiliki oleh seseorang yang telah dewasa dan matang. Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia, mandiri merupakan keadaan seseorang yang telah mampu berdiri
sendiri serta tidak bergantung kepada orang lain. Namun, seorang individu tidak
dengan mudah begitu saja untuk dapat mencapai sifat kemandirian. Seseorang
harus melalui proses-proses tertentu untuk dapat mencapai kemandirian.
Kemampuan
remaja untuk mengembangkan kemandirian berkaitan dengan pengalaman mereka
bersama keluarganya.[14]
2.
Aspek-aspek
Kemandirian
Menurut
Masrun (1986), terdapat lima aspek penting dalam kemandirian, yaitu:
a.
Kebebasan Bertindak
Ditunjukkan
dengan aktivitas sendiri yaitu tindakkan yang dilakukan atas kehendak sendiri
bukan karena orang lain, tidak tergantung pada orang lain.
b.
Kemantapan Diri
Ditunjukkan
dengan rasa percaya diri yang tinggi terhadao kemampuan diri sendiri, menerima
diri sendiri, serta memperoleh kepuasan dari usahanya sendiri.
c.
Inisiatif
Memiliki
kreatifitas, mempunyai ide-ide atau gagasan sendiri, menyukai hal-hal baru,
suka mencoba dan tidak suka meniru orang lain.
d.
Pengendalian Diri
Ditunjukkan
dengan kemampuan mengendalikan emosi, mampu mengendalikan tindakkan, menyukai
penyelesaian masalah secara damai, berpikir dahulu sebelum bertindak dan
memiliki disiplin diri.
e.
Progresif dan Ulet
Ditunjukkan
dengan adanya usaha untuk mengejar prestasi, tidak mudah menyerah dalam
menghadapi masalah, tekun dalam usaha mengejar prestasi, mempunyai rencana
dalam mewujudkan harapan-harapannya, melakukan banyak cara untuk mencapai
tujuan dengan ketepatan tinggi dalam melaksanakan tugas, dan menyukai hal-hal
yang menantang.
3.
Efek
dari Kemandirian
Menurut
Lindzey & Ritter, berpendapat bahwa individu yang mampu mandiri[15]
meliputi;
a.
Menunjukkan inisiatif dan berusaha untuk mengejar
prestasi
b.
Secara relatif jarang mencari pertolongan pada
orang lain
c.
Menunjukkan rasa percaya diri
d.
Mempunyai rasa ingin menonjol
Seiring
dengan pendapat dari ahli diatas, Antonius mengemukakan bahwa ciri-ciri
individu yang mandiri[16]
adalah sebagai berikut:
a.
Percaya diri
b.
Mampu bekerja sendiri
c.
Menguasai keahlian dan keterampilan yang sesuai
dengan kerjanya
d.
Menghargai waktu
e.
Tanggung jawab
a)
Kemandirian Mahasiswa perantau yang berdomisili di Pondok
Menurut Widiana (2001), Kemandirian merupakan salah satu
karakteristik yang dimiliki oleh seseorang dimana tidak bergantung pada orang
tua maupun lingkungan luar dan lebih banyak mengandalkan potensi serta
kemampuan yang dimiliki. Awal kemandirian individu dimulai pada masa remaja.
Pada masa ini ketergantungan seorang individu terhadap orang tuanya yang
merupakan simbol dari masa kanak-kanak mulai terlepas.
b)
Kemandirian Mahasiswa perantau yang berada di Kost
Menurut Bhatia (1977), kemandirian merupakan perilaku yang
aktivitasnya diarahkan oleh diri sendiri, tidak mengharapkan pengarahan dari
orang lain dan bahkan mencoba memecahkan atau menyelesaikan masalahnya sendiri
tanpa meminta bantuan orang lain.
B.
Penyesuaian Diri
1.
Pengertian Penyesuaian Diri
Menurut Calhoun dan Acocella, Penyesuaian diri dapat didefinisikan sebagai
interaksi yang kontinu dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan dunia/
lingkungan.[17]
Kartono
(2008) menyatakan bahwa penyesuaian diri adalah reaksi individu terhadap
tuntutan yang dihadapkan kepada individu tersebut.
Sedangkan
menurut Gerungan (Amar, 2009) menjelaskan bahwa menyesuaikan diri itu diartikan
dalam artian yang luas, dan dapat berarti mengubah diri sesuai dengan keadaan
lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan)
diri.
Runyon
dan Haber (1984) mengatakan bahwa setiap orang pasti mengalami masalah dalam
mencapai tujuan hidupnya dan penyesuaian diri sebagai keadaan atau sebagai
proses. Mereka terus menerus mengubah tujuannya sesuai dengan keadaan
lingkungannya. Individu mengubah tujuan dalam hidupnya seiring dengan perubahan
yang terjadi dilingkungannya. Berdasarkan konsep penyesuaian diri sebagai
proses, penyesuaian diri yang efektif dapat diukur dengan mengetahui bagaimana
kemampuan individu menghadapi lingkungan yang senantiasa berubah.
Aryatmi, (1992) bahwa “Mahasiswa sadar bahwa mencari bekal untuk
menjadi kaum intelektual di kemudian hari tidak hanya dengan mengejar ilmu
kepandaian, tetapi juga melakukan interaksi sosial dan melakukan sesuatu bagi
kehidupan kemanusiaan yaitu penyesuaian diri”.
Pada proses pendewasaan dalam mencapai kesuksesan, mahasiswa
perantau dihadapkan pada berbagai perubahan dan perbedaan diberbagai aspek
kehidupan yang membutuhkan kepercayaan diri, dan harus banyak penyesuaian
(Chandra, 2004).
Penyesuaian diri merupakan suatu konstruksi / bangunan psikologi
yang luas dan komplek, serta melibatkan semua reaksi individu terhadap tuntutan
baik dari lingkungan luar maupun dari dalam diri individu itu sendiri. Dengan
perkataan lain, masalah penyesuaian diri menyangkut aspek kepribadian individu
dalam interaksinya dengan lingkungan dalam dan luar dirinya.[18]
Menurut Schneiders, Penyesuaian diri adalah suatu proses yang
mencakup respon mental dan tingkah laku, dimana individu berusaha untuk dapat
berhasil mengatasi kebutuhan-kebutuhan dalam dirinya, ketegangan-ketegangan,
konflik-konflik, dan frustrasi yang dialaminya, sehingga terwujud tingkat
keselarasan atau harmoni antara tuntutan dari dalam diri dengan apa yang
diharapkan oleh lingkungan dimana ia tinggal.[19]
Penyesuaian diri menurut Haber dan Runyon (1984), merupakan suatu
proses agar individu dapat menerima dan mengatasi perubahan dalam setiap
keadaan yang tidak dapat di duga sebelumnya.
Penyesuaian diri terhadap perguruan tinggi merupakan kesejahteraan
seorang mahasiswa yang berhubungan dalam hal akademik, sosial, stabilitas
emosi, dan komitmen terhadap institusi atau perguruan tinggi (Baker &
Siryk, 1984).[20]
Penyesuaian diri terhadap perguruan tinggi dapat memprediksi dua
hasil penting dalam konteks pendidikan, yaitu performa akademik seperti indeks
prestasi dan kebertahanan mahasiswa untuk melanjutkan perkuliahan (Crede & Niehorster,
2011),
2.
Aspek-Aspek Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri memiliki beberapa aspek. Aspek-aspek penyesuaian diri
terdiri dari penyesuain diri negatif (abnormal) dan penyesuaian diri positif
(normal). Menurut Schneiders (1964), penyesuaian diri yang baik adalah individu
yang dapat memberi respon yang matang, bermanfaat, efisien dan memuaskan.
Penyesuaian diri yang
normal dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu:
a.
Mampu mengontrol emosionalitas yang berlebihan
Penyesuaian diri yang normal dapat ditandai dengan tidak adanya emosi yang
relatif berlebihan atau tidak terdapat gangguan emosi yang merusak. Individu yang
mampu menanggapi situasi atau masalah yang dihadapinya dengan cara yang normal
akan merasa tenang dan tidak panik sehingga dapat menentukan penyelesaian
masalah yang dibebankan kepadanya.
b.
Mampu mengatasi mekanisme psikologis
Kejujuran dan keterusterangan terhadap adanya masalah atau konflik yang
dihadapi individu akan lebih terlihat sebagai reaksi yang normal dari pada
suatu reaksi yang diikuti dengan mekanisme-mekanisme pertahanan diri seperti
rasionalisasi, proyeksi, atau kompensasi. Individu mampu menghadapi masalah
dengan pertimbangan yang rasional dan mengarah langsung kepada masalah.
c.
Mampu mengatasi perasaan frustrasi pribadi
Adanya perasaan frustrasi akan membuat individu sulit atau bahkan tidak
mungkin bereaksi secara normal terhadap situasi atau masalah yang dihadapinya.
Individu harus mampu menghadapi masalah secara wajar, tidak menjadi cemas dan
frustrasi.
d.
Kemampuan untuk belajar
Mampu untuk mempelajari pengetahuan yang mendukung apa yang dihadapi
sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat dipergunakan untuk mengatasi
permasalahan yang dihadapi.
e.
Kemampuan memanfaatkan pengalaman
Adanya kemampuan individu untuk belajar dan memanfaatkan pengalaman
merupakan hal yang penting bagi penyesuaian diri yang normal. Dalam menghadapi
masalah, individu harus mampu membandingkan pengalaman diri sendiri dengan
pengalaman orang lain sehingga pengalaman-pengalaman yang diperoleh dapat
digunakan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi.
f.
Memiliki sikap yang realistis dan obyektif
Karakteristik ini berhubungan erat dengan orientasi seseorang terhadap
realitas yang dihadapinya. Individu mampu mengatasi masalah dengan segera, apa
adanya dan tidak ditunda-tunda.
3.
Karakteristik Penyesuaian Diri
Harber dan Runyon (1984), menjelaskan lima karakteristik dari
penyesuaian diri yang efektif,yaitu:
a.
Persepsi yang akurat terhadap
kenyataan
Individu dikatakan memiliki
persepsi yang tepat tentang kenyataan jika individu dapat melihat kenyataan
seperti layaknya kebanyak orang mempersepsikan kenyataan tersebut. Selain itu,
individu juga mampu menyusun tujuan hidupnya secara realistis sesuai dengan
kemampuan dan kesempatan yang ada pada lingkungannya, serta secara aktif
bergerak untuk mencapai tujuan tersebut.
b.
Mampu mengatasi stress dan
kecemasan
Dalam hal individu harus
belajar bahwa ia dihadapkan pada tujuan yang membutuhkan proses dan waktu.
Penundaan kepuasan dari kebutuhan ini seringkali memunculkan rasa gelisah dan
tekanan sehingga menimbulkan stress dan perasaan tidak nyaman.
c.
Citra diri yang positif
Individu dapat menyesuaikan
dirinya dengan efektif apabila mampu memandang dirinya dengan suatu cara yang
positif. Dalam hal ini, individu harus dapat menerima kekurangan dirinya sama
seperti kelebihan yang dimilikinya sehingga individu mengerti benar kapasitas
dirinya dan kemudian dapat mengembangkan, kelebihan-kelebihan yang dimilikinya
tersebut.
d.
Mampu mengekspresikan emosi
Orang yang sehat secara
emosional adalah orang yang mampu merasakan dan mengekspresikan seluruh
spectrum dari emosi dan perasaannya. Individu dapat menunjukkan emosinya secara
realistis namun tetap terkendali.
e.
Hubungan interpersonal yang
baik
Orang yang dapat menyesuaikan
diri dengan baik mampu untuk mencapai tingkat keakraban (intimacy) yang
tepat dalam hubungan social mereka. Individu dapat berkompeten dan merasa
nyaman dalam berinteraksi dengan orang lain.
4.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Penyesuaian Diri
Menurut Kehler (Rahmat, 2009)
mengelompokkan faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri sebagai
berikut:
a.
Kondisi fisik
·
Pengaruh Pembawaan dan Keadaan
Jasmani
Pembawaan dan keadaan jasmani
sangat berpengaruh terhadap proses penyesuaian diri. Menurut Sunarto “struktur
jasmani merupakan kondisi prima bagi tingkah laku”.[21]
·
Kesehatan dan Penyakit Jasmani
Gangguan penyakit jasmaniah
yang diderita oleh seseorang akan menganggu proses penyesuaian diri. Hal ini
disebabkan penyakit kronis yang dapat menimbulkan kurangnya kepercayaan pada
diri sendiri, ketergantungan dan perasaan ingin dikasihi.
b.
Kondisi Psikologis
·
Pengalaman
Pergaulan yang menyenangkan
akan menimbulkan proses penyesuaian diri yang baik, sebaliknya pergaulan yang
buruk akan menimbulkan penyesuaian diri yang negative karena pergaulan akan
menjadi pengalaman yang berarti bagi individu.
·
Belajar
Belajar merupakan sesuatu yang
fundamental dalam proses penyesuaian diri karena melalui proses belajar
individu akan berkembang pola-pola respon yang akan membentuk kepribadiannya.
Sebagian besar respon dan ciri-ciri kepribadian lebih banyak yang diperoleh
secara genetik. Dalam proses penyesuaian diri belajar merupakan proses
modifikasi.
c.
Kemandirian
Kemandirian merupakan unsur penting dalam
proses penyesuaian diri karena melalui kemandirian, individu akan selalu merasa
siap untuk menghadapi situasi maupun kondisi baru yang akan dihadapi sepanjang
hidupnya.
5.
Kriteria Penyesuaian
Diri Sosial
Penyesuaian
diri dalam segi sosial memiliki beberapa kriteria[22]
yaitu
a. Penyesuaian sosial di lingkungan keluarga
·
Menjalin hubungan yang baik
dengan para anggota keluarga (orangtua dan saudara).
·
Menerima otoritas orangtua,
menaati peaturan yang ditetapkan orangtua.
·
Berusaha untuk membantu
anggota keluarga dan menerima tanggung jawab sebagai anggota keluarga.
b. Penyesuaian sosial di lingkungan sekolah
·
Bersikap respek dan mau
menerima peraturan sekolah
·
Bepartisipasi dalam
kegiatan-kegiatan sekolah
·
Menjalin persahabatan
dengan teman-teman di sekolah
·
Bersikap hormat pada guru,
pemimpin sekolah dan staff lainnya.
c. Penyesuaian sosial di lingkungan masyarakat
·
Mengakui dan menghargai
hak-hak orang lain
·
Memelihara jalinan
persahabatan dengan orang lain
·
Bersikap simpati terhadap
kesejahteraan orang lain
·
Mau mengikuti kegiatan
sosial dalam masyarakat
·
Mengikuti norma-norma dan
peraturan yang berlaku dalam masyarakat
a)
Penyesuaian Diri Mahasiswa perantau yang berdomisili di Pondok
Kartono (2008) menyatakan bahwa penyesuaian diri adalah reaksi
individu terhadap tuntutan yang dihadapkan kepada individu tersebut.
Menurut Chaplin (2002) kemandirian adalah kebebasan
individu untuk memilih, untuk menjadi kesatuan yang bisa memerintah, menguasai
dan menentukan dirinya sendiri.
b)
Penyesuaian Diri Mahasiswa perantau yang berada di Kost
Menurut
Calhoun dan Acocella (Wijaya, 2007) penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk
mencapai keharmonisan pada diri sendiri di lingkungannya. Dan proses bagaimana
individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan
lingkungan.
C. Hubungan serta perbedaan kemandirian dan penyesuaian diri antara mahasiswa yang
berdomisili di pondok dan di kost.
1.
Hubungan kemandirian dan
penyesuaian diri mahasiswa yang berdomisili di pondok dan di kost.
Runyon dan Haber (Irene, 2013) mengatakan bahwa setiap orang pasti
mengalami masalah dalam mencapai tujuan hidupnya dan penyesuaian diri sebagai
keadaan atau sebagai proses kemandirian seseorang.
Menurut Steinberg (2002), kemandirian merupakan kemampuan individu
untuk bertingkah laku secara seorang diri.
Menurut Wragg E.C (Kartadinata, 2001), kemandirian belajar adalah
proses dimana peajar mengembangkan keterampilan-keterampilan penting yang
memungkinkannya menjadi pelajar yang mandiri,
pelajar dimotivasi oleh tujuannya sendiri, imbalan dari proses belajar
bersifat intrinsik atau nyata bagi pelajar dan tidak tergantung sistem luar
untuk pebarian imbalan jerih payah belajarnya, dosen hanya merupakan sumber
dalam proses belajar, tetapi bukan pengatur atau pengendali.
Menurut Masrun (Patriana, 2007), kemandirian adalah suatu sikap
yang memungkinkan seseorang untuk berbuat bebas, melakukan sesuatu atas
dorongan diri sendiri untuk kebutuhan sendiri, mengejar prestasi, penuh
ketekunan, serta berkeinginan untuk melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain,
mampu berpikir dan bertindak original, kreatif dan penuh inisiatif, mampu
memengaruhi lingkungannya, mempunyai rasa percaya diri terhadap kemampuan diri
sendiri, menghargai keadaan diri sendiri, dan memperoleh kepuasan dari
usahanya.
Kartono (2008) menyatakan bahwa penyesuaian diri dapat diartikan
sebagai usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungan,
sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, prasangka, depresi, kemarahan dan
emosi negatif yang lain sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang
efisien bisa dikikis habis. Maka dari itu penyesuaian diri merupakan proses
dinamis yang bertujuan untuk mengubah tingkah laku individu agar dari perubahan
tingkah laku tersebut dapat terjadi hubungan yang lebih sesuai antara individu
dan lingkungannya.
Dalam kehidupannya, remaja juga berupaya untuk memenuhi dorongan
sosial lain yang memerlukan dukungan finansial. Karena remaja belum sepenuhnya
mandiri, dalam masalah finansial, mereka memperoleh jatah dari orang tua sesuai
dengan kemampuan keluarganya. Rangsangan, tantangan, tawaran, inisiatif,
kreatifitas, petualangan, dan kesempatan-kesempatan yang ada pada remaja
seringkali mengakibatkan melonjaknya penggunaan uang sehingga mengakibatkan
jatah diterima orang tua seringkali tidak cukup. Oleh sebab itu, dalam konteks
ini perjuangan penyesuaian diri remaja adalah berusaha untuk mampu bertindak
secara proposional, melakukan penyesuaian antara kelayakan pemenuhan
kebutuhannya dengan kondisi ekonomi orang tuanya. Dengan upaya penyesuaian,
diharapkan penggunaan uang akan menjadi efektif dan efisien serta tidak
menimbulkan keguncangan pada diri remaja sendiri (Ali Asrori, 2006).
2.
Perbedaan Kemandirian dan Penyesuaian diri antara mahasiswa yang berdomisili di Pondok dan di Kost.
a.
Kemandirian dan Penyesuaian Mahasiswa yang berdomisili di Pondok
Havighrust
(Rice, 1999) menyatakan bahwa kemandirian adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah
yang dihadapi tanpa mengandalkan bantuan dari orang lain dan kemampuan untuk
bertanggung jawab pada keputusan yang diambilnya.
(Fahmy,
1999) menyatakan bahwa dalam ilmu jiwa, penyesuaian diri diartikan sebagai
proses dinamika yang bertujuan untuk mengubah kelakuannya agar terjadi hubungan
yang lebih sesuai antara dirinya dan lingkungan. Penyesuaian diri dalam
pengertian ini disebut sebagai penyelarasan (adjustment) agar individu
dapat diterima di dalam lingkungan tertentu
b.
Kemandirian dan Penyesuaian Mahasiswa yang berada di Kost
Menurut
Masrun (1986), menyatakan bahwa kemandirian adalah suatu sifat yang
memungkinkan untuk seorang bertindak bebas melakukan sesuatu untuk memenuhi
kebutuhannya sendiri dan dorongan diri sendiri, mengejar prestasi dan penuh
ketekunan serta keinginan untuk mengerjakan segala sesuatu tanpa bantuan orang
lain, mampu berpikir dan bertindak original, kreatif, penuh inisiatif, mampu
mengatasi masalah yang dihadapi, mampu mengendalikan tindakan-tindakannya,
mampu mempengaruhi lingkungannya, mempunyai rasa percaya terhadap kemampuan
diri sendiri dan memperoleh kepuasan dari usahanya. Hal ini adalah hasil dari
penyesuaian mahasiswa.
Schneiders
(1964) , Mengemukakan bahwa Penyesuaian diri sosial adalah kemampuan individu
untuk bereaksi secara efektif, sehat dan penuh tanggung jawab dalam menghadapi
segala situsi sosial dan kenyataan yang ada agar tercapai keseimbangan,
keselarasan dan keharmonisan antara kebutuhan diri dan lingkungannya.
[12]F.
Nashori, Hubungan Antara Religiusitas dengan Kemandirian pada Siswa Sekolah
Menengah Umum. Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi No. 8 Th. IV.
(Yogyakarta: UII, 1999), hal. 32
[13] Ali
M, & M. Asrori, Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik.
(Jakarta: Bumi Aksara, 2010),hal. 49
[14] Lilik, Meningkatkan Motivasi, Kemandirian, Dan
Penyesuaian Diri Karyawan. Jurnal Pendidikan BK. Jilid 11. No 1.
Universitas Sebelas Maret :Surakarta, 2008), hal. 63
[15] Gunarsa, S. D.
(Psikologi praktis: anak, remaja, dan keluarga. Jakarta: Gunung Mulia, 2000). Hal, 56
[16] Hurlock, E. (Psikologi
perkembangan: suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta:
Erlangga. 2002). Hal, 145
[17] Sobur
Arikunto. Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. Edisi Revisi.
(Jakarta: Rineka Cipta. 2006). Hal, 526
[18] Desmita. Psikologi
Perkembangan. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2009). Hal, 191
[19] Ibid,. Hal,
192
[20] Fatimah. (Psikologi
perkembangan Peserta Didik. Bandung: CV Pustaka Ceria. 2008). Hal, 35
[21] Desmita.
Psikologi perkembangan. (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2009). Hal, 18
[22]
Schneiders. Personal Adjustment And Mental Healt. (New York: Holt
Rinehart dan Winston. 1964), hal. 79
Tidak ada komentar:
Posting Komentar