Selasa, 06 Juni 2017

BAB II Hubungan kemandirian denganpenyesuaian diri pada mahasiswa perantau di IAIT Kediri

BAB II
KAJIAN TEORI
A.      Kemandirian
1.      Pengertian Kemandirian
Menurut kamus besar bahasa indonesia (KBBI), kemandirian adalah keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
Menurut steinberg (2002), kemandiriaan merupakan kemampuan individu untuk bertingkah laku secara seorang diri.

Menurut Desmita (2010) konsep yang sering digunakan atau berdekatan dengan kemandirian adalah autonomy.
Kemandirian merupakan salah satu ciri kualitas hidup manusia yang memiliki peran penting bagi kesuksesan hidup bangsa maupun individu.[12]
Schaefer (1996) menyebutkan tujuan dari sikap mandiri yaitu untuk menjadi seorang manusia yang dapat mengatur diri sendiri, dapat mengambil inisiatif, dan mengatasi permasalahannya. 
Selain itu individu yang memiliki kemandirian yang kuat akan mampu bertanggungjawab, menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan, berani menghadapi masalah dan resiko, dan tidak mudah terpengaruh atau tergantung pada orang lain[13]
Menurut Steinberg (2002), kemandirian didefinisikan sebagai kemampuan individu dalam bertingkah laku, merasakan sesuatu, dan mengambil keputusan berdasarkan kehendaknya sendiri. Mandiri merupakan salah satu ciri utama kepribadian yang dimiliki oleh seseorang yang telah dewasa dan matang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mandiri merupakan keadaan seseorang yang telah mampu berdiri sendiri serta tidak bergantung kepada orang lain. Namun, seorang individu tidak dengan mudah begitu saja untuk dapat mencapai sifat kemandirian. Seseorang harus melalui proses-proses tertentu untuk dapat mencapai kemandirian.
Kemampuan remaja untuk mengembangkan kemandirian berkaitan dengan pengalaman mereka bersama keluarganya.[14]
2.      Aspek-aspek Kemandirian
Menurut Masrun (1986), terdapat lima aspek penting dalam kemandirian, yaitu:
a.       Kebebasan Bertindak
Ditunjukkan dengan aktivitas sendiri yaitu tindakkan yang dilakukan atas kehendak sendiri bukan karena orang lain, tidak tergantung pada orang lain.
b.      Kemantapan Diri
Ditunjukkan dengan rasa percaya diri yang tinggi terhadao kemampuan diri sendiri, menerima diri sendiri, serta memperoleh kepuasan dari usahanya sendiri.
c.       Inisiatif
Memiliki kreatifitas, mempunyai ide-ide atau gagasan sendiri, menyukai hal-hal baru, suka mencoba dan tidak suka meniru orang lain.

d.      Pengendalian Diri
Ditunjukkan dengan kemampuan mengendalikan emosi, mampu mengendalikan tindakkan, menyukai penyelesaian masalah secara damai, berpikir dahulu sebelum bertindak dan memiliki disiplin diri.
e.       Progresif dan Ulet
Ditunjukkan dengan adanya usaha untuk mengejar prestasi, tidak mudah menyerah dalam menghadapi masalah, tekun dalam usaha mengejar prestasi, mempunyai rencana dalam mewujudkan harapan-harapannya, melakukan banyak cara untuk mencapai tujuan dengan ketepatan tinggi dalam melaksanakan tugas, dan menyukai hal-hal yang menantang.
3.      Efek dari Kemandirian
Menurut Lindzey & Ritter, berpendapat bahwa individu yang mampu mandiri[15] meliputi;
a.         Menunjukkan inisiatif dan berusaha untuk mengejar prestasi
b.         Secara relatif jarang mencari pertolongan pada orang lain
c.         Menunjukkan rasa percaya diri
d.        Mempunyai rasa ingin menonjol
Seiring dengan pendapat dari ahli diatas, Antonius mengemukakan bahwa ciri-ciri individu yang mandiri[16] adalah sebagai berikut:
a.         Percaya diri
b.         Mampu bekerja sendiri
c.         Menguasai keahlian dan keterampilan yang sesuai dengan kerjanya
d.        Menghargai waktu
e.         Tanggung jawab
a)      Kemandirian Mahasiswa perantau yang berdomisili di Pondok
Menurut Widiana (2001), Kemandirian merupakan salah satu karakteristik yang dimiliki oleh seseorang dimana tidak bergantung pada orang tua maupun lingkungan luar dan lebih banyak mengandalkan potensi serta kemampuan yang dimiliki. Awal kemandirian individu dimulai pada masa remaja. Pada masa ini ketergantungan seorang individu terhadap orang tuanya yang merupakan simbol dari masa kanak-kanak mulai terlepas.
b)     Kemandirian Mahasiswa perantau yang berada di Kost
Menurut Bhatia (1977), kemandirian merupakan perilaku yang aktivitasnya diarahkan oleh diri sendiri, tidak mengharapkan pengarahan dari orang lain dan bahkan mencoba memecahkan atau menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa meminta bantuan orang lain.

B.     Penyesuaian Diri
1.      Pengertian Penyesuaian Diri
Menurut Calhoun dan Acocella, Penyesuaian diri dapat didefinisikan sebagai interaksi yang kontinu dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan dunia/ lingkungan.[17]
Kartono (2008) menyatakan bahwa penyesuaian diri adalah reaksi individu terhadap tuntutan yang dihadapkan kepada individu tersebut.
Sedangkan menurut Gerungan (Amar, 2009) menjelaskan bahwa menyesuaikan diri itu diartikan dalam artian yang luas, dan dapat berarti mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan) diri.
Runyon dan Haber (1984) mengatakan bahwa setiap orang pasti mengalami masalah dalam mencapai tujuan hidupnya dan penyesuaian diri sebagai keadaan atau sebagai proses. Mereka terus menerus mengubah tujuannya sesuai dengan keadaan lingkungannya. Individu mengubah tujuan dalam hidupnya seiring dengan perubahan yang terjadi dilingkungannya. Berdasarkan konsep penyesuaian diri sebagai proses, penyesuaian diri yang efektif dapat diukur dengan mengetahui bagaimana kemampuan individu menghadapi lingkungan yang senantiasa berubah.
Aryatmi, (1992) bahwa “Mahasiswa sadar bahwa mencari bekal untuk menjadi kaum intelektual di kemudian hari tidak hanya dengan mengejar ilmu kepandaian, tetapi juga melakukan interaksi sosial dan melakukan sesuatu bagi kehidupan kemanusiaan yaitu penyesuaian diri”.
Pada proses pendewasaan dalam mencapai kesuksesan, mahasiswa perantau dihadapkan pada berbagai perubahan dan perbedaan diberbagai aspek kehidupan yang membutuhkan kepercayaan diri, dan harus banyak penyesuaian (Chandra, 2004).
Penyesuaian diri merupakan suatu konstruksi / bangunan psikologi yang luas dan komplek, serta melibatkan semua reaksi individu terhadap tuntutan baik dari lingkungan luar maupun dari dalam diri individu itu sendiri. Dengan perkataan lain, masalah penyesuaian diri menyangkut aspek kepribadian individu dalam interaksinya dengan lingkungan dalam dan luar dirinya.[18]
Menurut Schneiders, Penyesuaian diri adalah suatu proses yang mencakup respon mental dan tingkah laku, dimana individu berusaha untuk dapat berhasil mengatasi kebutuhan-kebutuhan dalam dirinya, ketegangan-ketegangan, konflik-konflik, dan frustrasi yang dialaminya, sehingga terwujud tingkat keselarasan atau harmoni antara tuntutan dari dalam diri dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan dimana ia tinggal.[19]
Penyesuaian diri menurut Haber dan Runyon (1984), merupakan suatu proses agar individu dapat menerima dan mengatasi perubahan dalam setiap keadaan yang tidak dapat di duga sebelumnya.
Penyesuaian diri terhadap perguruan tinggi merupakan kesejahteraan seorang mahasiswa yang berhubungan dalam hal akademik, sosial, stabilitas emosi, dan komitmen terhadap institusi atau perguruan tinggi (Baker & Siryk, 1984).[20]
Penyesuaian diri terhadap perguruan tinggi dapat memprediksi dua hasil penting dalam konteks pendidikan, yaitu performa akademik seperti indeks prestasi dan kebertahanan mahasiswa untuk melanjutkan perkuliahan (Crede & Niehorster, 2011),
2.      Aspek-Aspek Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri memiliki beberapa aspek. Aspek-aspek penyesuaian diri terdiri dari penyesuain diri negatif (abnormal) dan penyesuaian diri positif (normal). Menurut Schneiders (1964), penyesuaian diri yang baik adalah individu yang dapat memberi respon yang matang, bermanfaat, efisien dan memuaskan.
Penyesuaian diri yang normal dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu:
a.       Mampu mengontrol emosionalitas yang berlebihan
Penyesuaian diri yang normal dapat ditandai dengan tidak adanya emosi yang relatif berlebihan atau tidak terdapat gangguan emosi yang merusak. Individu yang mampu menanggapi situasi atau masalah yang dihadapinya dengan cara yang normal akan merasa tenang dan tidak panik sehingga dapat menentukan penyelesaian masalah yang dibebankan kepadanya.
b.      Mampu mengatasi mekanisme psikologis
Kejujuran dan keterusterangan terhadap adanya masalah atau konflik yang dihadapi individu akan lebih terlihat sebagai reaksi yang normal dari pada suatu reaksi yang diikuti dengan mekanisme-mekanisme pertahanan diri seperti rasionalisasi, proyeksi, atau kompensasi. Individu mampu menghadapi masalah dengan pertimbangan yang rasional dan mengarah langsung kepada masalah.
c.       Mampu mengatasi perasaan frustrasi pribadi
Adanya perasaan frustrasi akan membuat individu sulit atau bahkan tidak mungkin bereaksi secara normal terhadap situasi atau masalah yang dihadapinya. Individu harus mampu menghadapi masalah secara wajar, tidak menjadi cemas dan frustrasi.
d.      Kemampuan untuk belajar
Mampu untuk mempelajari pengetahuan yang mendukung apa yang dihadapi sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat dipergunakan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi.
e.       Kemampuan memanfaatkan pengalaman
Adanya kemampuan individu untuk belajar dan memanfaatkan pengalaman merupakan hal yang penting bagi penyesuaian diri yang normal. Dalam menghadapi masalah, individu harus mampu membandingkan pengalaman diri sendiri dengan pengalaman orang lain sehingga pengalaman-pengalaman yang diperoleh dapat digunakan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi.
f.       Memiliki sikap yang realistis dan obyektif
Karakteristik ini berhubungan erat dengan orientasi seseorang terhadap realitas yang dihadapinya. Individu mampu mengatasi masalah dengan segera, apa adanya dan tidak ditunda-tunda.
3.      Karakteristik Penyesuaian Diri
Harber dan Runyon (1984), menjelaskan lima karakteristik dari penyesuaian diri yang efektif,yaitu:
a.       Persepsi yang akurat terhadap kenyataan
Individu dikatakan memiliki persepsi yang tepat tentang kenyataan jika individu dapat melihat kenyataan seperti layaknya kebanyak orang mempersepsikan kenyataan tersebut. Selain itu, individu juga mampu menyusun tujuan hidupnya secara realistis sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang ada pada lingkungannya, serta secara aktif bergerak untuk mencapai tujuan tersebut.
b.      Mampu mengatasi stress dan kecemasan
Dalam hal individu harus belajar bahwa ia dihadapkan pada tujuan yang membutuhkan proses dan waktu. Penundaan kepuasan dari kebutuhan ini seringkali memunculkan rasa gelisah dan tekanan sehingga menimbulkan stress dan perasaan tidak nyaman.
c.       Citra diri yang positif
Individu dapat menyesuaikan dirinya dengan efektif apabila mampu memandang dirinya dengan suatu cara yang positif. Dalam hal ini, individu harus dapat menerima kekurangan dirinya sama seperti kelebihan yang dimilikinya sehingga individu mengerti benar kapasitas dirinya dan kemudian dapat mengembangkan, kelebihan-kelebihan yang dimilikinya tersebut.
d.      Mampu mengekspresikan emosi
Orang yang sehat secara emosional adalah orang yang mampu merasakan dan mengekspresikan seluruh spectrum dari emosi dan perasaannya. Individu dapat menunjukkan emosinya secara realistis namun tetap terkendali.
e.       Hubungan interpersonal yang baik
Orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik mampu untuk mencapai tingkat keakraban (intimacy) yang tepat dalam hubungan social mereka. Individu dapat berkompeten dan merasa nyaman dalam berinteraksi dengan orang lain.
4.      Faktor-faktor yang mempengaruhi Penyesuaian Diri
Menurut Kehler (Rahmat, 2009) mengelompokkan faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri sebagai berikut:
a.       Kondisi fisik
·       Pengaruh Pembawaan dan Keadaan Jasmani
Pembawaan dan keadaan jasmani sangat berpengaruh terhadap proses penyesuaian diri. Menurut Sunarto “struktur jasmani merupakan kondisi prima bagi tingkah laku”.[21]
·      Kesehatan dan Penyakit Jasmani
Gangguan penyakit jasmaniah yang diderita oleh seseorang akan menganggu proses penyesuaian diri. Hal ini disebabkan penyakit kronis yang dapat menimbulkan kurangnya kepercayaan pada diri sendiri, ketergantungan dan perasaan ingin dikasihi.
b.      Kondisi Psikologis
·      Pengalaman
Pergaulan yang menyenangkan akan menimbulkan proses penyesuaian diri yang baik, sebaliknya pergaulan yang buruk akan menimbulkan penyesuaian diri yang negative karena pergaulan akan menjadi pengalaman yang berarti bagi individu.

·      Belajar
Belajar merupakan sesuatu yang fundamental dalam proses penyesuaian diri karena melalui proses belajar individu akan berkembang pola-pola respon yang akan membentuk kepribadiannya. Sebagian besar respon dan ciri-ciri kepribadian lebih banyak yang diperoleh secara genetik. Dalam proses penyesuaian diri belajar merupakan proses modifikasi.
c.       Kemandirian
Kemandirian merupakan unsur penting dalam proses penyesuaian diri karena melalui kemandirian, individu akan selalu merasa siap untuk menghadapi situasi maupun kondisi baru yang akan dihadapi sepanjang hidupnya.
5.      Kriteria Penyesuaian Diri Sosial
Penyesuaian diri dalam segi sosial memiliki beberapa kriteria[22] yaitu
a.       Penyesuaian sosial di lingkungan keluarga
·         Menjalin hubungan yang baik dengan para anggota keluarga (orangtua dan saudara).
·         Menerima otoritas orangtua, menaati peaturan yang ditetapkan orangtua.
·         Berusaha untuk membantu anggota keluarga dan menerima tanggung jawab sebagai anggota keluarga.

b.      Penyesuaian sosial di lingkungan sekolah
·      Bersikap respek dan mau menerima peraturan sekolah
·      Bepartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sekolah
·      Menjalin persahabatan dengan teman-teman di sekolah
·      Bersikap hormat pada guru, pemimpin sekolah dan staff lainnya.
c.       Penyesuaian sosial di lingkungan masyarakat
·      Mengakui dan menghargai hak-hak orang lain
·      Memelihara jalinan persahabatan dengan orang lain
·      Bersikap simpati terhadap kesejahteraan orang lain
·      Mau mengikuti kegiatan sosial dalam masyarakat
·      Mengikuti norma-norma dan peraturan yang berlaku dalam masyarakat
a)        Penyesuaian Diri Mahasiswa perantau yang berdomisili di Pondok
Kartono (2008) menyatakan bahwa penyesuaian diri adalah reaksi individu terhadap tuntutan yang dihadapkan kepada individu tersebut.
Menurut Chaplin (2002) kemandirian adalah kebebasan individu untuk memilih, untuk menjadi kesatuan yang bisa memerintah, menguasai dan menentukan dirinya sendiri.
b)        Penyesuaian Diri Mahasiswa perantau yang berada di Kost
Menurut Calhoun dan Acocella (Wijaya, 2007) penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri di lingkungannya. Dan proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan.
C.    Hubungan serta perbedaan kemandirian dan penyesuaian diri antara mahasiswa yang berdomisili di pondok dan di kost.
1.    Hubungan kemandirian dan penyesuaian diri mahasiswa yang berdomisili di pondok dan di kost.
Runyon dan Haber (Irene, 2013) mengatakan bahwa setiap orang pasti mengalami masalah dalam mencapai tujuan hidupnya dan penyesuaian diri sebagai keadaan atau sebagai proses kemandirian seseorang.
Menurut Steinberg (2002), kemandirian merupakan kemampuan individu untuk bertingkah laku secara seorang diri.
Menurut Wragg E.C (Kartadinata, 2001), kemandirian belajar adalah proses dimana peajar mengembangkan keterampilan-keterampilan penting yang memungkinkannya menjadi pelajar yang mandiri,  pelajar dimotivasi oleh tujuannya sendiri, imbalan dari proses belajar bersifat intrinsik atau nyata bagi pelajar dan tidak tergantung sistem luar untuk pebarian imbalan jerih payah belajarnya, dosen hanya merupakan sumber dalam proses belajar, tetapi bukan pengatur atau pengendali.
Menurut Masrun (Patriana, 2007), kemandirian adalah suatu sikap yang memungkinkan seseorang untuk berbuat bebas, melakukan sesuatu atas dorongan diri sendiri untuk kebutuhan sendiri, mengejar prestasi, penuh ketekunan, serta berkeinginan untuk melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain, mampu berpikir dan bertindak original, kreatif dan penuh inisiatif, mampu memengaruhi lingkungannya, mempunyai rasa percaya diri terhadap kemampuan diri sendiri, menghargai keadaan diri sendiri, dan memperoleh kepuasan dari usahanya.
Kartono (2008) menyatakan bahwa penyesuaian diri dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungan, sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, prasangka, depresi, kemarahan dan emosi negatif yang lain sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis. Maka dari itu penyesuaian diri merupakan proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah tingkah laku individu agar dari perubahan tingkah laku tersebut dapat terjadi hubungan yang lebih sesuai antara individu dan lingkungannya.
Dalam kehidupannya, remaja juga berupaya untuk memenuhi dorongan sosial lain yang memerlukan dukungan finansial. Karena remaja belum sepenuhnya mandiri, dalam masalah finansial, mereka memperoleh jatah dari orang tua sesuai dengan kemampuan keluarganya. Rangsangan, tantangan, tawaran, inisiatif, kreatifitas, petualangan, dan kesempatan-kesempatan yang ada pada remaja seringkali mengakibatkan melonjaknya penggunaan uang sehingga mengakibatkan jatah diterima orang tua seringkali tidak cukup. Oleh sebab itu, dalam konteks ini perjuangan penyesuaian diri remaja adalah berusaha untuk mampu bertindak secara proposional, melakukan penyesuaian antara kelayakan pemenuhan kebutuhannya dengan kondisi ekonomi orang tuanya. Dengan upaya penyesuaian, diharapkan penggunaan uang akan menjadi efektif dan efisien serta tidak menimbulkan keguncangan pada diri remaja sendiri (Ali Asrori, 2006).

2.    Perbedaan Kemandirian dan Penyesuaian diri antara mahasiswa  yang berdomisili di Pondok dan di Kost.
a.      Kemandirian dan Penyesuaian Mahasiswa yang berdomisili di Pondok
Havighrust (Rice, 1999) menyatakan bahwa kemandirian adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi tanpa mengandalkan bantuan dari orang lain dan kemampuan untuk bertanggung jawab pada keputusan yang diambilnya.
(Fahmy, 1999) menyatakan bahwa dalam ilmu jiwa, penyesuaian diri diartikan sebagai proses dinamika yang bertujuan untuk mengubah kelakuannya agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara dirinya dan lingkungan. Penyesuaian diri dalam pengertian ini disebut sebagai penyelarasan (adjustment) agar individu dapat diterima di dalam lingkungan tertentu
b.      Kemandirian dan Penyesuaian Mahasiswa yang berada di Kost
Menurut Masrun (1986), menyatakan bahwa kemandirian adalah suatu sifat yang memungkinkan untuk seorang bertindak bebas melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan dorongan diri sendiri, mengejar prestasi dan penuh ketekunan serta keinginan untuk mengerjakan segala sesuatu tanpa bantuan orang lain, mampu berpikir dan bertindak original, kreatif, penuh inisiatif, mampu mengatasi masalah yang dihadapi, mampu mengendalikan tindakan-tindakannya, mampu mempengaruhi lingkungannya, mempunyai rasa percaya terhadap kemampuan diri sendiri dan memperoleh kepuasan dari usahanya. Hal ini adalah hasil dari penyesuaian mahasiswa.
Schneiders (1964) , Mengemukakan bahwa Penyesuaian diri sosial adalah kemampuan individu untuk bereaksi secara efektif, sehat dan penuh tanggung jawab dalam menghadapi segala situsi sosial dan kenyataan yang ada agar tercapai keseimbangan, keselarasan dan keharmonisan antara kebutuhan diri dan lingkungannya.




[12]F. Nashori, Hubungan Antara Religiusitas dengan Kemandirian pada Siswa Sekolah Menengah Umum. Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi No. 8 Th. IV. (Yogyakarta: UII, 1999), hal. 32
[13] Ali M, & M. Asrori, Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik. (Jakarta: Bumi Aksara, 2010),hal. 49
[14] Lilik,  Meningkatkan Motivasi, Kemandirian, Dan Penyesuaian Diri Karyawan. Jurnal Pendidikan BK. Jilid 11. No 1. Universitas Sebelas Maret :Surakarta, 2008), hal. 63
[15] Gunarsa, S. D. (Psikologi praktis: anak, remaja, dan keluarga. Jakarta: Gunung Mulia,  2000). Hal, 56
[16] Hurlock, E. (Psikologi perkembangan: suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga. 2002). Hal, 145
[17] Sobur Arikunto. Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. Edisi Revisi. (Jakarta: Rineka Cipta. 2006). Hal, 526
[18] Desmita. Psikologi Perkembangan. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2009). Hal, 191
[19] Ibid,. Hal, 192
[20] Fatimah. (Psikologi perkembangan Peserta Didik. Bandung: CV Pustaka Ceria. 2008). Hal, 35
[21] Desmita. Psikologi perkembangan. (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2009). Hal, 18
[22] Schneiders. Personal Adjustment And Mental Healt. (New York: Holt Rinehart dan Winston. 1964), hal. 79

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SKRIPSI Hubungan Kemandirian dengan Penyesuaian DIri pada Mahasiswa Perantau di Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri BAB I PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang Masalah Sering kita temui mahasiswa yang meninggalkan tanah kelahirannya hanya untuk mencari ilmu. Pelajar ya...