SISTEM SENSORIK LAINNYA
Makalah ini disusun Guna untuk
Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Faal
Dosen Pengampu:
Mentari Marwa,M.A
Disusun Oleh:
Nadya Khussotu Birliana
Najmi Laela Badriyah
INSTITUT AGAMA ISLAM TRIBAKTI (IAIT)
KEDIRI
FAKULTAS DAKWAH
PRODI PSIKOLOGI ISLAM
2016
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum
Alhamdulillahirobbil’alamin,
kami dapat menyelesaikan tugas ini, semua ini tidak lepas dari Tuhan Yang Maha
Esa yang telah memberikan rahmat kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
tugas ini.
Tak
lupa kami sampaikan terimakasih yang sebesar-basarnya kepada Ibu Mentari
Marwa,M.A dan kepada semuanya yang telah membantu kami dalam menyelesaikan
tugas ini, karena dalam menyelesaikan tugas ini kami menghadapi berbagai
masalah dan rintangan yang menghadang, Dengan adanya tugas ini kami ingin
berbagi pengetahuan dan pendapat kami dengan teman-teman, semoga bermanfaat
bagi kita semua, amin.
Kritik dan saran sangat kami harapkan
untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada, karena tugas ini jauh dari
kata sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah semata.
Wassalamualaikum
Penulis
Kediri, 22
Oktober 2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia tidak dapat mempertahankan hidupnya jika ia tidak tahu adanya bahaya yang mengancam atau menimpa dirinya.
Adanya bahaya dapat diketahui dengan jalan melihat, mendengar, mencium, dan
merasakan rasa nyeri, rasa raba, rasa panas, rasa dingin, dan sebagainya. Inilah yang disebut sebagai sistem sensorik. Sistem
ini menerima ribuan informasi kecil dari berbagai organ sensoris dan kemudian
mengintegrasikan untuk menentukan reaksi yang harus dilakukan tubuh.
Sebagian terbesar kegiatan sistem saraf berasal
dari pengalaman sensoris dari reseptor
sensoris, baik berupa reseptor visual, reseptor auditorius, reseptor raba di
permukaan tubuh, atau jenis reseptor lain. Pengalaman sensoris ini dapat menyebabkan suatu reaksi segera, atau kenangannya dapat disimpan di dalam
otak selama bermenit-menit, berminggu-minggu, atau bertahun-tahun dan kemudian
dapat membantu menentukan reaksi tubuh di masa yang akan datang.
Sistem sensorik menempatkan manusia berhubungan dengan
sekitarnya. Sensasi dapat dibagi menjadi 4 jenis, yaitu superfisial, dalam, viseral, dan khusus. Sensasi
superfisial, disebut juga perasaan ekteroseptif atau protektif, yang mengurus
rasa raba, rasa nyeri, rasa suhu. Sensasi dalam, yang disebut
juga sebagai sensasi proprioseptif mencakup rasa gerak (kinetik), rasa sikap
(statognesis) dari otot dan persendian, rasa getar (pallesthesia), rasa tekan dalam, rasa nyeri dalam otot.
Sensasi viseral (interoseptif) dihantar melalui serabut otonom aferen dan
mencakup rasa lapar dan rasa nyeri pada visera.
B.
RUMUSAN MASALAH
a.
Apa Pengertian Sel Sensorik?
b.
Bagaimana Anatomi Dan Fisiologi Sensorik ?
c.
Sebutkan Reseptor Pada Sistem
Sensorik ?
d.
Sebutkan Pemeriksaan Fisik
Sistem Sensorik ?
e.
Apa saja Gangguan Sistem
Sensorik ?
f.
Jelaskan Macam- macam sistem sensorik lainnya serta bagian-bagiannya ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Sensorik
Sel Saraf Sensorik adalah penghantar
impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat, yaitu otak (ensefalon) dan sumsum
belakang (medula spinalis). Ujung akson dari saraf sensori berhubungan
dengan saraf asosiasi (intermediet).
B.
Anatomi dan Fisiologi
Mulai dari reseptor di perifer sampai ke korteks
sensorik di otak jalur sensorik sekurang-kurangnya terdiri dari 3 tingkatan
neuron. Impuls (rangsang) berjalan secara sentripetal dari reseptor di perifer
ke badan sel neuron tingkat pertama (primer) di ganglion akar dorsal dari saraf
spinal. Aksonnya menuju ke sentral, bersinaps degnan neuron tingkat dua
(sekunder) di kornu posterior medulla spinalis atau inti homolog di batang
otak. Akson neuron sekunder melintas garis tengah dan menuju pada sisi
sebelahnya (kontralateral), kemudian naik sebagai jaras spinotalamik atau
lemniskus medialis menuju ke sinaps berikutnya di thalamus.
Neuron di thalamus, biasanya berupa neuron tingkat
tiga (tersier) terletak di kompleks ventrobasal thalamus dan berproyeksi
melalui kaki posterior kapsula interna ke korteks sensorik di girus postsentral
(area brodmann 3-1-2). Pola dasar ini mengemukakan beberapa hal:
a.
Sistem sensorik
menyilang. Informasi sensorik dari separuh badan berproyeksi ke thalamus dan
korteks kontralateral.
b.
Neuron tingkat pertama
berada di ganglion akar dorsal
c.
Badan sel neuron
tingkat dua berada di kornu posterior medulla spinalis atau di inti homolog di
medulla oblongata seperti nucleus grasilis (yang menerima impuls dari tungkai)
dan kuneatus (yang menerima impuls dari lengan).
d.
Neuron tingkat tiga di
thalamus me-relay impuls ke korteks.
C. Reseptor Pada Sistem Sensorik
Reseptor merupakan organ sensorik khusus yang mampu
mencatat perubahan tertentu di dalam organism dan sekitarnya, serta menghantarkan
rangsangan ini sebagai impuls.
Pada dasarnya terdapat lima macam reseptor
sensoris, antara lain:
a.
Mekanoreseptor, yang
mendeteksi perubahan bentuk reseptor atau sel-sel di dekat reseptor tersebut
b.
Termoreseptor, yang
mendeteksi perubahan suhu, beberapa reseptor mendeteksi dingin dan lainnya
mendeteksi hangat.
c.
Nosiseptor, yang
mendeteksi nyeri, biasanya yang disebabkan oleh kerusakan fisik maupun
kerusakan kimia.
d.
Reseptor
elektromagnetik, yang mendeteksi cahaya pada retina mata
e.
Kemoreseptor, yang
mendeteksi pengecapan di dalam mulut, bau di dalam hidung, kadar oksigen di
dalam darah arteria, osmolalitas cairan tubuh, konsentrasi karbondioksida
Eksteroseptor mencakup reseptor yang terlibat terutama
pada lingkungan eksternal yaitu: korpuskel (badan) meissner, korpuskel merkel,
sel rambut untuk rasa raba; bulbus krauss untuk rasa dingin; korpuskel ruffini
untuk rasa panas; dan ujung-ujung saraf bebas untuk rasa nyeri. Banyak hasil
penelitian yang mengimplikasikan bahwa sensasi tertentu dihantar oleh ujung
tertentu, namun dengan banyak perkecualian. Misalnya, kornea mata di mana hanya
ditemukan ujung saraf bebas, namun rasa raba, nyeri, panas dan dingin dapat
diapresiasi. Stimulasi yang berlebihan pada tiap ujung sensorik, terlebih bila
bersifat melukai akan menginduksi rasa nyeri.
Hubungan
manusia dengan dunia luar terjadi melalui reseptor sensorik yang dapat berupa:
a.
Reseptor eksteroseptif,
yang berespon terhadap stimulus dari lingkungan eksternal, termasuk visual,
auditoar, dan taktil.
b.
Reseptor propioseptif,
misalnya yang menerima informasi mengenai posisi bagian tubuh atau tubuh di
ruangan.
c.
Reseptor interoseptif,
mendeteksi kejadian internal seperti perubahan tekanan darah.
D. Pemeriksaan Fisik Sistem Sensorik
Pemeriksaan sistem sensori sangat bergantung pada
kemampuan dan keinginan pasien untuk bekerja sama. Sensasi dirasakan oleh
pasien (sifat subjektif) dan oleh karena itu pemeriksa sangat bergantung pada
tingkat kepercayaan kita terhadap pasien. Pemeriksaan
ini tidak perlu untuk memeriksa semua wilayah di permukaan
kulit. Sebuah pemeriksaan
cepat pada wajah, leher, lengan, badan, dan kaki dengan jarum hanya
membutuhkan beberapa detik. Biasanya salah
satu tujuannya adalah mencari perbedaan antara kedua sisi tubuh. Lebih baik untuk bertanya
apakah rangsangan pada sisi berlawanan dari tubuh terasa sama
daripada menanyakan apakah terasa berbeda.
Pemeriksaan sensorik terdiri dari:
a. Sentuhan ringan
b. Sensasi nyeri
c. Sensasi getaran
d. Propriosepsi
e. Lokalisasi taktil
Pada pasien tanpa tanda atau gejala penyakit
neurologis, pemeriksaan fungsi sensorik dapat dilakukan dengan cepat, dengan
memeriksa adanya sensasi normal pada ujung jari tangan dan kaki. Pemeriksa
dapat memilih apakah ia mau memeriksa sentuhan ringan, nyeri dan sensasi
getaran. Jika semuanya normal, pemeriksaan sensorik lainnya tidak diperlukan.
Jika ada gejala atau tanda yang menunjukkan gangguan
neurologi, harus dilakukan pemeriksaan lengkap.seperti halnya:
a.
Pemeriksaan Sentuhan Ringan
Sentuhan ringan diperiksa dengan menyentuh pasien
secara ringan dengan sepotong kecil kain kasa. Mintalah pasien untuk menutup
mata dan memberitahu anda jika anda sedang menyentuhnya. Diusahakan menyentuh
jari kaki dan tangan pasien. Jika sensasinya normal, lanjutkan dengna
pemeriksaan yang lain. Jika sensasinya abnormal, lakukanlah pemeriksaan di
bagian proksimal sampai batas ketinggian gangguan sensorik dapat ditentukan.
b. Pemeriksaan Sensasi Nyeri
Rasa nyeri dapat dibangkitkan dengan berbagai cara,
misalnya dengan menusuk, memukul, merangsang dengan api atau sesuatu yang
sangat dingin dan juga dengan berbagai larutan kimia. Sensasi nyeri diperiksa
dengan menggunakan peniti dan menanyakan kepada pasien apakah ia merasakannya.
Mintalah kepada pasien untuk menutup matanya. Bukalah peniti dan sentuhlah
pasien dengan ujungnya. Sebelumnya perlu diberitahukan kepaa pasien bahwa yang
diperiksa ialah rasa nyeri dan bukan rasa raba. Kita periksa seluruh tubuh, dan
bagian-bagian yang simetris dibandingkan. Bila bagian yang simetris dibandingkan,
tusukan harus sama kuat. Bila kita memeriksa sensibilitas pada pasien yang
gelisah atau yang agak menurun kesadarannya, maka pemeriksaan rasa tusuk masih
dapat dilakukan, sedang yang lainnya perlu ditangguhkan.
c.
Pemeriksaan Sensasi Getar
Sensasi getaran diperiksa dengan menggunakan garpu
tala 128 hz. Ketuklah garpu tala dengan tumit tangan anda dan letakkanlah di
suatu tonjolan tulang di bagian distal tubuh pasien. Minta pasien untuk
memberitahukan anda kalau ia sudah tidak dapat merasakan getaran itu lagi.
Minta kepada pasien untuk menutup matanya. Letakkan garpu tala yang sedang
bergetar pada falangs distal jari tangan pasien dan jari tangan anda sendiri.
Dengan cara ini anda akan dapat merasakan getaran melalui jari pasien untuk
menentukan ketepatan respon pasien. Setelah jari tangan periksa juga jari kaki.
Jika tidak ada gangguan lakukan pemeriksaan berikutnya. Jika ada gangguan,
tentukanlah batas gangguannya.
d. Pemeriksaan Propiosepsi
Sensasi posisi, atau propriosepsi, diperiksa dengan
menggerakkan falangs distal. Pemeriksa memegang falangs distal pada sisi
lateralnya dan menggerakkan ke atas sambil memberitahukan pasien. Pemeriksa
kemudian menggerakkan falangs distal pasien ke bawah dan memberitahukannya.
Dengan mata pasien tertutup, pemeriksa menggerakkan falangs distal naik turun
dan akhirnya berhenti, setelah itu tanyakan pada pasien apakah falangs distal
terletak di atas atau di bawah. Secara rutin lakukanlah pemeriksaan pada falang
terminal sebuah jari pada tiap tangan dan falang terminal jari kaki. Jika tidak
ada gangguan sensasi posisi, pemeriksa harus melanjutkan sisa pemeriksaan
berikutnya.
e. Pemeriksaan Lokalisasi Taktil
Lokalisasi taktil, yang dikenal pula sebagai
perangsangan simultan ganda, diperiksa dengan meminta pasien menutup matanya
sambil menanyakan kepadanya bagian tubuh mana yang disentuh. Pemeriksa dapat
menyentuh pasien pada pipi kanannya dan lengan kiri. Pasien kemudian ditanyakan
dimana jari pemeriksa berada. Biasanya pasien tidak menemukan kesulitan dalam
menentukan kedua daerah ini. Pasien dengan lesi lobus parietalis mungkin
merasakan kedua sentuhan ini, tetapi mungkin memadamkan sensasi pada sisi
kontralateral dengan sisi lesi. Perasaan ini merupakan fenomena yang disebut
ekstingsi.
E. Gangguan Sistem Sensorik
a. Gangguan Sensoris Negatif
Gangguan sensorik superfisial atau gangguan
eksteroseptif yang negatif merupakan salah satu manifestasi sindrom neurologi.
Secara singkat gangguan sensorik negatif itu disebut defisit sensorik.
Tergantung pada kedudukan lesi, apakah di saraf perifer, di radiks posterior
atau di lintasan sentralnya, daerah permukaan tubuh yang anastetik atau baal
dan sebagainya memperlihatkan pola yang khas sesuai dengan penataan anatomi
susunan somestesia.
Mengenal pola defisit sensorik itu berarti mengetahui
lokasi lesi yang mendasarinya. Untuk mempermudah pembahasan defisit sensorik,
maka istilah anestesia dan hipestesia digunakan secara bebas sebagai sinonim
dari defisit sensorik.
Y
Hemihipestesia
Hemihipestesia merupakan hipestesia yang dirasakan
sesisi tubuh saja. Ditinjau dari sudut patofisiologiknya, maka keadaan itu
terjadi karena korteks sensorik primer tidak menerima impuls sensorik dari
belahan tubuh kontralateral. Di dalam klinik hemihipestesia merupakan gejala
utama atau gejala pengiring penyakit perdarahan serebral. Infark yang menduduki
seluruh krus posterior kapsula interna sesisi, mengakibatkan hemiplegia
kontralateral yang disertai hemihipestesis kontralateral juga. Pada penyumbatan
arteri serebri anterior tidak dijumpai hemihipestesia kontralateral, melainkan
hipestesia yang terbatas pada kulit tungkai kontralateral yang lumpuh.
Y
Hipestesia alternans
Hipestesia alternans merupakan hipestesia pada belahan
wajah ipsilateral terhadap lesi yang bergandengan dengan hipestesia pada
belahan badan kontralateral terhadap lesi. Lesi yang mendasari pola defisit
sensorik itu menduduki kawasan jaras spinotalamik dan traktus spinalis nervi
trigemini di medulla oblongata.
Y
Hipestesia tetraplegik
Hipestesia tetraplegik ialah hipestesia pada seluruh tubuh
kecuali kepala dan wajah. Defisit sensorik itu timbul akibat lesi transversal
yang memotong medulla spinalis di tingkat servikalis. Jika lesi menduduki
segmen medulla spinalis di bawah tingkat T1, maka defisit sensorik yang terjadi
dinamakan hipestesia paraplegi.
Y
Hipestesia selangkangan
(saddle hipestesia)
Hipestesia selangkangan ialah hipestesi pada daerah
kulit selangkangan. Lesi yang mengakibatkannya merusak kauda ekuina.
Y
Hemihipestesia sindrom
brown sequard
Hemihipestesia sindrom brown sequard ialah
hemihipestesia pada belahan tubuh kontralateral terhadap hemilesi di medulla
spinalis.
Y
Hipestesia radikular
atau hipestesia dermatomal
Hipestesia radikular ialah hipestesia yang terjadi
akibat lesi di radiks posterior. Dalam hal itu daerah yang hipestetik ialah
dermatome yang disarafi oleh serabut-serabut radiks posterior yang terkena lesi.
Y
Hipestesia perifer
Hipestesia perifer ialah hipestesia pada kawasan saraf
perifer yang biasanya mencakup bagian-bagian beberapa dermatom.
b. Gangguan sensorik positif
Gangguan sensorik positif ialah nyeri.
Perangsangan yang menghasilkan nyeri yang bersifat destruktif terhadap jaringan
yang dilengkapi dengan serabut saraf pengantar impuls nyeri. Jaringan itu
dinamakan secara singkat jaringan peka-nyeri. Jaringan atau bangunan yang tidak
dilengkapi dengan serabut nyeri tidak menghasilkan nyeri bilamana dirangsang,
misalnya diskus intervertebral. Jaringan itu tak peka nyeri.
Walaupun nyeri pada hakikatnya tidak dapat ditaksirkan
dan tidak dapat diukur, namun yang tidak dapat disangkal ialah, bahwa nyeri
merupakan perasaan yang tidak nyaman dan menyakitkan. Nyeri akibat ditusuk
berbeda dengan nyeri akibat ditekan. Bagaimana seseorang menghayati nyeri
tergantung pada jenis jaringan yang dirangsang, lalu pada jenis serta sifat
perangsangan, dan tergantung pula pada kondisi mental dan fisiknya. Nyeri dapat
langsung dirasakan sebagai hasil perangsangan terhadap kulit, mukosa rongga
mulut dan kornea.
F.
Macam- macam sistem sensorik lainnya serta bagian-bagiannya
TELINGA
A.
Fisiologi
Telinga
Telinga
merupakan organ yang berfungsi sebagai indera pendengaran dan fungsi
keseimbangan tubuh.
1. Anatomi telinga
Telinga sebagai indera pendengar terdiri dari
tiga bagian yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam.
a.
Struktur anatomi telinga.
·
Telinga
Bagian Luar
Telinga luar berfungsi menangkap rangsang
getaran bunyi atau bunyi dari luar. Telinga luar terdiri dari daun telinga
(pinna auricularis), saluran telinga (canalis auditorius externus) yang
mengandung rambut-rambut halus dan kelenjar sebasea sampai di membran timpani.4
Daun
telinga terdiri atas tulang rawan elastin dan kulit. Bagian-bagian daun telinga
lobula, heliks, anti heliks, tragus, dan antitragus.
Liang telinga atau saluran telinga merupakan
saluran yang berbentuk seperti huruf S. Pada 1/3 proksimal memiliki kerangka
tulang rawan dan 2/3 distal memiliki kerangka tulang sejati. Saluran telinga
mengandung rambut-rambut halus dan kelenjar lilin. Rambut-rambut alus berfungsi
untuk melindungi lorong telinga dari kotoran, debu dan serangga, sementara
kelenjar sebasea berfungsi menghasilkan serumen. Serumen adalah hasil produksi
kelenjar sebasea, kelenjar seruminosa, epitel kulit yang terlepas dan partikel
debu. Kelenjar sebasea terdapat pada kulit liang telinga
·
Telinga Bagian Tengah
Telinga tengah atau cavum tympani.
Telinga bagian tengah berfungsi menghantarkan bunyi atau bunyi dari telinga
luar ke telinga dalam. Bagian depan ruang telinga dibatasi oleh membran
timpani, sedangkan bagian dalam dibatasi oleh foramen ovale dan foramen
rotundum.
Y
Membran Tympani
Membran timpani berfungsi sebagai penerima
gelombang bunyi. Setiap ada gelombang bunyi yang memasuki lorong telinga akan
mengenai membran timpani, selanjutnya membran timpani akan menggelembung ke
arah dalam menuju ke telinga tengah dan akan menyentuh tulang-tulang
pendengaran yaitu maleus, inkus dan stapes. Tulang-tulang pendengaran akan
meneruskan gelombang bunyi tersebut ke telinga bagian dalam.
Y
Tulang-tulang pendengaran
Tulang-tulang pendengaran yang terdiri atas maleus
(tulang martil), incus (tulang landasan) dan stapes (tulang
sanggurdi). Ketiga tulang tersebut membentuk rangkaian tulang yang melintang
pada telinga tengah dan menyatu dengan membran timpani. Susunan tulang telinga
ditampilkan pada gambar.
Y Tuba auditiva eustachius
Tuba auditiva eustachius atau saluran
eustachius adalah saluran penghubung antara ruang telinga tengah dengan
rongga faring. Adanya saluran eustachius, memungkinkan keseimbangan tekanan
udara rongga telinga telinga tengah dengan udara luar.
·
Telinga bagian dalam
Telinga dalam berfungsi menerima getaran bunyi
yang dihantarkan oleh telinga tengah. Telinga dalam atau labirin terdiri atas
dua bagian yaitu labirin tulang dan labirin selaput. Dalam labirin tulang
terdapat vestibulum, kanalis semisirkularis dan koklea. Di dalam koklea inilah terdapat
organ Corti yang berfungsi untuk mengubah getaran mekanik gelombang bunyi
menjadi impuls listrik yang akan dihantarkan ke pusat pendengaran.
Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput)
yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah
kanalis semi-sirkularis. Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema,
menghubungkan skala timpani dengan skala vestibuli.
Kanalis semisirkularis saling berhubungan
secara tidak lengkap dan membentuk lingkaran yang tidak lengkap. Koklea atau
rumah siput merupakan saluran spiral dua setengah lingkaran yang menyerupai
rumah siput.
a)
Koklea
·
Skala vestibuli terletak di bagian dorsal
·
Skala media terletak di bagian tengah
·
Skala timpani terletak di bagian ventral
Antara skala satu dengan skala yang lain
dipisahkan oleh suatu membran. Ada tiga membran yaitu:
a. Membran vestibuli, memisahkan skala
vestibuli dan skala media.
b. Membran tektoria, memisahkan skala media dan
skala timpani.
c. Membran basilaris, memisahkan skala timpani
dan skala vestibuli.
B.
Fisiologi
pendengaran
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya
energi bunyi oleh daun telinga dalam bentuk gelombang yang dihantarkan melalui
udara atau tulang ke koklea. Getaran tersebut menggetarkan membran timpani dan
diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan
memperkuat getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian
perbandingan luas membran timpani dan foramen ovale. Energi getar yang teiah
diperkuat ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan foramen ovale
sehingga cairan perilimfe pada skala vestibuli bergerak.
Getaran akibat getaran perilimfe diteruskan
melalui membran Reissner yang akan mendorong endolimfe, sehingga akan terjadi
gerak relatif antara membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini
merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia
sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi penglepasan ion
bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi
sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan
menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus
auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39 - 40) di lobus temporalis.
C.
Mekanisme
Pendengaran
Gelombang bunyi merupakan suatu gelombang
getaran udara yang timbul akibat getaran suatu obyek. Bunyi yang didengar oleh
setiap orang muda antara 20 dan 20.000 siklus per detik. Akan tetapi, batasan
bunyi sangat tergantung pada intensitas. Bila intesitas kekerasan 60 desibel di
bawah 1 dyne/cm2 tingkat tekanan bunyi, rentang bunyi menjadi 500 sampai 5000
siklus per detik. Pada orang yang lebih tua rentang frekuensi yang bisa
didengarnya akan menurun dari pada saat seseorang berusia muda, frekuensi pada
orang yang lebih tua menjadi 50 sampai 8000 siklus perdetik atau kurang.
Kekerasan bunyi ditentukan oleh sistem
pendengaran yang melalui tiga cara. Cara yang pertama di mana ketika bunyi
menjadi keras, amplitudo getaran membran basiler dan sel-sel rambut menjadi
meningkat sehingga akan mengeksitasi ujung saraf dengan lebih cepat. Kedua,
ketika amplitudo getaran meningkat akan menyebabkan sel-sel rambut yang
terletak di pinggir bagian membran basilar yang beresonansi menjadi terangsang
sehinga menyebabkan penjumlahan spasial implus menjadi transmisi yang melalui
banyak serabut saraf. Ketiga, sel-sel rambut luar tidak akan terangsang secara
bermakna sampai dengan getaran membran basiler mencapai intensitas yang tinggi
dan perangsangan sel-sel ini tampaknya yang menggambarkan pada sistem saraf
bahwa tersebut sangat keras.
Jaras persarafan pendengaran utama menunjukan
bahwa serabut saraf dari ganglion spiralis Corti memasuki nukleus koklearis
dorsalis dan ventralis yang terletak pada bagian atas medulla. Serabut sinaps
akan berjalan ke nukleus olivarius superior kemudian akan berjalan ke atas
melalui lemnikus lateralis. Dari lemnikus lateralis ada beberapa serabut yang
berakhir di lemnikus lateralis dan sebagian besar lagi berjalan ke kolikus
inferior di mana tempat semua atau hampir semua serabut pendengaran bersinaps.
Jaras berjalan dari kolikus inferior ke nukleus genikulum medial, kemudian
jaras berlanjut melalui radiasio auditorius ke korteks auditorik yang terutama
terletak pada girus superior lobus temporalis.
Pada batang otak terjadi persilangan antara
kedua jaras di dalam korpus trapezoid dalam komisura di antara dua inti
lemniskus lateralis dan dalam komnisura yang menghubungkan dua kolikulus
inferior. Adanya serabut kolateral dari traktus auditorius berjalan langsung ke
dalam sistem aktivasi retikuler di batang otak. Pada sistem ini akan
mengaktivasi seluruh sistem saraf untuk memberikan respon terhadap bunyi yang
keras. Kolateral lain yang menuju ke vermis serebelum juga akan di
aktivasikan seketika jika ada bunyi keras yang timbul mendadak. Orientasi
spasial dengan derajat tinggi akan dipertahankan oleh traktus serabut yang
berasal dari koklea sampai ke korteks.
D.
Lokalisasi
bunyi
Penentuan keras bunyi di tentukan oleh
amplitudo suatu getaran suatu membran basilaris dan sel-sel rambut. Peningkatan
amplitudo getaran merangsang ujung saraf lebih cepat dan dapat menyebabkan
sel-sel rambut pada mambrana basiler yang bergetar mulai terangsang akibatnya
menyebabkan sumasi ruang bagi implus. Pada tiap telinga memiliki keseragaman
sensitivitas keseragaman pada rentan pendengaran yang berbeda-beda.
Sensitivitas terbaiknya berfrekuensi 2 sampai 5 kHz. Pada telinga yang baik
membutuhkan intesitas lebih dari 0 dB unuk mendeteksi bunyi berfrekuensi 100
dari pada bunyi berfrekuensi 1000 siklus per detik (Hertz /Hz).
Lokalisasi bunyi membutuhkan kerjasama kedua
telinga. Seseorang dapat menentukan bunyi pada arah horizontal melalui
perbedaan waktu antara masuknya bunyi ke dalam suatu telinga dengan frekuensi
di bawah 2000 Hz dan masuk ke dalam telinga yang lain.
Perbedaan antara intensitas bunyi dalam pada
kedua telinga bekerja paling baik bila frekuensi bunyi yang lebih tinggi,
karena kepala bertindak sebagai sawar bunyi yang lebih baik terhadap frekuensi
lainnya. Mekanisme perbedaan waktu dalam membedakan arah jauh lebih baik dari
pada mekanisme intesitas, karena mekanisme ini tidak bergantung pada
faktor-faktor luar, melainkan bergantung pada interval waktu yang tepat antara
dua sinyal akustik.
Perbedaan waktu datangnya gelombang bunyi pada
telinga kanan telinga kiri digunakan untuk mendeteksi sumber bunyi pada bidang
datar. Pada bunyi dengan frekuensi kurang dari 2000 Hz struktur bunyi dapat
diketahui dengan proses Interaural Time Differences (ITD). Pada
frekuensi yang lebih besar dari 2000 Hz, efek dari “bayangan kepala”
meningkatkan perbedaan intensitas bunyi antara telinga kanan dan telinga kiri.
Perbedaan ini digunakan untuk melokalisasi sumber bunyi.
Apabila
seseorang melihat lurus ke arah sumber bunyi maka bunyi akan mencapai kedua
telinga dengan jarak waktu yang bersamaan. Sedangkan jika telinga kanan lebih
dekat dengan bunyi dari pada telinga kiri maka sinyal bunyi yang berasal dari
telinga sebelah kanan akan memasuki otak lebih dahulu dari pada telinga sebelah
kiri.
KULIT
Sensasi somatis mengacu pada sensasi di permukaan kulit. Somato
sensoris tampaknya hanya mengacu pada satu sistem saja, yaitu sistem peraba,
namun sebenarnya ia memiliki tiga sistem yang berbeda namun saling berinteraksi
satu sarna lain, yaitu:
1. Sistem Exteroceptive, yang mengindera stimulus ekstemal yang
dirasakan kulit
2. Sistem Proprioceptive, yang memonitor informasi tentang
posisi tubuh berdasarkan reseptor di otot, persendian, dan organ-organ
keseimbangan
3. Sistem Interoceptive, yang mampumenyediakansemua
informasitentang kondisi tubuh (temperatur, tekanan darah)
Pada bagian ini, akan dititikberatkan pada sistem exteroceptive yang
mampu mengindera stimulus eksternal yang dirasakan kulit.
A.
Anatomi Organon Tactus
Organon Tactus adalah alat yang berkaitan dengan indera peraba.
Organon tactus meliputi
kulit
dan alat-alat tambahan. Kulit adalah pelindung terhadap dunia luar, sebagai
penghalang dari kerusakan dan kuman. Kulit juga membantu membuang zat-zat yang
tidak berguna dan mengatur suhu badan. Kulit terdiri dari 2 lapisan yaitu:
a.
Cutis,
terdiri dari epidermis dan corium
b.
Subcutis,
mengandung banyak lemak terdiri dari Stratum Corneum dan Stratum Gemanaticum
Di
dalam kulit terdapat berbagai macam organ, yaitu:
a)
Rambut,
akarrambut tertanam dalam-dalam di dermis. Tiap helai rambut
terdiri dari akar dan batang yang tumbuh melalui epidermis ke permukaan kulit.
Akar rambut terpancang dalam liang yang disebutfolikel dan mendapat
suplai makanan dari darah melalui bagian kembang yang disebut papUa.
b)
Kelenjar,
terdiri dari:
·
Kelenjar
Minyak, berhubungan dengan folikel rambut
dan menghasilkan minyak untuk melumasi kulit.
·
Kelenjar
Keringat, terletak pada dermis yang terbuka
pada permukaan kulit, dan melepaskan air serta sisa-sisa metabolisme tubuh.
c)
Panca
Indera, terdiri dari:
·
Inter
Epithelial, merupakan
jaringan-jaringan yang bersama-sama membentuk organ kulit, termasuk didalamnya
jaringan saraf
·
Jaringan
Pengikat, mendukung dan membungkus sel-sel
kulit dan memungkinkan makanan dari dalam darah masukke sel. Seljaringan ikat
inijuga menyimpan lemak dan terutama terdapat di lapisan kulit yang terbawah
dan di sekitar usus.
B.
Reseptor Kulit dan Hantaran Impuls di Saraf Perifer
Kulit berfungsi sebagai:
a.
Mekanoreseptor,
berkaitan dengan indera raba, tekanan, getaran, dan kinestesi
b.
Thermoreseptor,
berkaitan dengan penginderaan yang mendeteksi panas dan dingin.
c.
Reseptor
Nyeri, berkaitan dengan mekanisme protektif
bagi tubuh.
Pada glabrous atau kulit yang tidak memiliki rambut (seperti
pada telapak tangan) memiliki empat macam reseptor. Dua diantaranya sangat
mudah beradaptasi dan merespon stimulasi taktil yang datang, yaituPacinian
Corpuscle (Corpuscullus Lamellosum Paccini), reseptor terbesar dan letaknya
paling dalam (pada subcutis); dan Meissner Corpuscle (Corpuscullus
Tactus dari Meissner) yang terietak persis di bawah kulit terluar
(epidermis).
Sebaliknya, reseptor Merkel dan Ruffini Corpuscle
(Corpuscullus Ruffini) hanya akan merespon terhadap stimulasi taktil yang
lama. Seperti halnya pada kulit glabrous, kulit yang berambut juga memiliki corpuscullus
Paccini, corpuscullus Ruffini, reseptor Merkel, tetapi ia tidak memiliki
corpuscullus Meissner.
Sebagai gantinya, maka terdapat reseptor rambut yang terietak
didekat pangkal akar rambut. Berdasarkan reseptor-reseptortadi, makaseseorang
dapat mengidentifikasi objek melalui sentuhan (stereognosis). Modalitet
peraba bagi tubuh adalah taktil, sakit atau nyeri, panas, dingin, dan tekanan.
Reseptor taktil dan sakit adalah corpuscullus Tactus dari Meissner. Reseptor
panas adalah corpuscu IIus Ruffini (di dekat subcutis dan corium), reseptor
dingin adalah Corpuscu IIus Bulbo ldeakrauso (di dekat subcutis dan corium).
Reseptor tekanan adalah corpuscu IIus Lame IIosum Paccini yang terletak di
subcutis.
Serabut saraf yang menghantarkan impuls panas lebih tebal dari pada
yang menghantarkan impuls dingin. Impuls panas dan dingin dihantarkan melalui tractus
spino thalamic us lateralis. Berhubungan dengan asalnya,
rangsang-rangsang taktus dibedakan atas:
a.
Rangsang
Eksteroseptif, yaitu rangsang yang diterima dari luar, misalnya rangsang dari
kulit.
b.
Rangsang
Proprioseptif, yaitu rangsang yang ditimbulkan oleh suatu alat dan diterima
oleh otot sendiri, misalnya bagian visceral.
c.
Rangsang
Introseptif, yaitu rangsang yang datang dari dalam tubuh, misalnya rangsang
yang diterima oleh usus.
d.
Rangsang
Kinestesi, yaitu gerakan-gerakan dan ketegangan-ketegangan dari berbagai bagian
tubuh dan otot. Rangsang ini terdapat pada persendian dan otot.
Bila suatu saraf pada satu tempat dipanasi atau didinginkan akan
timbul aliran listrik yang dapat menimbulkan aliran aksi. Aliran listrik ini
jadi timbul bila ada dua tempat yang berurutan pada saraf ada perbedaan dalam
suhu atau bila adagradient. Berhubungan dengan
hal
ini ada pendapat bahwa reseptor thermal juga berupa akhiran saraf bebas (free
nerve endings), jadi bila suhu reseptor lebih rendah daripada dendrit, maka
akan timbul potensial generator sehingga timbul impuls yang menyebabkan
perasaan dingin. Sebaliknya, bila suhu reseptor lebih tinggi dari
dendrit, akan timbul perasaan panas.
Serabut saraf yang membawa informasi dari reseptor somatosensori
berkumpul di kumpulan saraf perifer yang selanjutnya masuk ke sumsum
tulang belakang melalui serabut serabut saraf di bagian dorsal (dorsal
root). Bagian tubuh yang dipengaruhi dorsal root pada
tiap
segmen tulang belakang disebut dermatome Antara dermatome yang
satu dengan yang lain ada tugas yang overlap atau saling mendukung,
sehingga kerusakan pada dorsal root yang tunggal hanya akan menimbulkan
efek somatosensoris yang minimal.
HIDUNG
Manusia dapat membedakan berbagai macam bau bukan karena memiliki
banyak reseptor pembau namun kemampuan tersebut ditentukan oleh prinsip-prinsip
komposisi (component principle). Seperti pada penglihatanwama
(hanya memiliki tiga reseptor wama dasar, namun dari komposisi yang
berbeda-beda dapat dilihat wama yang bermacam-macam), organ pembau hanya
memiliki tujuh reseptor, namun dapat membedakan lebih dari 600 aroma yang berbeda.
Alat pembau atau sistem olfaction biasajuga disebut dengan Organon
Olfaktus, dapat menerima stimulus benda-benda kimia sehingga reseptomya disebut
pula chemoreceptor. Organon olfaktus terdapat pada hidung bagian atas, yaitu
pada concha superior dan membran ini hanya menerima rangsang benda-benda
yang dapat menguap dan berwujud gas.
Bagian-bagiannya adalah sebagai berikut:
a.
Concha
Superior
b.
Concha
Medialis
c.
Concha
Inferior
d.
Septum
nasi (sekat hidung)
Concha-conchater sebut adalah dari tulang,ditutupi oleh selaput
lendir yang mengandung penuh pembuluh, pembuluh darah dan dapat membesar.
Gunanya untuk memanasi hawa yang akan masuk ke paru-paru.
Reseptor organon olfactory terdapat di bagian atas hidung, menempel
pada lapisan jaringan yang diselaputi lendir dan disebut olfactory muscosa. Selaput
lendir tersebut berfungsi untuk melembabkan udara. Pada bagian tersebut juga
terdapat bulu-bulu hidung yang berfungsi untuk menyaring debu dan kotoran.
Benda kimia yang dapat menstimulasi sel saraf dalam hidung adalah
substansi yang dapat larut dalam zat cair (lendir) yang terdapat pada cilia
yang menutupi sel tersebut. Makin berbau suatu substansi, maka hal tersebut
menunjukkan bahwa makin banyak molekul yang dapat larut dalam air dan lemak
(konsentrasi penguapannya tinggi).
Olfactory muscosa
memiliki axon yang mampu melalui bagian tengkorak yang permiable (cribriform
plate) dan masuk ke olfactory bulbs (saraf cranial yang pertama).
Pada olfactory bulbs, terjadi sinapsis dengan neuron yang
menyampaikan pesan secara menyebar ke olfactory paleocortex di lobus temporal
bagian medial melalui lateral olfactory tract. Dari olfactory paleocortex, ada
jejak saraf yang menuju medial dorsal nucleus di thalamus dan kemudian
menuju olfactory neocortex di bagian depan frontallobes, tepatnya pada
permukaan inferior. Neuron-neuron olfactory paleocortex yang lain akan menuju
ke sistem lymbic. Bila proyeksi neuron ke thalamic-neocortical bertugas sebagai
perantara kesadaran persepsi terhadap aroma, maka proyeksi neuron ke sistem
lymbic bertugas sebagai perantara respon emosional terhadap aroma.
Reseptor olfaktori hanya mampu berfungsi selama 35 hari. Bila mati,
baik karena sebab yang alami, maupun karena kerusakan fisik, maka reseptor
tersebut akan digantikan oleh reseptor-reseptor baru yang axonnya akan
berkembang ke lapisan olfactory bulbs yang akan dituju, dan bila telah sampai
pada lapisan yang dimaksud, mereka akan memulihkan koneksi synapsis yang terputus.
Kemampuan membau makhluk hidup tergantung pada:
a.
Susunan
Rongga Hidung. Bentuk Concha
dan Septumnasi tempat reseptor pembau pada masing-masing orang tidak sarna
bentuknya. Contohnya pada orang yang berhidung mancung akan lebih luas daripada
yang berhidung pesek.
b.
Variasijisiologis,
contohnya pada wanita, saat sebelum menstruasi atau pada saat hamil
muda akan menjadi sangat peka.
c.
Spesies,
pada spesies tertentu yang kemampuansurvivalnya tergantung pada
pembauan, akan memiliki indera pembau yang lebih peka, contohnyapada anjing.
d.
Besarnya
konsentrasi dari substansi yang berbau. Misalnya
skatol (bau busuk yang terdapat pada kotoran atau faeces) memiliki konsentrasi
yang kuat karena memiliki kemampuan menguap yang tinggi. Bila konsentrasinya
kuat maka baunya busuk, sebaliknya bila konsentrsinya rendah akan menimbulkan
bau yang berbeda (contohnya pada bunga yang mengandung skatol dalam konsentrasi
yang rendah malah akan menimbulkan bau harum).
LIDAH
Reseptor sistem gustatory atau perasa berada di lidah dan
bagian-bagian rongga mulut. Reseptor perasa disebut taste buds yang
umumnya terletak disekitar kuncup pengecap yang disebut papillae.
Sistem gustatory atau organon gustus adalah indera pengecap
yang terdapat pada lidah dan memiliki 4 modalitet yaitu
a.
Manis,
pada puncak lidah, dapat diselidiki dengan meletakkan gula di
lidah.
b.
Asin,pada puncak dan tepi lidah, dapat diselidiki dengan meletakkan
garam di lidah
c.
Asam,
pada tepi lidah, dapat dibuktikan dengan meletakkan asam sitrun di
lidah.
d.
Pahit,
pada pangkallidah, dapat dibuktikan dengan meletakkan kina di
lidah.
Beberapa ahli menambahkan modalitet yang kelima, yaitu rasa alkali.
Di luar ke lima macam rasa tersebut, ada kombinasi antara keempat atau kelima
macam rasa itu yang akan menimbulkan rasa yang berbeda-beda. Berbagaimacam rasa
tersebut masih dikombinasikan dengan tipe-tipe rangsangan yang lain, seperti
rangsang panas, dingin, lembut, dan nyeri.
Reseptor pada lidah akan digantikan oleh reseptor yang bam setiap
10 hari sekali. Reseptor perasa tidak memiliki axon sendiri. Tiap neuron yang
membawa impuls dari taste buds, akan menerima input dari beberapa reseptor
sekaligus. Sinyal yang timbul pada reseptor perasa akan meluas ke sistem second-order
neuron yang akan disampaikan ke cortex.
Saraf afferen pada sistem gustatory meninggalkan rongga mulut yang
merupakan bagian dari saraf cranial bagian facial , glossopharyngeal , dan
vagus . Informasi bermula dari bagian depan lidah, ke bagian belakang lidah,
akhimya menuju ke bagian belakang rongga mulut. Saraf-saraf tersebut akan
berakhir di solitary nucleus di medulla dan bersinapsis dengan neuron
yang akan menyampaikan pesan ke ventral posterior nucleus di thalamus (letaknya
berbeda dengan bagian penerima impuls dari stimulasi oral yang motorik sifatnya).
Axon-axon pada nucleus ventral posterior akan membawa berita ke primary
gustatory cortex dan ke secondary gustatory cortex. Sistem
gustatory juga akan menuju sistem lymbic. Proyeksi impuls ke hypothalamus
diperkirakan memiliki peranan penting dalam mengatur rasa lapar. Satu hallagi
yang perlu diingat dalam sistem gustatory, yaitu berbeda dengan sistem sensoris
yang lain, sistem gustatory diproyeksikan secara ipsilateral.
Kemampuan mengecap seseorang tergantung pada:
a.
Faktor
Individual, contohnya seseorang
yang sedang sakit, maka kepekaan mengecapnya jadi berkurang.
b.
Nilai
Ambang, nilai ambang ini tergantung dari
kebiasaan seseorang. Contohnya seseorang yang sudah biasanya makan makanan yang
asam, akan lebih tinggi dari pada orang yang tidak terbiasa makan asam.
c.
Konsentrasi,
contohnya seseorang yang makan garam satu mangkok garam, lama kelamaan
tidak merasakan asin lagi seperti pertama kali ia memakannya.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Sistem
sensoris adalah sistem penghantaran rangsangan dari perifer (reseptor) ke pusat
(otak). Mulai dari reseptor di perifer sampai ke korteks sensorik di otak jalur
sensorik sekurang-kurangnya terdiri dari 3 tingkatan neuron. . Impuls
(rangsang) berjalan secara sentripetal dari reseptor di perifer ke badan sel
neuron tingkat pertama (primer) di ganglion akar dorsal dari saraf spinal.
Aksonnya menuju ke sentral, bersinaps degnan neuron tingkat dua (sekunder) di
kornu posterior medulla spinalis atau inti homolog di batang otak. Akson neuron
sekunder melintas garis tengah dan menuju pada sisi sebelahnya (kontralateral),
kemudian naik sebagai jaras spinotalamik atau lemniskus medialis menuju ke
sinaps berikutnya di thalamus. Neuron di thalamus, biasanya berupa neuron
tingkat tiga (tersier) terletak di kompleks ventrobasal thalamus dan
berproyeksi melalui kaki posterior kapsula interna ke korteks sensorik di girus
postsentral (area brodmann 3-1-2).
Prinsip Umum Organisasi Sistem Sensoris
Tiap sistem sensoris khusus menerima, mengkodekan, dan
mengintepretasikan informasi sensoris yang tertentu. Tetapi secara umum, sistem
sensoris memiliki prinsip kerja yang saMa. Prinsip-prinsip umum dari sistem
sensoris yang mampu disimpulkan adalah sebagai berikut:
1.
Sistem
sensoris merupakan sistem yang sifatnya hierarkis. Pada setiap jenis sistem sensoris ada kecenderungan umum bahwa
informasi akan mengalir dari sistem yang lebih rendah ke sistem yang lebih
kompleks (lebih persepsual daripada sensoris).
2.
Sistem
sensoris merupakan sistem yang paralel. Pada
mulanya sistem sensoris digambarkan sebagai suatu sistem yang serial (hanya ada
satu jalur aliran informasi), tetapi ternyata sistem sensoris cenderung
bersifat paralel,yaitu bahwa informasi dapat mengalir pada komponen-komponen
yang sesuai melalui berbagai jalur.
3.
Semua
sistem sensoris yang eksteroseptif akan diproyeksikan ke neocortex melalui
thalamus. Meskipun ada perbedaan yang nyata
antara jejak -jejak saraf ke lima macam sistem sensoris eksteroseptif, tetapi
adajejak sarafutama dari thalamus yang menuju ke neocortex. Tiap sistem
sensoris umumnya memiliki lebih dari satu pasang jalur yang menuju thalamus
(misalnya sinyal-sinyal visual yang disampaikan melalui nucleus pulvinar dan
nucleus lateral geniculate).
4.
Korteks
sensoris umumnya diorganisasikan dalam satu colum ljalurlsaluran). Setiap sistem sensoris eksteroseptifyang neuronnya terletak
padajaringan cortical yang sarna (pada satu column) memiliki
kecenderungan untuk responsif terhadap input sensoris pada column yang sarna.
5.
Permukaan
cortex sensoris terbagi-bagi secara sistematis. Cortex terbagi-bagi secara jelas antara cortex visual (retinotopically),
cortex auditory (tonotopically), dan cortex somatosensory (somatotopically).
Sedangkan bagian cortex yang berhubungan dengan sistem organisasi gustatory
dan olfactory belum diketahui dengan jelas. Keuntungan mengetahui pembagian
cortex tersebut adalahuntuk memahami interaksi antara chanels atau column
sistem organisasi yang satu dengan yang lain.
6.
Terdapat
Representasi Multiple pada Setiap Sistem Sensoris di Cortex. Mula-mula diperkirakan bahwa tiap pola daerah di cortex hanya
berkaitan dengan satu sistem sensoris tertentu, tetapi pada hasil penelitian
terakhir menunjukkan bahwa satu daerah di cortex mempresentasikan lebih dari
satu macam sistem sensoris.
7.
Reaktivitas
dan Kemampuan Seleksi Neuron-neuron di Secondary Sensory Cortex terjadi karena
atensi selektif. Pada secondary
sensory cortex terdapat mekanisme pada tiap sistem sensoris untuk meningkatkan
sensitivitas neuron terhadap stimulus tertentu yang difokuskan oleh subjek yang
bersangkutan.
DAFTAR PUSTAKA
pdf
sistem-sensorik
pdf Anatomi_Fisiologi_pendengaranx
pdf Telinga
pdf
bab6_mekanisme_sensoris_dan_persepsi_serta_anatomi_organ_organ_sensoris
pdf ANATOMI-FISIOLOGI-SISTEM-SARAF
Tidak ada komentar:
Posting Komentar