Jumat, 24 Februari 2017

Proposal Skripsi 2016/2017



Proposal Skripsi

HUBUNGAN KEMANDIRIAN DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA MAHASISWA PERANTAU DI INSTITUT AGAMA ISLAM TRIBAKTI (IAIT) KEDIRI

 
01.LOGO IAIT KEDIRI.png


OLEH
NADYA KHUSSOTU BIRLIANA
NPM : 2013.06.0.0087
NIRM : 2013.4.008.0425.000070


INSTITUT AGAMA ISLAM TRIBAKTI (IAIT) KEDIRI
FAKULTAS DAKWAH
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI ISLAM
FEBRUARI 2017


Proposal Skripsi

HUBUNGAN KEMANDIRIAN DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA MAHASISWA PERANTAU DI INSTITUT AGAMA ISLAM TRIBAKTI (IAIT) KEDIRI


Proposal
Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan
dalam menyelesaikan skripsi


Oleh
Nadya Khussotu Birliana
NPM : 2013.06.0.0087
NIRM : 2013.4.008.0425.000070


INSTITUT AGAMA ISLAM TRIBAKTI (IAIT) KEDIRI
FAKULTAS DAKWAH
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI ISLAM
FEBRUARI 2017





HUBUNGAN KEMANDIRIAN DENGAN PENYESUAIAN DIRI PADA MAHASISWA PERANTAU DI INSTITUT AGAMA ISLAM TRIBAKTI (IAIT) KEDIRI


A.       LATAR BELAKANG
Sering kita temui mahasiswa yang meninggalkan tanah kelahirannya hanya untuk mencari ilmu. Pelajar yang rela meninggalkan orang tua, kerabat, saudara, sahabat, dan segalanya yang ada di daerah mereka.
Terutama mahasiswa yang meninggalkan daerahnya dan hanya kembali ke rumah jika tugas mereka telah usai. Seperti halnya mahasiswa yang tinggal di kos-kosan atau mungkin tinggal di pesantren, mahasiswa seperti mereka patut di beri acungan jempol karena merelakan jiwa dan raganya untuk mencari ilmu di kota orang.
Kemandirian adalah Sikap mandiri seseorang tidak terbentuk dengan cara yang mendadak, namun melalui proses sejak masa anak-anak. Dalam perilaku mandiri antar individu tidak sama, kondisi ini dipengaruhi oleh banyak hal. Hal yang mempengaruhi atau faktor penyebab sikap mandiri seseorang itu dibagi menjadi dua, yaitu faktor dari dalam individu dan faktor dari luar individu.
Kemerdekaan tidak adanya bimbingan, tetapi hasil dari proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk mendapatkan kebutuhan yang cukup untuk merencanaan dan tindakan wawasan.[1]
Penyesuaian diri atau adaptasi adalah suatu proses alamiah dan dinamis yang bertujuan mengubah perilaku individu agar tercipta hubungan yang lebih sesuai antara kondisi diri dengan kondisi lingkungannya.[2]
Penyesuaian diri bertujuan mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan) diri.[3]
Transisi dalam kehidupan menghadapkan individu pada perubahan-perubahan dan tuntutan-tuntutan sehingga diperlukan adanya penyesuaian diri. Runyon dan Haber mengatakan bahwa setiap orang pasti mengalami masalah dalam mencapai tujuan hidupnya dan penyesuaian diri sebagai keadaan atau sebagai proses.
Mereka terus menerus mengubah tujuannya sesuai dengan keadaan lingkungannya. Individu mengubah tujuan dalam hidupnya seiring dengan perubahan yang terjadi dilingkungannya. Berdasarkan konsep penyesuaian diri sebagai proses penyesuaian diri yang efektif dapat diukur dengan mengetahui bagaimana kemampuan individu menghadapi
Kemandirian didefinisikan sebagai kemampuan individu dalam bertingkah laku, merasakan sesuatu, dan mengambil keputusan berdasar kehendaknya sendiri. Peningkatan tanggung jawab, kemandirian, dan menurunnya tingkat ketergantungan remaja terhadap orang tua, adalah perkembangan yang harus dipenuhi individu pada periode remaja akhir.[4]
Menurut Calhoun dan Acocella, penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri di lingkungannya. Dan proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan sekitar tempat individu hidup.[5]
Sedangkan menurut Gerungan menjelaskan bahwa menyesuaikan diri itu diartikan dalam artian yang luas, dan dapat berarti mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan) diri.[6]
Kemandirian itu tumbuh atas tuntutan yang harus di lakukan dalam penyesuaian sosial karena keberadaannya di lingkungan yang baru serta keadaan sosial yang berbeda dari lingkungan tanah kelahirannya.
Alasan peneliti mengambil tema kemandirian yang digabungkan dengan penyesuaian sosial  adalah karena berdasarkan pengamatan peneliti tentang banyaknya mahasiswa Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri yang kemandirian  dan penyesuaian sosialnya berhubungan.
Dalam penelitian ini peneliti mengambil sampel mahasiswa Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri yang berdomosili di pondok pesantren dan di kost yang notabenenya mereka adalah mahasiswa yang merantau dan rela meninggalkan segalanya dari tanah kelahiran.
Selain itu, peneliti juga akan memaparkan tentang hubungan serta perbedaan antara kemandirian dan penyesuaian sosial mahasiswa perantau yang berdomisili di pondok pesantren serta kemandirian dan penyesuaian sosial mahasiswa yang domisilinya berada di kost.


B.       RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimana kemandirian mahasiswa perantau di pondok dan di kost ?
2.    Bagaimana penyesuaian sosial mahasiswa perantau di pondok dan di kost?
3.    Bagaimana hubungan dan perbedaan antara kemandirian dengan penyesuaian sosial mahasiswa perantau di pondok dan di kost ?


C.      TUJUAN PENELITIAN
1.    Untuk mengetahui kemandirian mahasiswa perantau di pondok dan di kost
2.    Untuk mengetahui penyesuaian sosial pada mahasiswa perantau di pondok dan di kost
3.    Untuk mengetahui hubungan dan perbedaan antara kemandirian dengan penyesuaian sosial mahasiswa perantau di pondok dan di kost


D.      MANFAAT PENELITIAN
1.    Manfaat Teoritis
a.    Menambah keilmuan bidang kemandirian.
b.    Menambah wawasan dalam penyesuain sosial.
2.    Manfaat Praktis
a.    Untuk acuan menjadi mahasiswa yang dapat mengembangkan kemandiriannya.
b.    Memudahkan mahasiswa dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.
c.    Dapat dijadikan motivasi untuk menjadi anak mandiri dan dapat berbaur dengan lingkungan dengan baik.


E.       HIPOTESIS PENELITIAN
Hipotesis alternatif (Ha).
Adanya hubungan antara kemandirian dengan penyesuaian sosial mahasiswa perantau baik yang berdomisili di pondok maupun yang di kost. Hubungan ini di dukung dengan teori Musdalifah (2007) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian salah satunya adalah penyesuaian diri.
Pada proses pendewasaan dalam mencapai kesuksesan, mahasiswa perantau dihadapkan pada berbagai perubahan dan perbedaan diberbagai aspek kehidupan yang membutuhkan kepercayaan diri, mandiri serta banyak penyesuaian (Chandra, 2004).
Beberapa alasan mahasiswa perantau adalah untuk mencari pendidikan yang lebih baik, bebas kendali dari orang tua, ingin merasakan sesuatu yang baru di daerah yang baru, mengetahui dan mengenal adat dan budaya daerah lain, ingin menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru serta ingin melatih diri agar lebih mandiri. Seiring dengan kemajuan zaman dan kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi anak-anak, maka orang tua mereka memperbolehkan anak-anaknya untuk merantau agar memiliki kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya (Irene, 2013).
Fenomena mahasiswa perantau umumnya bertujuan untuk meraih kesuksesan melalui kualitas pendidikan yang lebih baik pada bidang yang diinginkan. Fenomena ini juga dianggap sebagai usaha pembuktian kualitas diri sebagai orang dewasa yang mandiri dan bertanggung jawab dalam membuat keputusan[7]


F.       DEFINISI OPERASIONAL
Definisi operasional sangat perlu dilakukan untuk memudahkan pengukuran, dan mempermudah dalam penggalian data di lapangan.
Dalam proposal ini membahas mengenai kemandirian serta penyesuaian sosial mahasiswa perantau yang jauh dari orang tua atau meninggalkan tanah kelahirannya. Adapun definisi operasional yang akan dibuat adalah
1.      Kemandirian mahasiswa menghadapi berbagai permasalahan di pondok ataupun di kos baik dari tugas kampus maupun lingkungan sekitar tempat tinggal mahasiswa perantau.
2.      Penyesuaian diri mahasiswa perantau di lingkungan tempat tinggalnya.
Ciri-ciri kemandirian dan penyesuaian mahasiswa perantau :
Menurut Masrun, kemandirian adalah suatu sikap yang memungkinkan seseorang untuk berbuat bebas, melakukan sesuatu atas dorongan diri sendiri untuk kebutuhan sendiri, mengejar prestasi, penuh ketekunan, serta berkeinginan untuk melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain, mampu berpikir dan bertindak original, kreatif dan penuh inisiatif, mampu memengaruhi lingkungannya, mempunyai rasa percaya diri terhadap kemampuan diri sendiri, menghargai keadaan diri sendiri, dan memperoleh kepuasan dari usahanya.[8]


G.      KAJIAN TEORI
1.         Kemandirian
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia mandiri adalah ”berdiri sendiri”. Kemandirian adalah tidak menggantungkan diri kepada orang lain, seseorang dituntut untuk memiliki keaktifan dan inisiatif sendiri dalam belajar, bersikap, berbangsa maupun bernegara (Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, 1990:13).
Kemandirian merupakan kesadaran diri, digerakkan oleh diri sendiri, kemampuan belajar untuk mencapai tujuannya.[9]
Kemandirian dapat dideskripsikan sebagai berikut:[10]
a.       Berusaha untuk meningkatkan tanggung jawab dalam mengambil berbagai keputusan.
b.      Kemandirian dipandang sebagai suatu sifat yang sudah ada pada setiap  orang dan situasi pembelajaran.
c.       Kemandirian bukan berarti memisahkan diri dari orang lain.
d.      Pembelajaran mandiri dapat mentransfer hasil belajarnya yang berupa  pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai situasi.
e.       Belajar mandiri dapat melibatkan berbagai sumber daya dan  aktivitas seperti membaca sendiri, belajar kelompok, latihan dan  kegiatan korespondensi.
f.       Beberapa institusi pendidikan menemukan cara untuk mengembangkan belajar mandiri melalui program pembelajaran terbuka.
Ciri-ciri Kemandirian menurut Steinberg yang berkaitan dengan kemandirian mahasiswa perantau yaitu, tanggung jawab terhadap tugas untuk menyelesaikan sesuatu dan diminta pertanggungjawaban atas hasil kerjanya.[11]
Calhoun dan Acocella menambahkan salah satu ciri-ciri dari penyesuaian diri yaitu memiliki persepsi yang akurat pada realita, mampu beradaptasi dengan tekanan atau stress dan kecemasan, memiliki gambaran diri yang positif tentang dirinya, mampu mengekspresikan perasaan dengan tepat, mampu menjalin relasi interpersonal dengan baik, mengatur ritme hidup, mengelola diri dengan perubahan yang terjadi.[12]
Aspek-aspek kemandirian
Kemandirian merupakan bagian dari pencapaian otonomi diri pada remaja. Untuk mencapai kemandirian pada remaja melibatkan tiga aspek[13] yaitu:
a.       Aspek emotional autonomy, yaitu aspek kemandirian yang berkaitandengan perubahan hubungan individu, terutama dengan orangtua. Individu mampu melepaskan ketergantungannya dengan orang tua dan dapat memenuhi kebutuhan kasih sayangnya tanpa adanya andil dari orang tua.
b.      Aspek behavioral autonomy, yaitu kemampuan untuk membuat suatu keputusan sendiri dan menjalankan keputusan tersebut. Individu tersebut mampu menjalankan kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkah laku pribadinya masing-masing.
c.       Aspek value autonomy, yaitu memiliki seperangkat prinsip-prinsip tentang mana yang benar dan mana yang salah, mengenai mana yang penting dan mana yang tidak penting. Individu dapat melakukan hal-hal sesuai dengan pendiriannya dan sesuai dengan penilaiannya tentang perilaku tersebut.
Kemandirian mahasiswa perantau yang berdomisili di Pondok
         Mahasiswa perantau yang berdomisili di pondok kebanyakan karena menghindari tindak kejahatan yang ada di lingkungan tanah kelahirannya, hal ini sesuai dengan pernyataan Gottman & DeClaire bahwasannya remaja menjadi rentan untuk terlibat pada kasus-kasus kriminalitas akibat pengaruh kekuatan yang tidak baik dalam lingkungan sosialnya, seperti resiko pemakaian obat terlarang, kekerasan atau kegiatan seksual yang tidak aman[14]


Kemandirian mahasiswa perantau yang berdomisili di Kost
Mahasiswa perantau yang berdomisili di Kost memiliki tujuan agar mampu bertindak berdasarkan kehendak dirinya sendiri tanpa adanya patutan dari orang tua.  Kemandirian didefinisikan sebagai kemampuan individu dalam bertingkah laku, merasakan sesuatu, dan mengambil keputusan berdasarkan kehendaknya sendiri. Mandiri merupakan salah satu ciri utama kepribadian yang dimiliki oleh seseorang yang telah dewasa dan matang[15]
2.      Penyesuaian Sosial
Penyesuaian Sosial adalah sebuah interaksi yang di lakukan oleh seseorang dengan orang lain dan lingkungan. Calhoun dan Acocella menyatakan bahwa penyesuaian diri adalah sebuah interaksi individu yang terus-menerus dengan dirinya sendiri, dengan orang lain dan dengan lingkungan sekitar tempat individu hidup. [16]
Penyesuaian diri adalah reaksi individu terhadap tuntutan yang dihadapkan kepada individu tersebut. Penyesuaian diri dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungan, sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, prasangka, depresi, kemarahan dan emosi negatif yang lain sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis. Maka dari itu penyesuaian diri merupakan proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah tingkah laku individu agar dari perubahan tingkah laku tersebut dapat terjadi hubungan yang lebih sesuai antara individu dan lingkungannya.[17]
Sedangkan menurut Gerungan menjelaskan bahwa menyesuaikan diri itu diartikan dalam artian yang luas, dan dapat berarti mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan) diri.[18]


Aspek-aspek Penyesuaian Diri
Menurut Runyon dan Haber menyebutkan bahwa penyesuaian diri yang dilakukan individu memiliki lima aspek[19] sebagai berikut:
a.       Persepsi yang akurat terhadap realita
Individu tersebut mengubah persepsinya tentang kenyataan hidup dan kemudian menginterpretasikannya, sehingga individu mampu menentukan tujuan yang realistik sesuai dengan kemampuannya serta mampu mengenali konsekuensi dan tindakannya agar dapat menuntun pada perilaku yang sesuai.
b.      Kemampuan untuk mengatasi stress dan kecemasan
Mempunyai kemampuan mengatasi stres dan kecemasan berarti individu mampu mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam hidup dan mampu menerima kegagalan yang dialami.
c.       Self- image positif
Penilaian diri yang kita lakukan harus bersifat positif dan negatif. Kita tidak boleh terjebak pada satu penilaian saja terutama penilaian yang tidak diinginkan, kita harus berusaha memodifikasi penilaian positif dan negatif tersebut menjadi suatu perubahan yang lebih luas dan lebih baik. Individu seharusnya mengakui kelemahan dan kelebihannya, jika seseorang mengetahui dan memahami dirinya denga cara yang realistik, dia akan mampu mengembangkan potensi, sumber-sumber dirinya secara penuh.
d.      Kemampuan untuk mengungkapkan perasaan
Individu mampu mengekspresikan keseluruhan emosi secara realistik dan tetap berada di bawah kontrol. Masalah-masalah dalam pengungkapan perasaan seperti kurang kontrol atau adanya kontrol yang berlebihan. Kontrol yang berlebihan dapat menyebabkan dampak yang negatif, sedangkan kurangnya kontrol akan menyebabkan emosi yang berlebihan.
e.       Hubungan interpersonal yang baik
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Sejak kita berada dalam kandungan, kita selalu tergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti kebutuhan fisik, sosial dan emosi. Individu yang dapat menyesuaikan diri dengan baik mampu menciptakan suatu hubungan yang saling menguntungkan satu sama lain.


H.      METODE PENELITIAN
Metode penelitian merupakan suatu cara yang dilakukan untuk mmenentukan/menggali sesuatu yang telah ada untuk kemudian diuji kebenarannya yang mungkin masih diragukan.[20]
1.    Rancangan Penelitian
Penelitian ini di rencanakan menggunakan metode kuantitatif yang mana di hitung dengan menggunakan perhitungan statistik dan SPSS dengan korelasi untuk mengukur perbedaan.
2.    Populasi dan Sampel Penelitian.
Populasi penelitiannya adalah mahasiswa perantau semester II
Sample penelitiannya di Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri
3.    Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian menggunakan perangkat tes, pedoman observasi, skala, kamera dan sebaginya.
Menurut Suharmi Arikunto ada beberapa instrument yang namanya sama dengan metodenya[21] antara lain adalah:
a)    Instrument untuk metode tes adalah tes atau soal tes.
b)   Instrument untuk metode angaket atau kuesioner adalah angket atau kuesioner.
c)    Instrument untuk metode observasi adalah pedoman observasi atau dapat juga chek-list

Skor dalam setiap item berkisar dari 4 sampai 1, diberikan untuk item yang bersifat favourabel, sedangkan untuk item yang unfavourabel bergerak dari 1 sampai 4.[22] Beberapa pernyataan:
Aspek 1:
a)      Jika anda mendapat tugas, maka segera anda kerjakan (fav)
b)      Jika dosen memberi tugas, anda langsung menghubungi kakak untuk membantu mengerjakan (unfav)
c)      Anda akan selalu berusaha sendiri sebisa mungkin (fav)
d)     Waktu anda hanya bisa di kerjakan dengan teman (unfav)
Aspek 2:
a)      Meskipun anda mandiri tapi kebersamaan dengan teman tetap terjaga. (fav)
b)      Anda akan lebih senang sendiri dari pada dengan teman-teman.(unfav)
c)      Anda mengerjakan terlebih dahulu baru jika adateman yang tanya anda akan membantunya. (fav)
d)      ada waktu luang anda akan ngobrol sampai lupa waktu. (unfav)

Penyesuaian diri dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungan, sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, prasangka, depresi, kemarahan dan emosi negatif yang lain sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis.[23]
Maka dari itu penyesuaian diri merupakan proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah tingkah laku individu agar dari perubahan tingkah laku tersebut dapat terjadi hubungan yang lebih sesuai antara individu dan lingkungannya.[24]
4.    Teknik pengumpulan data
menggunakan Simple random sampling, yang mana pemilihan dilakukan dengan cara acak, di mana daftar nama responden dilakukan pengundian untuk terpilih.

5.    Analisis Data
Analisis data adalah upaya atau cara untuk mengolah data menjadi informasi sehingga karakteristik data tersebut bisa dipahami dan bermanfaat untuk solusi permasalahan, tertutama masalah yang berkaitan dengan penelitian.
Adapun langkah-langkah dalam analisis data, yang diantaranya sebagai berikut ini:
a.    Tahap pengumpulan data.
b.    Tahap editing. Pada tahap ini yaitu memeriksa kejelasan maupun kelengkapan mengenai pengisian instrumen pengumpulan data.
c.    Tahap koding. Maksudnya pada tahap ini melakukan proses identifikasi dan proses klasifikasi dari tiap-tiap pernyataan yang terdapat pada instrumen pengumpulan data berdasarkan variabel yang sedang diteliti.
d.   Tahap tabulasi. Melakukan kegiatan mencatat ataupun entri data kedalam tabel-tabel induk dalam penelitian.
e.    Tahap pengujian. Pada tahapan ini data akan diuji kualitasnya yaitu menguji validitas maupun realiabilitas instrumen dari pengumpulan data.
f.     Tahap mendeskripsikan data. Menyajikan dalam bentuk tabel frekuensi ataupun diagram dan dalam berbagai macam ukuran tendensi sentral maupun ukuran dispersi. Dengan tujuan untuk memahami karakteristik data sampel dari penelitian tersebut.
g.    Tahap pengujian hipotesis. Tahap ini merupakan tahapan pengujian terhadap proposisi apakah ditolak atau bisa diterima dan memiliki makna atau tidak, atas dasar hipotesis inilah nantinya keputusan akan dibuat.
Teknik analisis data dalam penelitian ada 2 (dua) jenis, yang diantaranya sebagai berikut ini:
a.       Teknik analisis data statistik secara deskriptif.
Teknik analisis data deskriptif merupakan tekhnik analisis yang dipakai untuk menganalisis data dengan mendeskripsikan atau menggambarkan data-data yang sudah dikumpulkan seadanya tanpa ada maksud membuat generalisasi dari hasil penelitian.Yang termasuk dalam teknik analisis data statistik deskriptif diantaranya seperti penyajian data kedalam bentuk grafik, tabel, presentase, frekwensi, diagram, grafik, mean, modus dll. Itulah penjelasan mengenai tekhnik analisis data deskriptif.
b.        Teknik analisis data statistik secara inferensia
Teknik analisis data inferensia merupakan statistik yang dipakai untuk melakukan analisis data dengan cara membuat kesimpulan yang berlaku secara umum.
Ciri dari analisis data inferensial yaitu digunakanya rumus statistik tertentu, lalu hasil perhitungan yang sudah dilakukan itulah yang nantinya akan menjadi dasar dari pembuatan generalisasi yang berasal dari samber bagi populasi.
Dengan begitu statistik inferensial mempunyai fungsi untuk mengeneralisasikan hasil dari penelitian sampel untuk populasi, sesuai dengan fungsi itulah maka statistik inferensial sangat berguna untuk penelitian sampel.
Korelasi adalah istilah statistik yang menyatakan derajat hubungan linier (searah bukan timbal balik) antara dua variabel atau lebih. Penelitian ini menggunakan korelasi Product Moment Pearson, yakni variabelnya berskala interval yang bertujuan :
a.       Untuk menyatakan ada atau tidaknya hubungan antara variabel X dengan variabel Y
b.      Untuk menyatakan besarnya sumbangan variabel satu terhadap yang lainnya yang dinyatakan dalam persen.


I.       SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan merupakan suatu penjabaran tentang hal-hal yang akan ditulis, yang secara garis besar terdiri dari bagian awal, bagian isi dan bagian akhir.[25]


Adapun sistematika penulisan yang penulis gunakan adalah:
A.    Bagian Awal
B.     Bagian Utama / Inti
BAB I : Pendahuluan, yang berisi Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Hipotesa Penelitian, Definisi Operasional, dan Sistematika Penulisan.
BAB II : Kajian Teori, yang berisi teori untuk memperkuat penelitian, tentang kemandirian mahasiswa perantau, penyesuaian diri, serta perbedaan dan hubungan keduanya antara yang berdomisili di pondok dan di kost.
BAB III : Metode Penelitian, yang berisi Rancangan Penelitian, Populasi dan Sampel, Instrumen Penelitian, Teknik Pengumpulan Data, dan Teknik Analisis Data.
BAB IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan, yang berisi Hasil Penelitian dan Pembahasan Penelitian.
BAB V : Penutup yang berisi Kesimpulan dan Saran.
C.     Bagian Akhir








DAFTAR PUSTAKA
Brookfield, Stephen. 2002. Understanding and Facilitating Adult Learning. Josey Bass Publisher : San Fransisco
Desi susilawati. 2009. Upaya meningkatkan kemandirian belajar dan kemampuan siswa dengan menggunakan lembar kerja siswa. UNY : Yogyakarta
Firman. (2009). Hubungan antara penyesuaian diri dengan kemandirian :Bineka cipta
International Journal of Scientific Research in Education, Desember 2012, Vol. 5 (4), 287-291.Konsep budaya Belajar dan Pengembangan Waitshega Tefo Mochama Kenya Moalosi Departemen Yayasan PendidikanUniversity of Botswana
Irene. (2013).Perbedaan Tingkat Kemandirian dan Penyesuaian Diri Mahasiswa Perantauan Suku Batak Ditinjau Dari Jenis Kelamin.Jurnal Psikologi.Vol. 01. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya
Jurnal hubungan antara kemandirian dengan penyesuaian diri pada mahasiswa baru yang merantau di kota malang
Jurnal hubungan antara kemandirian dengan penyesuaian diri pada mahasiswa yang merantau fakultas teknik industri universitas bina darma angkatan 2014/2015 palembang
Jurnal Zimmer-Gembeck
Kartono, K. (2008). Bimbingan Anak dan Remaja yang Bermasalah. Jakarta: Rajawali Pers.
Musdalifah. (2007). Psikologi Remaja (Perkembangan Peserta Didik), Jakarta: Rineka Cipta
Patriana, P. (2007). Hubungan Antara Kemandirian Dengan Motivasi Bekerja Sebagai Pengajar Les Privat Pada Mahasiswa Di Semarang. Skripsi. Semarang:Universitas Diponegoro
Sari, M. Y. 2005. Kecerdasan Emosional dan Kecenderungan Psikopat Pada Remaja Delinkuen Di Lembaga Pemasyarakatan. Anima Vol 20 No 2.

Santrock, J. W. (2002). Life Span Development. Dallas: Brown And Bench Mark Inc
Steinberg.(2002). Psikologi umum. Bandung : Tarsito
Sugiyono. (2013). Metodelogi Penelitian. Bandung: Penerbit : CV. Alfa Beta
Wijaya, N. (2007). Hubungan Antara Keyakinan Diri Akademik Dengan Penyesuaian Diri Siswa Tahun Pertama Sekolah Asrama SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan. Skripsi. Semarang: Universitas Diponegoro.



[1] Knight, 1996, hlm.35
[2] Wijaya, N. Hubungan Antara Keyakinan Diri Akademik Dengan Penyesuaian Diri Siswa Tahun Pertama Sekolah Asrama SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan. Skripsi (Semarang: Universitas Diponegoro, 2007).
[3] Amar, H.R.L. Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Penyesuaian Diri Siswa Baru di MAN Tempur Sari Ngawi. Skripsi. ( Malang: Universitas Islam Negri (UIN).2009 )
[4] Steinberg, Adolescence. Sixth edition. (New York: McGraw-Hill.2002)
[5] Wijaya,Hubungan Antara Keyakinan Diri Akademik Dengan Penyesuaian Diri Siswa Tahun Pertama Sekolah Asrama SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan. Skripsi (Semarang: Universitas Diponegoro, 2007).
[6] Amar, H.R.L. Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Penyesuaian Diri Siswa Baru di MAN Tempur Sari Ngawi. Skripsi. ( Malang: Universitas Islam Negri (UIN).2009 )
[7] Santrock, J.W.. Life-Span Development : Perkembangan Masa Hidup.  (Jakarta : Erlangga. 2002)
[8] Patriana. Hubungan Antara Kemandirian Dengan Motivasi Bekerja Sebagai Pengajar Les Privat Pada Mahasiswa Di Semarang. Skripsi. (Semarang: Universitas Diponegoro. 2007).
[9] Stephen Brookfield, Understanding and Facilitating Adult Learning.  (Josey Bass Publisher : San Fransisco. 2002), hlm. 130-I33
[10] Desi susilawati, Upaya meningkatkan kemandirian belajar dan kemampuan siswa dengan menggunakan lembar kerja siswa. Skripsi (UNY : Yogyakarta 2009), hlm. 7-8 
[11] Chandra, P. E. Trik Bisnis Menuju Sukses. (Yogyakarta: Grafika Indah. 2004)
[12] Wijaya,Hubungan Antara Keyakinan Diri Akademik Dengan Penyesuaian Diri Siswa Tahun Pertama Sekolah Asrama SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan. Skripsi (Semarang: Universitas Diponegoro, 2007).
[13] Steinberg, Adolescence. Sixth edition. (New York: McGraw-Hill.2002)
[14] Sari, Kecerdasan Emosional dan Kecenderungan Psikopat Pada Remaja Delinkuen Di Lembaga Pemasyarakatan (Anima Vol 20 No 2 : 2005 hlm 139
[15] Steinberg. Psikologi umum. Bandung : Tarsito, 2002).
[16] Wijaya,Hubungan Antara Keyakinan Diri Akademik Dengan Penyesuaian Diri Siswa Tahun Pertama Sekolah Asrama SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan. Skripsi (Semarang: Universitas Diponegoro, 2007).
[17] Kartono. Bimbingan Anak dan Remaja yang Bermasalah. (Jakarta: Rajawali Pers. 2008)
[18] Amar, H.R.L. Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Penyesuaian Diri Siswa Baru di MAN Tempur Sari Ngawi. Skripsi. ( Malang: Universitas Islam Negri (UIN).2009 )
[19] Irene, Perbedaan Tingkat Kemandirian dan Penyesuaian Diri Mahasiswa Perantauan Suku Batak Ditinjau Dari Jenis Kelamin. Jurnal Psikologi. Vol. 01. (Surabaya: Universitas Negeri Surabaya. 2013).
[20] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis (Jakarta:Rineka Cipta, 1997), hlm. 102.
[21] Ibid,  hlm. 149
[22] Sugiyono. Metodelogi Penelitian. (Bandung: Penerbit : CV. Alfa Beta. 2013).
[23] Kartono. Psikologi Perkembangan. (Bandung: CV Pustaka Setia. 2008).
[24] Ibid,.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SKRIPSI Hubungan Kemandirian dengan Penyesuaian DIri pada Mahasiswa Perantau di Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri BAB I PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang Masalah Sering kita temui mahasiswa yang meninggalkan tanah kelahirannya hanya untuk mencari ilmu. Pelajar ya...