Proposal
Skripsi
HUBUNGAN KEMANDIRIAN
DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA MAHASISWA PERANTAU DI INSTITUT AGAMA ISLAM
TRIBAKTI (IAIT) KEDIRI

OLEH
NADYA
KHUSSOTU BIRLIANA
NPM :
2013.06.0.0087
NIRM :
2013.4.008.0425.000070
INSTITUT AGAMA ISLAM TRIBAKTI (IAIT) KEDIRI
FAKULTAS DAKWAH
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI ISLAM
FEBRUARI 2017
Proposal
Skripsi
HUBUNGAN KEMANDIRIAN
DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA MAHASISWA PERANTAU DI INSTITUT AGAMA ISLAM
TRIBAKTI (IAIT) KEDIRI
Proposal
Diajukan
untuk memenuhi salah satu persyaratan
dalam
menyelesaikan skripsi
Oleh
Nadya
Khussotu Birliana
NPM :
2013.06.0.0087
NIRM :
2013.4.008.0425.000070
INSTITUT AGAMA ISLAM TRIBAKTI (IAIT) KEDIRI
FAKULTAS DAKWAH
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI ISLAM
FEBRUARI 2017
HUBUNGAN KEMANDIRIAN DENGAN
PENYESUAIAN DIRI PADA MAHASISWA PERANTAU DI INSTITUT AGAMA ISLAM TRIBAKTI
(IAIT) KEDIRI
A.
LATAR
BELAKANG
Sering kita temui mahasiswa yang
meninggalkan tanah kelahirannya hanya untuk mencari ilmu. Pelajar yang rela
meninggalkan orang tua, kerabat, saudara, sahabat, dan segalanya yang ada di
daerah mereka.
Terutama mahasiswa yang meninggalkan
daerahnya dan hanya kembali ke rumah jika tugas mereka telah usai. Seperti
halnya mahasiswa yang tinggal di kos-kosan atau mungkin tinggal di pesantren, mahasiswa
seperti mereka patut di beri acungan jempol karena merelakan jiwa dan raganya
untuk mencari ilmu di kota orang.
Kemandirian adalah Sikap mandiri
seseorang tidak terbentuk dengan cara yang mendadak, namun melalui proses sejak
masa anak-anak. Dalam perilaku mandiri antar individu tidak sama, kondisi ini
dipengaruhi oleh banyak hal. Hal yang mempengaruhi atau faktor penyebab sikap
mandiri seseorang itu dibagi menjadi dua, yaitu faktor dari dalam individu dan
faktor dari luar individu.
Kemerdekaan tidak adanya bimbingan,
tetapi hasil dari proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk
mendapatkan kebutuhan yang cukup untuk merencanaan dan
tindakan wawasan.[1]
Penyesuaian
diri atau adaptasi adalah suatu proses alamiah dan dinamis yang bertujuan
mengubah perilaku individu agar tercipta hubungan yang lebih sesuai antara
kondisi diri dengan kondisi lingkungannya.[2]
Penyesuaian
diri bertujuan mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan,
tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan) diri.[3]
Transisi
dalam kehidupan menghadapkan individu pada perubahan-perubahan dan
tuntutan-tuntutan sehingga diperlukan adanya penyesuaian diri. Runyon dan Haber
mengatakan bahwa setiap orang pasti mengalami masalah dalam mencapai tujuan
hidupnya dan penyesuaian diri sebagai keadaan atau sebagai proses.
Mereka
terus menerus mengubah tujuannya sesuai dengan keadaan lingkungannya. Individu
mengubah tujuan dalam hidupnya seiring dengan perubahan yang terjadi
dilingkungannya. Berdasarkan konsep penyesuaian diri sebagai proses penyesuaian
diri yang efektif dapat diukur dengan mengetahui bagaimana kemampuan individu
menghadapi
Kemandirian didefinisikan
sebagai kemampuan individu dalam bertingkah laku, merasakan sesuatu, dan
mengambil keputusan berdasar kehendaknya sendiri. Peningkatan tanggung jawab,
kemandirian, dan menurunnya tingkat ketergantungan remaja terhadap orang tua,
adalah perkembangan yang harus dipenuhi individu pada periode remaja akhir.[4]
Menurut Calhoun
dan Acocella, penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan
pada diri sendiri di lingkungannya. Dan proses bagaimana individu mencapai
keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan sekitar
tempat individu hidup.[5]
Sedangkan
menurut Gerungan menjelaskan bahwa menyesuaikan diri itu diartikan dalam artian
yang luas, dan dapat berarti mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan,
tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan) diri.[6]
Kemandirian itu tumbuh atas tuntutan
yang harus di lakukan dalam penyesuaian sosial karena keberadaannya di
lingkungan yang baru serta keadaan sosial yang berbeda dari lingkungan tanah kelahirannya.
Alasan peneliti mengambil tema
kemandirian yang digabungkan dengan penyesuaian sosial adalah karena berdasarkan pengamatan peneliti
tentang banyaknya mahasiswa Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri yang
kemandirian dan penyesuaian sosialnya
berhubungan.
Dalam penelitian ini peneliti
mengambil sampel mahasiswa Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri yang
berdomosili di pondok pesantren dan di kost yang notabenenya mereka adalah
mahasiswa yang merantau dan rela meninggalkan segalanya dari tanah kelahiran.
Selain itu, peneliti juga akan
memaparkan tentang hubungan serta perbedaan antara kemandirian dan penyesuaian
sosial mahasiswa perantau yang berdomisili di pondok pesantren serta
kemandirian dan penyesuaian sosial mahasiswa yang domisilinya berada di kost.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana
kemandirian mahasiswa perantau di pondok dan di kost ?
2.
Bagaimana
penyesuaian sosial mahasiswa perantau di pondok dan di kost?
3.
Bagaimana hubungan dan perbedaan antara
kemandirian dengan penyesuaian sosial mahasiswa perantau di pondok dan di kost ?
C. TUJUAN PENELITIAN
1.
Untuk
mengetahui kemandirian mahasiswa perantau di pondok dan di kost
2.
Untuk
mengetahui penyesuaian sosial pada mahasiswa perantau di pondok dan di
kost
3.
Untuk
mengetahui hubungan dan perbedaan antara kemandirian dengan penyesuaian sosial
mahasiswa perantau di pondok dan di kost
D. MANFAAT
PENELITIAN
1.
Manfaat
Teoritis
a.
Menambah
keilmuan bidang kemandirian.
b.
Menambah
wawasan dalam penyesuain sosial.
2.
Manfaat
Praktis
a.
Untuk
acuan menjadi mahasiswa yang dapat mengembangkan kemandiriannya.
b.
Memudahkan
mahasiswa dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.
c.
Dapat
dijadikan motivasi untuk menjadi anak mandiri dan dapat berbaur dengan
lingkungan dengan baik.
E. HIPOTESIS PENELITIAN
Hipotesis alternatif (Ha).
Adanya hubungan antara kemandirian dengan penyesuaian sosial mahasiswa
perantau baik yang berdomisili di pondok maupun yang di kost. Hubungan ini di dukung dengan teori Musdalifah (2007) bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi kemandirian salah satunya adalah penyesuaian diri.
Pada proses pendewasaan dalam mencapai
kesuksesan, mahasiswa perantau dihadapkan pada berbagai perubahan dan
perbedaan diberbagai aspek kehidupan yang membutuhkan kepercayaan diri, mandiri
serta banyak penyesuaian (Chandra, 2004).
Beberapa
alasan mahasiswa perantau adalah untuk mencari pendidikan yang lebih baik,
bebas kendali dari orang tua, ingin merasakan sesuatu yang baru di daerah yang
baru, mengetahui dan mengenal adat dan budaya daerah lain, ingin menyesuaikan diri
dengan lingkungan yang baru serta ingin melatih diri agar lebih mandiri.
Seiring dengan kemajuan zaman dan kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi
anak-anak, maka orang tua mereka memperbolehkan anak-anaknya untuk merantau
agar memiliki kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya (Irene, 2013).
Fenomena mahasiswa perantau umumnya bertujuan untuk meraih kesuksesan
melalui kualitas pendidikan yang lebih baik pada bidang yang diinginkan. Fenomena
ini juga dianggap sebagai usaha pembuktian
kualitas diri sebagai orang dewasa yang mandiri dan bertanggung jawab dalam membuat
keputusan[7]
F.
DEFINISI OPERASIONAL
Definisi
operasional sangat perlu dilakukan untuk memudahkan pengukuran, dan mempermudah
dalam penggalian data di lapangan.
Dalam
proposal ini membahas mengenai kemandirian serta penyesuaian sosial mahasiswa perantau
yang jauh dari orang tua atau meninggalkan tanah kelahirannya. Adapun definisi
operasional yang akan dibuat adalah
1. Kemandirian mahasiswa menghadapi berbagai permasalahan
di pondok ataupun di kos baik dari tugas kampus maupun lingkungan sekitar
tempat tinggal mahasiswa perantau.
2. Penyesuaian diri mahasiswa perantau di lingkungan
tempat tinggalnya.
Ciri-ciri
kemandirian dan penyesuaian mahasiswa perantau :
Menurut
Masrun, kemandirian adalah suatu sikap yang memungkinkan seseorang untuk
berbuat bebas, melakukan sesuatu atas dorongan diri sendiri untuk
kebutuhan sendiri, mengejar prestasi, penuh ketekunan, serta berkeinginan untuk
melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain, mampu berpikir dan bertindak
original, kreatif dan penuh inisiatif, mampu memengaruhi lingkungannya,
mempunyai rasa percaya diri terhadap kemampuan diri sendiri, menghargai keadaan
diri sendiri, dan memperoleh kepuasan dari usahanya.[8]
G. KAJIAN TEORI
1.
Kemandirian
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia
mandiri adalah ”berdiri sendiri”. Kemandirian adalah tidak menggantungkan diri
kepada orang lain, seseorang dituntut untuk memiliki keaktifan dan inisiatif
sendiri dalam belajar, bersikap, berbangsa maupun bernegara (Abu Ahmadi dan Nur
Uhbiyati, 1990:13).
Kemandirian merupakan kesadaran
diri, digerakkan oleh diri sendiri, kemampuan belajar untuk mencapai tujuannya.[9]
Kemandirian dapat dideskripsikan sebagai
berikut:[10]
a. Berusaha untuk
meningkatkan tanggung jawab dalam mengambil berbagai keputusan.
b. Kemandirian
dipandang sebagai suatu sifat yang sudah ada pada setiap orang dan situasi pembelajaran.
c. Kemandirian
bukan berarti memisahkan diri dari orang lain.
d. Pembelajaran
mandiri dapat mentransfer hasil belajarnya yang berupa pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai
situasi.
e. Belajar mandiri
dapat melibatkan berbagai sumber daya dan
aktivitas seperti membaca sendiri, belajar kelompok, latihan dan kegiatan korespondensi.
f. Beberapa
institusi pendidikan menemukan cara untuk mengembangkan belajar mandiri melalui
program pembelajaran terbuka.
Ciri-ciri
Kemandirian menurut Steinberg yang berkaitan dengan kemandirian mahasiswa perantau
yaitu, tanggung jawab terhadap tugas untuk menyelesaikan sesuatu dan diminta
pertanggungjawaban atas hasil kerjanya.[11]
Calhoun dan
Acocella menambahkan salah satu ciri-ciri dari penyesuaian diri yaitu memiliki
persepsi yang akurat pada realita, mampu beradaptasi dengan tekanan atau stress
dan kecemasan, memiliki gambaran diri yang positif tentang dirinya, mampu
mengekspresikan perasaan dengan tepat, mampu menjalin relasi interpersonal
dengan baik, mengatur ritme hidup, mengelola diri dengan perubahan yang
terjadi.[12]
Aspek-aspek
kemandirian
Kemandirian
merupakan bagian dari pencapaian otonomi diri pada remaja. Untuk mencapai
kemandirian pada remaja melibatkan tiga aspek[13]
yaitu:
a.
Aspek emotional autonomy, yaitu aspek
kemandirian yang berkaitandengan perubahan hubungan individu, terutama dengan
orangtua. Individu mampu melepaskan ketergantungannya dengan orang tua dan
dapat memenuhi kebutuhan kasih sayangnya tanpa adanya andil dari orang tua.
b.
Aspek behavioral autonomy, yaitu
kemampuan untuk membuat suatu keputusan sendiri dan menjalankan keputusan
tersebut. Individu tersebut mampu menjalankan kehidupan sehari-hari sesuai
dengan tingkah laku pribadinya masing-masing.
c.
Aspek value autonomy, yaitu memiliki
seperangkat prinsip-prinsip tentang mana yang benar dan mana yang salah,
mengenai mana yang penting dan mana yang tidak penting. Individu dapat
melakukan hal-hal sesuai dengan pendiriannya dan sesuai dengan penilaiannya
tentang perilaku
tersebut.
Kemandirian
mahasiswa perantau yang berdomisili di Pondok
Mahasiswa perantau yang berdomisili di pondok kebanyakan karena menghindari
tindak kejahatan yang ada di lingkungan tanah kelahirannya, hal ini sesuai
dengan pernyataan Gottman & DeClaire bahwasannya remaja menjadi rentan untuk
terlibat pada kasus-kasus kriminalitas akibat pengaruh kekuatan yang tidak baik
dalam lingkungan sosialnya, seperti resiko pemakaian obat terlarang, kekerasan
atau kegiatan seksual yang tidak aman[14]
Kemandirian mahasiswa perantau yang berdomisili di Kost
Mahasiswa
perantau yang berdomisili di Kost memiliki tujuan agar mampu bertindak
berdasarkan kehendak dirinya sendiri tanpa adanya patutan dari orang tua. Kemandirian didefinisikan sebagai kemampuan individu dalam
bertingkah laku, merasakan sesuatu, dan mengambil keputusan berdasarkan
kehendaknya sendiri. Mandiri merupakan salah satu ciri utama kepribadian yang
dimiliki oleh seseorang yang telah dewasa dan matang[15]
2.
Penyesuaian Sosial
Penyesuaian Sosial adalah sebuah interaksi yang di
lakukan oleh seseorang dengan orang lain dan lingkungan. Calhoun dan Acocella menyatakan bahwa penyesuaian diri adalah
sebuah interaksi individu yang terus-menerus dengan dirinya sendiri, dengan
orang lain dan dengan lingkungan sekitar tempat individu hidup. [16]
Penyesuaian diri adalah reaksi individu terhadap tuntutan yang
dihadapkan kepada individu tersebut. Penyesuaian diri dapat diartikan sebagai
usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungan,
sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, prasangka, depresi, kemarahan dan
emosi negatif yang lain sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien
bisa dikikis habis. Maka dari itu penyesuaian diri merupakan proses dinamis
yang bertujuan untuk mengubah tingkah laku individu agar dari perubahan tingkah
laku tersebut dapat terjadi hubungan yang lebih sesuai antara individu dan
lingkungannya.[17]
Sedangkan menurut Gerungan menjelaskan bahwa menyesuaikan diri itu
diartikan dalam artian yang luas, dan dapat berarti mengubah diri sesuai dengan
keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan
(keinginan) diri.[18]
Aspek-aspek
Penyesuaian Diri
Menurut
Runyon dan Haber menyebutkan bahwa penyesuaian diri yang dilakukan individu
memiliki lima aspek[19]
sebagai berikut:
a.
Persepsi yang akurat terhadap realita
Individu
tersebut mengubah persepsinya tentang kenyataan hidup dan kemudian
menginterpretasikannya, sehingga individu mampu menentukan tujuan yang
realistik sesuai dengan kemampuannya serta mampu mengenali konsekuensi dan
tindakannya agar dapat menuntun pada perilaku yang sesuai.
b.
Kemampuan untuk mengatasi stress dan kecemasan
Mempunyai kemampuan mengatasi stres dan kecemasan berarti individu
mampu mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam hidup dan mampu menerima
kegagalan yang dialami.
c.
Self- image positif
Penilaian
diri yang kita lakukan harus bersifat positif dan negatif. Kita tidak boleh
terjebak pada satu penilaian saja terutama penilaian yang tidak diinginkan,
kita harus berusaha memodifikasi penilaian positif dan negatif tersebut menjadi
suatu perubahan yang lebih luas dan lebih baik. Individu seharusnya mengakui
kelemahan dan kelebihannya, jika seseorang mengetahui dan memahami dirinya
denga cara yang realistik, dia akan mampu mengembangkan potensi, sumber-sumber
dirinya secara penuh.
d.
Kemampuan untuk mengungkapkan perasaan
Individu
mampu mengekspresikan keseluruhan emosi secara realistik dan tetap berada di
bawah kontrol. Masalah-masalah dalam pengungkapan perasaan seperti kurang
kontrol atau adanya kontrol yang berlebihan. Kontrol yang berlebihan dapat
menyebabkan dampak yang negatif, sedangkan kurangnya kontrol akan menyebabkan
emosi yang berlebihan.
e.
Hubungan interpersonal yang baik
Manusia
pada dasarnya adalah makhluk sosial. Sejak kita berada dalam kandungan, kita
selalu tergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti
kebutuhan fisik, sosial dan emosi. Individu yang dapat menyesuaikan diri dengan
baik mampu menciptakan suatu hubungan yang saling menguntungkan satu sama lain.
H. METODE PENELITIAN
Metode
penelitian merupakan suatu cara yang dilakukan untuk mmenentukan/menggali
sesuatu yang telah ada untuk kemudian diuji kebenarannya yang mungkin masih
diragukan.[20]
1.
Rancangan Penelitian
Penelitian ini di rencanakan menggunakan metode
kuantitatif yang mana di hitung dengan menggunakan perhitungan statistik dan
SPSS dengan korelasi untuk mengukur perbedaan.
2.
Populasi dan Sampel Penelitian.
Populasi penelitiannya adalah mahasiswa
perantau semester II
Sample penelitiannya di Institut
Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri
3.
Instrumen Penelitian
Instrumen
penelitian menggunakan perangkat tes, pedoman observasi, skala, kamera dan
sebaginya.
Menurut Suharmi Arikunto ada
beberapa instrument yang namanya sama dengan metodenya[21]
antara lain adalah:
a)
Instrument untuk metode tes adalah
tes atau soal tes.
b)
Instrument untuk metode angaket atau
kuesioner adalah angket atau kuesioner.
c)
Instrument untuk metode observasi
adalah pedoman observasi atau dapat juga chek-list
Skor dalam setiap item berkisar dari
4 sampai 1, diberikan untuk item yang bersifat favourabel, sedangkan untuk item
yang unfavourabel bergerak dari 1 sampai 4.[22]
Beberapa pernyataan:
Aspek 1:
a) Jika anda mendapat tugas, maka segera anda kerjakan
(fav)
b) Jika dosen memberi tugas, anda langsung menghubungi
kakak untuk membantu mengerjakan (unfav)
c) Anda akan selalu berusaha sendiri sebisa mungkin (fav)
d) Waktu anda hanya bisa di kerjakan dengan teman (unfav)
Aspek 2:
a) Meskipun
anda mandiri tapi kebersamaan dengan teman tetap terjaga. (fav)
b) Anda akan lebih
senang sendiri dari pada dengan teman-teman.(unfav)
c) Anda
mengerjakan terlebih dahulu baru jika adateman yang tanya anda akan
membantunya. (fav)
d) ada waktu luang anda akan ngobrol sampai lupa
waktu. (unfav)
Penyesuaian diri
dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri
dan pada lingkungan, sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, prasangka,
depresi, kemarahan dan emosi negatif yang lain sebagai respon pribadi yang
tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis.[23]
Maka dari itu
penyesuaian diri merupakan proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah tingkah
laku individu agar dari perubahan tingkah laku tersebut dapat terjadi hubungan
yang lebih sesuai antara individu dan lingkungannya.[24]
4.
Teknik pengumpulan data
menggunakan Simple random sampling, yang mana pemilihan dilakukan dengan cara acak, di
mana daftar nama responden dilakukan pengundian untuk terpilih.
5.
Analisis Data
Analisis
data adalah upaya atau cara untuk mengolah data menjadi informasi sehingga
karakteristik data tersebut bisa dipahami dan bermanfaat untuk solusi
permasalahan, tertutama masalah yang berkaitan dengan penelitian.
Adapun
langkah-langkah dalam analisis data, yang diantaranya sebagai berikut ini:
a. Tahap
pengumpulan data.
b. Tahap
editing. Pada tahap ini yaitu memeriksa kejelasan maupun kelengkapan mengenai
pengisian instrumen pengumpulan data.
c. Tahap
koding. Maksudnya pada tahap ini melakukan proses identifikasi dan proses
klasifikasi dari tiap-tiap pernyataan yang terdapat pada instrumen pengumpulan
data berdasarkan variabel yang sedang diteliti.
d. Tahap
tabulasi. Melakukan kegiatan mencatat ataupun entri data kedalam tabel-tabel
induk dalam penelitian.
e. Tahap
pengujian. Pada tahapan ini data akan diuji kualitasnya yaitu menguji validitas
maupun realiabilitas instrumen dari pengumpulan data.
f. Tahap
mendeskripsikan data. Menyajikan dalam bentuk tabel frekuensi ataupun
diagram dan dalam berbagai macam ukuran tendensi sentral maupun ukuran
dispersi. Dengan tujuan untuk memahami karakteristik data sampel dari
penelitian tersebut.
g. Tahap
pengujian hipotesis. Tahap ini merupakan tahapan pengujian terhadap proposisi
apakah ditolak atau bisa diterima dan memiliki makna atau tidak, atas dasar
hipotesis inilah nantinya keputusan akan dibuat.
Teknik analisis data dalam
penelitian ada 2 (dua) jenis, yang diantaranya sebagai berikut ini:
a.
Teknik analisis data statistik
secara deskriptif.
Teknik
analisis data deskriptif merupakan tekhnik analisis yang dipakai untuk
menganalisis data dengan mendeskripsikan atau menggambarkan data-data yang
sudah dikumpulkan seadanya tanpa ada maksud membuat generalisasi dari hasil
penelitian.Yang termasuk dalam teknik analisis data statistik deskriptif
diantaranya seperti penyajian data kedalam bentuk grafik, tabel, presentase,
frekwensi, diagram, grafik, mean, modus dll. Itulah penjelasan mengenai
tekhnik analisis data deskriptif.
b.
Teknik analisis data statistik secara
inferensia
Teknik analisis data inferensia merupakan statistik
yang dipakai untuk melakukan analisis data dengan cara membuat kesimpulan yang
berlaku secara umum.
Ciri dari
analisis data inferensial yaitu digunakanya rumus statistik tertentu, lalu
hasil perhitungan yang sudah dilakukan itulah yang nantinya akan menjadi dasar
dari pembuatan generalisasi yang berasal dari samber bagi populasi.
Dengan
begitu statistik inferensial mempunyai fungsi untuk mengeneralisasikan hasil
dari penelitian sampel untuk populasi, sesuai dengan fungsi itulah maka
statistik inferensial sangat berguna untuk penelitian sampel.
Korelasi adalah
istilah statistik yang menyatakan derajat hubungan linier (searah bukan timbal
balik) antara dua variabel atau lebih. Penelitian ini menggunakan korelasi Product
Moment Pearson, yakni variabelnya berskala interval yang
bertujuan :
a. Untuk menyatakan ada atau tidaknya hubungan antara variabel X dengan variabel
Y
b. Untuk menyatakan besarnya sumbangan variabel satu terhadap yang lainnya
yang dinyatakan dalam persen.
I. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan merupakan
suatu penjabaran tentang hal-hal yang akan ditulis, yang secara garis besar
terdiri dari bagian awal, bagian isi dan bagian akhir.[25]
Adapun sistematika penulisan yang
penulis gunakan adalah:
A. Bagian Awal
B. Bagian Utama
/ Inti
BAB I : Pendahuluan, yang berisi Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Hipotesa Penelitian, Definisi
Operasional, dan Sistematika Penulisan.
BAB II : Kajian Teori, yang berisi teori untuk memperkuat penelitian,
tentang kemandirian mahasiswa perantau, penyesuaian diri, serta perbedaan dan
hubungan keduanya antara yang berdomisili di pondok dan di kost.
BAB III : Metode Penelitian, yang berisi Rancangan Penelitian, Populasi dan
Sampel, Instrumen Penelitian, Teknik Pengumpulan Data, dan Teknik Analisis
Data.
BAB IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan, yang berisi Hasil Penelitian dan
Pembahasan Penelitian.
BAB V : Penutup yang berisi Kesimpulan dan Saran.
C. Bagian Akhir
DAFTAR PUSTAKA
Brookfield,
Stephen. 2002. Understanding and Facilitating Adult Learning. Josey Bass
Publisher : San Fransisco
Desi
susilawati. 2009. Upaya meningkatkan kemandirian belajar dan kemampuan siswa
dengan menggunakan lembar kerja siswa. UNY : Yogyakarta
Firman. (2009). Hubungan antara
penyesuaian diri dengan kemandirian :Bineka cipta
International Journal of Scientific Research in Education, Desember 2012,
Vol. 5 (4), 287-291.Konsep budaya Belajar dan Pengembangan Waitshega Tefo Mochama
Kenya Moalosi Departemen Yayasan PendidikanUniversity of Botswana
Irene. (2013).Perbedaan Tingkat Kemandirian dan
Penyesuaian Diri Mahasiswa Perantauan Suku Batak Ditinjau Dari Jenis
Kelamin.Jurnal Psikologi.Vol. 01. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya
Jurnal hubungan antara
kemandirian dengan penyesuaian diri pada mahasiswa baru yang merantau di kota
malang
Jurnal hubungan antara
kemandirian dengan penyesuaian diri pada mahasiswa yang merantau fakultas
teknik industri universitas bina darma angkatan 2014/2015 palembang
Jurnal Zimmer-Gembeck
Kartono, K. (2008). Bimbingan Anak dan Remaja yang
Bermasalah. Jakarta: Rajawali Pers.
Musdalifah. (2007). Psikologi Remaja (Perkembangan
Peserta Didik), Jakarta: Rineka Cipta
Patriana, P. (2007).
Hubungan Antara Kemandirian Dengan Motivasi Bekerja Sebagai Pengajar Les Privat
Pada Mahasiswa Di Semarang. Skripsi. Semarang:Universitas Diponegoro
Sari, M. Y. 2005. Kecerdasan Emosional dan Kecenderungan Psikopat
Pada Remaja Delinkuen Di Lembaga Pemasyarakatan. Anima Vol 20 No 2.
Santrock, J. W. (2002). Life Span Development. Dallas:
Brown And Bench Mark Inc
Steinberg.(2002). Psikologi umum.
Bandung : Tarsito
Sugiyono. (2013). Metodelogi
Penelitian. Bandung: Penerbit : CV. Alfa Beta
Wijaya, N. (2007). Hubungan Antara Keyakinan Diri
Akademik Dengan Penyesuaian Diri Siswa Tahun Pertama Sekolah Asrama SMA Pangudi
Luhur Van Lith Muntilan. Skripsi. Semarang: Universitas Diponegoro.
[1] Knight, 1996,
hlm.35
[2] Wijaya,
N. Hubungan Antara Keyakinan Diri Akademik Dengan Penyesuaian Diri Siswa Tahun
Pertama Sekolah Asrama SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan. Skripsi
(Semarang: Universitas Diponegoro, 2007).
[3] Amar, H.R.L.
Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Penyesuaian Diri Siswa Baru di MAN
Tempur Sari Ngawi. Skripsi. ( Malang: Universitas Islam Negri (UIN).2009
)
[4] Steinberg, Adolescence.
Sixth edition. (New York: McGraw-Hill.2002)
[5] Wijaya,Hubungan
Antara Keyakinan Diri Akademik Dengan Penyesuaian Diri Siswa Tahun Pertama
Sekolah Asrama SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan. Skripsi
(Semarang: Universitas Diponegoro, 2007).
[6] Amar, H.R.L.
Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Penyesuaian Diri Siswa Baru di MAN
Tempur Sari Ngawi. Skripsi. ( Malang: Universitas Islam Negri (UIN).2009
)
[7] Santrock,
J.W.. Life-Span Development : Perkembangan Masa Hidup. (Jakarta : Erlangga. 2002)
[8] Patriana.
Hubungan Antara Kemandirian Dengan Motivasi Bekerja Sebagai Pengajar Les Privat
Pada Mahasiswa Di Semarang. Skripsi. (Semarang: Universitas Diponegoro.
2007).
[9] Stephen
Brookfield, Understanding and Facilitating Adult Learning. (Josey Bass Publisher : San Fransisco. 2002),
hlm. 130-I33
[10]
Desi susilawati, Upaya meningkatkan kemandirian belajar dan kemampuan siswa
dengan menggunakan lembar kerja siswa. Skripsi (UNY : Yogyakarta 2009),
hlm. 7-8
[11] Chandra, P. E.
Trik Bisnis Menuju Sukses. (Yogyakarta: Grafika Indah. 2004)
[12] Wijaya,Hubungan
Antara Keyakinan Diri Akademik Dengan Penyesuaian Diri Siswa Tahun Pertama
Sekolah Asrama SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan. Skripsi
(Semarang: Universitas Diponegoro, 2007).
[13] Steinberg, Adolescence.
Sixth edition. (New York: McGraw-Hill.2002)
[14]
Sari, Kecerdasan Emosional dan Kecenderungan Psikopat Pada Remaja Delinkuen Di
Lembaga Pemasyarakatan (Anima Vol 20 No 2 : 2005 hlm 139
[15] Steinberg. Psikologi
umum. Bandung : Tarsito, 2002).
[16] Wijaya,Hubungan
Antara Keyakinan Diri Akademik Dengan Penyesuaian Diri Siswa Tahun Pertama
Sekolah Asrama SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan. Skripsi
(Semarang: Universitas Diponegoro, 2007).
[17] Kartono. Bimbingan
Anak dan Remaja yang Bermasalah. (Jakarta: Rajawali Pers. 2008)
[18] Amar, H.R.L.
Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Penyesuaian Diri Siswa Baru di MAN
Tempur Sari Ngawi. Skripsi. ( Malang: Universitas Islam Negri (UIN).2009
)
[19] Irene,
Perbedaan Tingkat Kemandirian dan Penyesuaian Diri Mahasiswa Perantauan Suku
Batak Ditinjau Dari Jenis Kelamin. Jurnal Psikologi. Vol. 01. (Surabaya:
Universitas Negeri Surabaya. 2013).
[20] Suharsimi
Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis (Jakarta:Rineka
Cipta, 1997), hlm. 102.
[21] Ibid, hlm. 149
[22] Sugiyono. Metodelogi
Penelitian. (Bandung: Penerbit : CV. Alfa Beta. 2013).
[23] Kartono. Psikologi
Perkembangan. (Bandung: CV Pustaka Setia. 2008).
[24] Ibid,.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar