Rabu, 26 Oktober 2016

sistem sensorik lainnya



SISTEM SENSORIK LAINNYA
Makalah ini disusun Guna untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Faal

Dosen Pengampu:
Mentari Marwa,M.A



Disusun Oleh:
Nadya Khussotu Birliana
Najmi Laela Badriyah

INSTITUT AGAMA ISLAM TRIBAKTI (IAIT) KEDIRI
FAKULTAS DAKWAH
PRODI PSIKOLOGI ISLAM
2016
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum
                     Alhamdulillahirobbil’alamin, kami dapat menyelesaikan tugas ini, semua ini tidak lepas dari Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini.
     Tak lupa kami sampaikan terimakasih yang sebesar-basarnya kepada Ibu Mentari Marwa,M.A dan kepada semuanya yang telah membantu kami dalam menyelesaikan tugas ini, karena dalam menyelesaikan tugas ini kami menghadapi berbagai masalah dan rintangan yang menghadang, Dengan adanya tugas ini kami ingin berbagi pengetahuan dan pendapat kami dengan teman-teman, semoga bermanfaat bagi kita semua, amin.
Kritik dan saran sangat kami harapkan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada, karena tugas ini jauh dari kata sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah semata.

Wassalamualaikum

                                                                                              
Penulis


Kediri, 22 Oktober 2016





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Manusia tidak dapat mempertahankan hidupnya  jika ia tidak tahu adanya bahaya yang mengancam atau menimpa dirinya. Adanya bahaya dapat diketahui dengan jalan melihat, mendengar, mencium, dan merasakan rasa nyeri, rasa raba, rasa panas, rasa dingin, dan sebagainya. Inilah yang disebut sebagai sistem sensorik. Sistem ini menerima ribuan informasi kecil dari berbagai organ sensoris dan kemudian mengintegrasikan untuk menentukan reaksi yang harus dilakukan tubuh.

Sebagian terbesar kegiatan sistem saraf  berasal dari pengalaman sensoris dari reseptor sensoris, baik berupa reseptor  visual, reseptor auditorius, reseptor raba di permukaan tubuh, atau jenis reseptor lain. Pengalaman sensoris ini dapat menyebabkan suatu reaksi segera, atau kenangannya dapat disimpan di dalam otak selama bermenit-menit, berminggu-minggu, atau bertahun-tahun dan kemudian dapat membantu menentukan reaksi tubuh di masa yang akan datang.

Sistem sensorik menempatkan manusia berhubungan dengan sekitarnya. Sensasi dapat dibagi menjadi 4 jenis, yaitu superfisial, dalam, viseral, dan khusus. Sensasi superfisial, disebut juga perasaan ekteroseptif atau protektif, yang mengurus rasa raba, rasa nyeri, rasa suhu. Sensasi dalam, yang disebut juga sebagai sensasi proprioseptif mencakup rasa gerak (kinetik), rasa sikap (statognesis) dari otot dan persendian, rasa getar (pallesthesia), rasa tekan dalam, rasa nyeri dalam otot. Sensasi viseral (interoseptif) dihantar melalui serabut otonom aferen dan mencakup rasa lapar dan rasa nyeri pada visera.







B.     RUMUSAN MASALAH
a.       Apa Pengertian Sel Sensorik?
b.      Bagaimana Anatomi Dan Fisiologi Sensorik ?
c.       Sebutkan Reseptor Pada Sistem Sensorik ?
d.      Sebutkan Pemeriksaan Fisik Sistem Sensorik ?
e.       Apa saja Gangguan Sistem Sensorik ?
f.       Jelaskan Macam- macam sistem sensorik lainnya serta bagian-bagiannya ?



























BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Sensorik

Sel Saraf Sensorik adalah penghantar impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat, yaitu otak (ensefalon) dan sumsum belakang (medula spinalis). Ujung akson dari saraf sensori berhubungan dengan saraf asosiasi (intermediet).
B.     Anatomi dan Fisiologi

Mulai dari reseptor di perifer sampai ke korteks sensorik di otak jalur sensorik sekurang-kurangnya terdiri dari 3 tingkatan neuron. Impuls (rangsang) berjalan secara sentripetal dari reseptor di perifer ke badan sel neuron tingkat pertama (primer) di ganglion akar dorsal dari saraf spinal. Aksonnya menuju ke sentral, bersinaps degnan neuron tingkat dua (sekunder) di kornu posterior medulla spinalis atau inti homolog di batang otak. Akson neuron sekunder melintas garis tengah dan menuju pada sisi sebelahnya (kontralateral), kemudian naik sebagai jaras spinotalamik atau lemniskus medialis menuju ke sinaps berikutnya di thalamus.

Neuron di thalamus, biasanya berupa neuron tingkat tiga (tersier) terletak di kompleks ventrobasal thalamus dan berproyeksi melalui kaki posterior kapsula interna ke korteks sensorik di girus postsentral (area brodmann 3-1-2). Pola dasar ini mengemukakan beberapa hal:

a.       Sistem sensorik menyilang. Informasi sensorik dari separuh badan berproyeksi ke thalamus dan korteks kontralateral.
b.      Neuron tingkat pertama berada di ganglion akar dorsal
c.       Badan sel neuron tingkat dua berada di kornu posterior medulla spinalis atau di inti homolog di medulla oblongata seperti nucleus grasilis (yang menerima impuls dari tungkai) dan kuneatus (yang menerima impuls dari lengan).
d.      Neuron tingkat tiga di thalamus me-relay impuls ke korteks.


C.    Reseptor Pada Sistem Sensorik

Reseptor merupakan organ sensorik khusus yang mampu mencatat perubahan tertentu di dalam organism dan sekitarnya, serta menghantarkan rangsangan ini sebagai impuls.

Pada dasarnya  terdapat lima macam reseptor sensoris, antara lain:
a.         Mekanoreseptor, yang mendeteksi perubahan bentuk reseptor atau sel-sel di dekat reseptor tersebut
b.        Termoreseptor, yang mendeteksi perubahan suhu, beberapa reseptor mendeteksi dingin dan lainnya mendeteksi hangat.
c.         Nosiseptor, yang mendeteksi nyeri, biasanya yang disebabkan oleh kerusakan fisik maupun kerusakan kimia.
d.        Reseptor elektromagnetik, yang mendeteksi cahaya pada retina mata
e.         Kemoreseptor, yang mendeteksi pengecapan di dalam mulut, bau di dalam hidung, kadar oksigen di dalam darah arteria, osmolalitas cairan tubuh, konsentrasi karbondioksida

Eksteroseptor mencakup reseptor yang terlibat terutama pada lingkungan eksternal yaitu: korpuskel (badan) meissner, korpuskel merkel, sel rambut untuk rasa raba; bulbus krauss untuk rasa dingin; korpuskel ruffini untuk rasa panas; dan ujung-ujung saraf bebas untuk rasa nyeri. Banyak hasil penelitian yang mengimplikasikan bahwa sensasi tertentu dihantar oleh ujung tertentu, namun dengan banyak perkecualian. Misalnya, kornea mata di mana hanya ditemukan ujung saraf bebas, namun rasa raba, nyeri, panas dan dingin dapat diapresiasi. Stimulasi yang berlebihan pada tiap ujung sensorik, terlebih bila bersifat melukai akan menginduksi rasa nyeri.

 Hubungan manusia dengan dunia luar terjadi melalui reseptor sensorik yang dapat berupa:
a.       Reseptor eksteroseptif, yang berespon terhadap stimulus dari lingkungan eksternal, termasuk visual, auditoar, dan taktil.
b.      Reseptor propioseptif, misalnya yang menerima informasi mengenai posisi bagian tubuh atau tubuh di ruangan.
c.       Reseptor interoseptif, mendeteksi kejadian internal seperti perubahan tekanan darah.

D.    Pemeriksaan Fisik Sistem Sensorik

Pemeriksaan sistem sensori sangat bergantung pada kemampuan dan keinginan pasien untuk bekerja sama. Sensasi dirasakan oleh pasien (sifat subjektif) dan oleh karena itu pemeriksa sangat bergantung pada tingkat kepercayaan kita terhadap pasien. Pemeriksaan ini tidak perlu untuk memeriksa semua wilayah di permukaan kulit. Sebuah pemeriksaan cepat pada wajah, leher, lengan, badan, dan kaki dengan jarum hanya membutuhkan beberapa detik. Biasanya salah satu tujuannya adalah mencari perbedaan antara kedua sisi tubuh. Lebih baik untuk bertanya apakah rangsangan pada sisi berlawanan dari tubuh terasa sama daripada menanyakan apakah terasa berbeda.

Pemeriksaan sensorik terdiri dari:
a.      Sentuhan ringan
b.      Sensasi nyeri
c.       Sensasi getaran
d.      Propriosepsi
e.       Lokalisasi taktil

Pada pasien tanpa tanda atau gejala penyakit neurologis, pemeriksaan fungsi sensorik dapat dilakukan dengan cepat, dengan memeriksa adanya sensasi normal pada ujung jari tangan dan kaki. Pemeriksa dapat memilih apakah ia mau memeriksa sentuhan ringan, nyeri dan sensasi getaran. Jika semuanya normal, pemeriksaan sensorik lainnya tidak diperlukan.

Jika ada gejala atau tanda yang menunjukkan gangguan neurologi, harus dilakukan pemeriksaan lengkap.seperti halnya:

a.      Pemeriksaan Sentuhan Ringan
Sentuhan ringan diperiksa dengan menyentuh pasien secara ringan dengan sepotong kecil kain kasa. Mintalah pasien untuk menutup mata dan memberitahu anda jika anda sedang menyentuhnya. Diusahakan menyentuh jari kaki dan tangan pasien. Jika sensasinya normal, lanjutkan dengna pemeriksaan yang lain. Jika sensasinya abnormal, lakukanlah pemeriksaan di bagian proksimal sampai batas ketinggian gangguan sensorik dapat ditentukan.

b.      Pemeriksaan Sensasi Nyeri
Rasa nyeri dapat dibangkitkan dengan berbagai cara, misalnya dengan menusuk, memukul, merangsang dengan api atau sesuatu yang sangat dingin dan juga dengan berbagai larutan kimia. Sensasi nyeri diperiksa dengan menggunakan peniti dan menanyakan kepada pasien apakah ia merasakannya. Mintalah kepada pasien untuk menutup matanya. Bukalah peniti dan sentuhlah pasien dengan ujungnya. Sebelumnya perlu diberitahukan kepaa pasien bahwa yang diperiksa ialah rasa nyeri dan bukan rasa raba. Kita periksa seluruh tubuh, dan bagian-bagian yang simetris dibandingkan. Bila bagian yang simetris dibandingkan, tusukan harus sama kuat. Bila kita memeriksa sensibilitas pada pasien yang gelisah atau yang agak menurun kesadarannya, maka pemeriksaan rasa tusuk masih dapat dilakukan, sedang yang lainnya perlu ditangguhkan.

c.       Pemeriksaan Sensasi Getar
Sensasi getaran diperiksa dengan menggunakan garpu tala 128 hz. Ketuklah garpu tala dengan tumit tangan anda dan letakkanlah di suatu tonjolan tulang di bagian distal tubuh pasien. Minta pasien untuk memberitahukan anda kalau ia sudah tidak dapat merasakan getaran itu lagi. Minta kepada pasien untuk menutup matanya. Letakkan garpu tala yang sedang bergetar pada falangs distal jari tangan pasien dan jari tangan anda sendiri. Dengan cara ini anda akan dapat merasakan getaran melalui jari pasien untuk menentukan ketepatan respon pasien. Setelah jari tangan periksa juga jari kaki. Jika tidak ada gangguan lakukan pemeriksaan berikutnya. Jika ada gangguan, tentukanlah batas gangguannya.

d.      Pemeriksaan Propiosepsi
Sensasi posisi, atau propriosepsi, diperiksa dengan menggerakkan falangs distal. Pemeriksa memegang falangs distal pada sisi lateralnya dan menggerakkan ke atas sambil memberitahukan pasien. Pemeriksa kemudian menggerakkan falangs distal pasien ke bawah dan memberitahukannya. Dengan mata pasien tertutup, pemeriksa menggerakkan falangs distal naik turun dan akhirnya berhenti, setelah itu tanyakan pada pasien apakah falangs distal terletak di atas atau di bawah. Secara rutin lakukanlah pemeriksaan pada falang terminal sebuah jari pada tiap tangan dan falang terminal jari kaki. Jika tidak ada gangguan sensasi posisi, pemeriksa harus melanjutkan sisa pemeriksaan berikutnya.

e.       Pemeriksaan Lokalisasi Taktil
Lokalisasi taktil, yang dikenal pula sebagai perangsangan simultan ganda, diperiksa dengan meminta pasien menutup matanya sambil menanyakan kepadanya bagian tubuh mana yang disentuh. Pemeriksa dapat menyentuh pasien pada pipi kanannya dan lengan kiri. Pasien kemudian ditanyakan dimana jari pemeriksa berada. Biasanya pasien tidak menemukan kesulitan dalam menentukan kedua daerah ini. Pasien dengan lesi lobus parietalis mungkin merasakan kedua sentuhan ini, tetapi mungkin memadamkan sensasi pada sisi kontralateral dengan sisi lesi. Perasaan ini merupakan fenomena yang disebut ekstingsi.

E.     Gangguan Sistem Sensorik

a.    Gangguan Sensoris Negatif
Gangguan sensorik superfisial atau gangguan eksteroseptif yang negatif merupakan salah satu manifestasi sindrom neurologi. Secara singkat gangguan sensorik negatif itu disebut defisit sensorik. Tergantung pada kedudukan lesi, apakah di saraf perifer, di radiks posterior atau di lintasan sentralnya, daerah permukaan tubuh yang anastetik atau baal dan sebagainya memperlihatkan pola yang khas sesuai dengan penataan anatomi susunan somestesia.

Mengenal pola defisit sensorik itu berarti mengetahui lokasi lesi yang mendasarinya. Untuk mempermudah pembahasan defisit sensorik, maka istilah anestesia dan hipestesia digunakan secara bebas sebagai sinonim dari defisit sensorik.
Y      Hemihipestesia
Hemihipestesia merupakan hipestesia yang dirasakan sesisi tubuh saja. Ditinjau dari sudut patofisiologiknya, maka keadaan itu terjadi karena korteks sensorik primer tidak menerima impuls sensorik dari belahan tubuh kontralateral. Di dalam klinik hemihipestesia merupakan gejala utama atau gejala pengiring penyakit perdarahan serebral. Infark yang menduduki seluruh krus posterior kapsula interna sesisi, mengakibatkan hemiplegia kontralateral yang disertai hemihipestesis kontralateral juga. Pada penyumbatan arteri serebri anterior tidak dijumpai hemihipestesia kontralateral, melainkan hipestesia yang terbatas pada kulit tungkai kontralateral yang lumpuh.

Y      Hipestesia alternans
Hipestesia alternans merupakan hipestesia pada belahan wajah ipsilateral terhadap lesi yang bergandengan dengan hipestesia pada belahan badan kontralateral terhadap lesi. Lesi yang mendasari pola defisit sensorik itu menduduki kawasan jaras spinotalamik dan traktus spinalis nervi trigemini di medulla oblongata.

Y      Hipestesia tetraplegik
Hipestesia tetraplegik ialah hipestesia pada seluruh tubuh kecuali kepala dan wajah. Defisit sensorik itu timbul akibat lesi transversal yang memotong medulla spinalis di tingkat servikalis. Jika lesi menduduki segmen medulla spinalis di bawah tingkat T1, maka defisit sensorik yang terjadi dinamakan hipestesia paraplegi.

Y      Hipestesia selangkangan (saddle hipestesia)
Hipestesia selangkangan ialah hipestesi pada daerah kulit selangkangan. Lesi yang mengakibatkannya merusak kauda ekuina.

Y      Hemihipestesia sindrom brown sequard
Hemihipestesia sindrom brown sequard ialah hemihipestesia pada belahan tubuh kontralateral terhadap hemilesi di medulla spinalis.

Y      Hipestesia radikular atau hipestesia dermatomal
Hipestesia radikular ialah hipestesia yang terjadi akibat lesi di radiks posterior. Dalam hal itu daerah yang hipestetik ialah dermatome yang disarafi oleh serabut-serabut radiks posterior yang terkena lesi.
Y      Hipestesia perifer
Hipestesia perifer ialah hipestesia pada kawasan saraf perifer yang biasanya mencakup bagian-bagian beberapa dermatom.

b. Gangguan sensorik positif
Gangguan sensorik positif ialah  nyeri. Perangsangan yang menghasilkan nyeri yang bersifat destruktif terhadap jaringan yang dilengkapi dengan serabut saraf pengantar impuls nyeri. Jaringan itu dinamakan secara singkat jaringan peka-nyeri. Jaringan atau bangunan yang tidak dilengkapi dengan serabut nyeri tidak menghasilkan nyeri bilamana dirangsang, misalnya diskus intervertebral. Jaringan itu tak peka nyeri.
Walaupun nyeri pada hakikatnya tidak dapat ditaksirkan dan tidak dapat diukur, namun yang tidak dapat disangkal ialah, bahwa nyeri merupakan perasaan yang tidak nyaman dan menyakitkan. Nyeri akibat ditusuk berbeda dengan nyeri akibat ditekan. Bagaimana seseorang menghayati nyeri tergantung pada jenis jaringan yang dirangsang, lalu pada jenis serta sifat perangsangan, dan tergantung pula pada kondisi mental dan fisiknya. Nyeri dapat langsung dirasakan sebagai hasil perangsangan terhadap kulit, mukosa rongga mulut dan kornea.
F.     Macam- macam sistem sensorik lainnya serta bagian-bagiannya
TELINGA
A.    Fisiologi Telinga
Telinga merupakan organ yang berfungsi sebagai indera pendengaran dan fungsi keseimbangan tubuh.
1.      Anatomi telinga
Telinga sebagai indera pendengar terdiri dari tiga bagian yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam.
a.      Struktur anatomi telinga.
·        Telinga Bagian Luar
Telinga luar berfungsi menangkap rangsang getaran bunyi atau bunyi dari luar. Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna auricularis), saluran telinga (canalis auditorius externus) yang mengandung rambut-rambut halus dan kelenjar sebasea sampai di membran timpani.4
Daun telinga terdiri atas tulang rawan elastin dan kulit. Bagian-bagian daun telinga lobula, heliks, anti heliks, tragus, dan antitragus.
Liang telinga atau saluran telinga merupakan saluran yang berbentuk seperti huruf S. Pada 1/3 proksimal memiliki kerangka tulang rawan dan 2/3 distal memiliki kerangka tulang sejati. Saluran telinga mengandung rambut-rambut halus dan kelenjar lilin. Rambut-rambut alus berfungsi untuk melindungi lorong telinga dari kotoran, debu dan serangga, sementara kelenjar sebasea berfungsi menghasilkan serumen. Serumen adalah hasil produksi kelenjar sebasea, kelenjar seruminosa, epitel kulit yang terlepas dan partikel debu. Kelenjar sebasea terdapat pada kulit liang telinga
·        Telinga Bagian Tengah
Telinga tengah atau cavum tympani. Telinga bagian tengah berfungsi menghantarkan bunyi atau bunyi dari telinga luar ke telinga dalam. Bagian depan ruang telinga dibatasi oleh membran timpani, sedangkan bagian dalam dibatasi oleh foramen ovale dan foramen rotundum.
Y      Membran Tympani
Membran timpani berfungsi sebagai penerima gelombang bunyi. Setiap ada gelombang bunyi yang memasuki lorong telinga akan mengenai membran timpani, selanjutnya membran timpani akan menggelembung ke arah dalam menuju ke telinga tengah dan akan menyentuh tulang-tulang pendengaran yaitu maleus, inkus dan stapes. Tulang-tulang pendengaran akan meneruskan gelombang bunyi tersebut ke telinga bagian dalam.
Y      Tulang-tulang pendengaran
Tulang-tulang pendengaran yang terdiri atas maleus (tulang martil), incus (tulang landasan) dan stapes (tulang sanggurdi). Ketiga tulang tersebut membentuk rangkaian tulang yang melintang pada telinga tengah dan menyatu dengan membran timpani. Susunan tulang telinga ditampilkan pada gambar.
Y      Tuba auditiva eustachius
Tuba auditiva eustachius atau saluran eustachius adalah saluran penghubung antara ruang telinga tengah dengan rongga faring. Adanya saluran eustachius, memungkinkan keseimbangan tekanan udara rongga telinga telinga tengah dengan udara luar.
·        Telinga bagian dalam
Telinga dalam berfungsi menerima getaran bunyi yang dihantarkan oleh telinga tengah. Telinga dalam atau labirin terdiri atas dua bagian yaitu labirin tulang dan labirin selaput. Dalam labirin tulang terdapat vestibulum, kanalis semisirkularis dan koklea. Di dalam koklea inilah terdapat organ Corti yang berfungsi untuk mengubah getaran mekanik gelombang bunyi menjadi impuls listrik yang akan dihantarkan ke pusat pendengaran.
Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semi-sirkularis. Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan skala timpani dengan skala vestibuli.
Kanalis semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk lingkaran yang tidak lengkap. Koklea atau rumah siput merupakan saluran spiral dua setengah lingkaran yang menyerupai rumah siput.
a)      Koklea
·         Skala vestibuli terletak di bagian dorsal
·         Skala media terletak di bagian tengah
·         Skala timpani terletak di bagian ventral
Antara skala satu dengan skala yang lain dipisahkan oleh suatu membran. Ada tiga membran yaitu:
a. Membran vestibuli, memisahkan skala vestibuli dan skala media.
b. Membran tektoria, memisahkan skala media dan skala timpani.
c. Membran basilaris, memisahkan skala timpani dan skala vestibuli.
B.     Fisiologi pendengaran
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam bentuk gelombang yang dihantarkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran tersebut menggetarkan membran timpani dan diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan memperkuat getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan foramen ovale. Energi getar yang teiah diperkuat ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan foramen ovale sehingga cairan perilimfe pada skala vestibuli bergerak.
Getaran akibat getaran perilimfe diteruskan melalui membran Reissner yang akan mendorong endolimfe, sehingga akan terjadi gerak relatif antara membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi penglepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39 - 40) di lobus temporalis.
C.    Mekanisme Pendengaran
Gelombang bunyi merupakan suatu gelombang getaran udara yang timbul akibat getaran suatu obyek. Bunyi yang didengar oleh setiap orang muda antara 20 dan 20.000 siklus per detik. Akan tetapi, batasan bunyi sangat tergantung pada intensitas. Bila intesitas kekerasan 60 desibel di bawah 1 dyne/cm2 tingkat tekanan bunyi, rentang bunyi menjadi 500 sampai 5000 siklus per detik. Pada orang yang lebih tua rentang frekuensi yang bisa didengarnya akan menurun dari pada saat seseorang berusia muda, frekuensi pada orang yang lebih tua menjadi 50 sampai 8000 siklus perdetik atau kurang.
Kekerasan bunyi ditentukan oleh sistem pendengaran yang melalui tiga cara. Cara yang pertama di mana ketika bunyi menjadi keras, amplitudo getaran membran basiler dan sel-sel rambut menjadi meningkat sehingga akan mengeksitasi ujung saraf dengan lebih cepat. Kedua, ketika amplitudo getaran meningkat akan menyebabkan sel-sel rambut yang terletak di pinggir bagian membran basilar yang beresonansi menjadi terangsang sehinga menyebabkan penjumlahan spasial implus menjadi transmisi yang melalui banyak serabut saraf. Ketiga, sel-sel rambut luar tidak akan terangsang secara bermakna sampai dengan getaran membran basiler mencapai intensitas yang tinggi dan perangsangan sel-sel ini tampaknya yang menggambarkan pada sistem saraf bahwa tersebut sangat keras.
Jaras persarafan pendengaran utama menunjukan bahwa serabut saraf dari ganglion spiralis Corti memasuki nukleus koklearis dorsalis dan ventralis yang terletak pada bagian atas medulla. Serabut sinaps akan berjalan ke nukleus olivarius superior kemudian akan berjalan ke atas melalui lemnikus lateralis. Dari lemnikus lateralis ada beberapa serabut yang berakhir di lemnikus lateralis dan sebagian besar lagi berjalan ke kolikus inferior di mana tempat semua atau hampir semua serabut pendengaran bersinaps. Jaras berjalan dari kolikus inferior ke nukleus genikulum medial, kemudian jaras berlanjut melalui radiasio auditorius ke korteks auditorik yang terutama terletak pada girus superior lobus temporalis.
Pada batang otak terjadi persilangan antara kedua jaras di dalam korpus trapezoid dalam komisura di antara dua inti lemniskus lateralis dan dalam komnisura yang menghubungkan dua kolikulus inferior. Adanya serabut kolateral dari traktus auditorius berjalan langsung ke dalam sistem aktivasi retikuler di batang otak. Pada sistem ini akan mengaktivasi seluruh sistem saraf untuk memberikan respon terhadap bunyi yang keras. Kolateral lain yang menuju ke vermis serebelum juga akan di aktivasikan seketika jika ada bunyi keras yang timbul mendadak. Orientasi spasial dengan derajat tinggi akan dipertahankan oleh traktus serabut yang berasal dari koklea sampai ke korteks.
D.    Lokalisasi bunyi
Penentuan keras bunyi di tentukan oleh amplitudo suatu getaran suatu membran basilaris dan sel-sel rambut. Peningkatan amplitudo getaran merangsang ujung saraf lebih cepat dan dapat menyebabkan sel-sel rambut pada mambrana basiler yang bergetar mulai terangsang akibatnya menyebabkan sumasi ruang bagi implus. Pada tiap telinga memiliki keseragaman sensitivitas keseragaman pada rentan pendengaran yang berbeda-beda. Sensitivitas terbaiknya berfrekuensi 2 sampai 5 kHz. Pada telinga yang baik membutuhkan intesitas lebih dari 0 dB unuk mendeteksi bunyi berfrekuensi 100 dari pada bunyi berfrekuensi 1000 siklus per detik (Hertz /Hz).
Lokalisasi bunyi membutuhkan kerjasama kedua telinga. Seseorang dapat menentukan bunyi pada arah horizontal melalui perbedaan waktu antara masuknya bunyi ke dalam suatu telinga dengan frekuensi di bawah 2000 Hz dan masuk ke dalam telinga yang lain.
Perbedaan antara intensitas bunyi dalam pada kedua telinga bekerja paling baik bila frekuensi bunyi yang lebih tinggi, karena kepala bertindak sebagai sawar bunyi yang lebih baik terhadap frekuensi lainnya. Mekanisme perbedaan waktu dalam membedakan arah jauh lebih baik dari pada mekanisme intesitas, karena mekanisme ini tidak bergantung pada faktor-faktor luar, melainkan bergantung pada interval waktu yang tepat antara dua sinyal akustik.
Perbedaan waktu datangnya gelombang bunyi pada telinga kanan telinga kiri digunakan untuk mendeteksi sumber bunyi pada bidang datar. Pada bunyi dengan frekuensi kurang dari 2000 Hz struktur bunyi dapat diketahui dengan proses Interaural Time Differences (ITD). Pada frekuensi yang lebih besar dari 2000 Hz, efek dari “bayangan kepala” meningkatkan perbedaan intensitas bunyi antara telinga kanan dan telinga kiri. Perbedaan ini digunakan untuk melokalisasi sumber bunyi.
 Apabila seseorang melihat lurus ke arah sumber bunyi maka bunyi akan mencapai kedua telinga dengan jarak waktu yang bersamaan. Sedangkan jika telinga kanan lebih dekat dengan bunyi dari pada telinga kiri maka sinyal bunyi yang berasal dari telinga sebelah kanan akan memasuki otak lebih dahulu dari pada telinga sebelah kiri.

KULIT
Sensasi somatis mengacu pada sensasi di permukaan kulit. Somato sensoris tampaknya hanya mengacu pada satu sistem saja, yaitu sistem peraba, namun sebenarnya ia memiliki tiga sistem yang berbeda namun saling berinteraksi satu sarna lain, yaitu:
1.      Sistem Exteroceptive, yang mengindera stimulus ekstemal yang dirasakan kulit
2.      Sistem Proprioceptive, yang memonitor informasi tentang posisi tubuh berdasarkan reseptor di otot, persendian, dan organ-organ keseimbangan
3.      Sistem Interoceptive, yang mampumenyediakansemua informasitentang kondisi tubuh (temperatur, tekanan darah)
Pada bagian ini, akan dititikberatkan pada sistem exteroceptive yang mampu mengindera stimulus eksternal yang dirasakan kulit.
A.    Anatomi Organon Tactus
Organon Tactus adalah alat yang berkaitan dengan indera peraba. Organon tactus meliputi
kulit dan alat-alat tambahan. Kulit adalah pelindung terhadap dunia luar, sebagai penghalang dari kerusakan dan kuman. Kulit juga membantu membuang zat-zat yang tidak berguna dan mengatur suhu badan. Kulit terdiri dari 2 lapisan yaitu:
a.       Cutis, terdiri dari epidermis dan corium
b.      Subcutis, mengandung banyak lemak terdiri dari Stratum Corneum dan Stratum Gemanaticum
Di dalam kulit terdapat berbagai macam organ, yaitu:
a)      Rambut, akarrambut tertanam dalam-dalam di dermis. Tiap helai rambut terdiri dari akar dan batang yang tumbuh melalui epidermis ke permukaan kulit. Akar rambut terpancang dalam liang yang disebutfolikel dan mendapat suplai makanan dari darah melalui bagian kembang yang disebut papUa.
b)      Kelenjar, terdiri dari:
·         Kelenjar Minyak, berhubungan dengan folikel rambut dan menghasilkan minyak untuk melumasi kulit.
·         Kelenjar Keringat, terletak pada dermis yang terbuka pada permukaan kulit, dan melepaskan air serta sisa-sisa metabolisme tubuh.
c)      Panca Indera, terdiri dari:
·         Inter Epithelial, merupakan jaringan-jaringan yang bersama-sama membentuk organ kulit, termasuk didalamnya jaringan saraf
·         Jaringan Pengikat, mendukung dan membungkus sel-sel kulit dan memungkinkan makanan dari dalam darah masukke sel. Seljaringan ikat inijuga menyimpan lemak dan terutama terdapat di lapisan kulit yang terbawah dan di sekitar usus.
B.     Reseptor Kulit dan Hantaran Impuls di Saraf Perifer
Kulit berfungsi sebagai:
a.       Mekanoreseptor, berkaitan dengan indera raba, tekanan, getaran, dan kinestesi
b.      Thermoreseptor, berkaitan dengan penginderaan yang mendeteksi panas dan dingin.
c.       Reseptor Nyeri, berkaitan dengan mekanisme protektif bagi tubuh.

Pada glabrous atau kulit yang tidak memiliki rambut (seperti pada telapak tangan) memiliki empat macam reseptor. Dua diantaranya sangat mudah beradaptasi dan merespon stimulasi taktil yang datang, yaituPacinian Corpuscle (Corpuscullus Lamellosum Paccini), reseptor terbesar dan letaknya paling dalam (pada subcutis); dan Meissner Corpuscle (Corpuscullus Tactus dari Meissner) yang terietak persis di bawah kulit terluar (epidermis).
Sebaliknya, reseptor Merkel dan Ruffini Corpuscle (Corpuscullus Ruffini) hanya akan merespon terhadap stimulasi taktil yang lama. Seperti halnya pada kulit glabrous, kulit yang berambut juga memiliki corpuscullus Paccini, corpuscullus Ruffini, reseptor Merkel, tetapi ia tidak memiliki corpuscullus Meissner.
Sebagai gantinya, maka terdapat reseptor rambut yang terietak didekat pangkal akar rambut. Berdasarkan reseptor-reseptortadi, makaseseorang dapat mengidentifikasi objek melalui sentuhan (stereognosis). Modalitet peraba bagi tubuh adalah taktil, sakit atau nyeri, panas, dingin, dan tekanan. Reseptor taktil dan sakit adalah corpuscullus Tactus dari Meissner. Reseptor panas adalah corpuscu IIus Ruffini (di dekat subcutis dan corium), reseptor dingin adalah Corpuscu IIus Bulbo ldeakrauso (di dekat subcutis dan corium). Reseptor tekanan adalah corpuscu IIus Lame IIosum Paccini yang terletak di subcutis.
Serabut saraf yang menghantarkan impuls panas lebih tebal dari pada yang menghantarkan impuls dingin. Impuls panas dan dingin dihantarkan melalui tractus spino thalamic us lateralis. Berhubungan dengan asalnya, rangsang-rangsang taktus dibedakan atas:
a.       Rangsang Eksteroseptif, yaitu rangsang yang diterima dari luar, misalnya rangsang dari kulit.
b.      Rangsang Proprioseptif, yaitu rangsang yang ditimbulkan oleh suatu alat dan diterima oleh otot sendiri, misalnya bagian visceral.
c.       Rangsang Introseptif, yaitu rangsang yang datang dari dalam tubuh, misalnya rangsang yang diterima oleh usus.
d.      Rangsang Kinestesi, yaitu gerakan-gerakan dan ketegangan-ketegangan dari berbagai bagian tubuh dan otot. Rangsang ini terdapat pada persendian dan otot.

Bila suatu saraf pada satu tempat dipanasi atau didinginkan akan timbul aliran listrik yang dapat menimbulkan aliran aksi. Aliran listrik ini jadi timbul bila ada dua tempat yang berurutan pada saraf ada perbedaan dalam suhu atau bila adagradient. Berhubungan dengan
hal ini ada pendapat bahwa reseptor thermal juga berupa akhiran saraf bebas (free nerve endings), jadi bila suhu reseptor lebih rendah daripada dendrit, maka akan timbul potensial generator sehingga timbul impuls yang menyebabkan perasaan dingin. Sebaliknya, bila suhu reseptor lebih tinggi dari dendrit, akan timbul perasaan panas.
Serabut saraf yang membawa informasi dari reseptor somatosensori berkumpul di kumpulan saraf perifer yang selanjutnya masuk ke sumsum tulang belakang melalui serabut serabut saraf di bagian dorsal (dorsal root). Bagian tubuh yang dipengaruhi dorsal root pada
tiap segmen tulang belakang disebut dermatome Antara dermatome yang satu dengan yang lain ada tugas yang overlap atau saling mendukung, sehingga kerusakan pada dorsal root yang tunggal hanya akan menimbulkan efek somatosensoris yang minimal.
HIDUNG
Manusia dapat membedakan berbagai macam bau bukan karena memiliki banyak reseptor pembau namun kemampuan tersebut ditentukan oleh prinsip-prinsip komposisi (component principle). Seperti pada penglihatanwama (hanya memiliki tiga reseptor wama dasar, namun dari komposisi yang berbeda-beda dapat dilihat wama yang bermacam-macam), organ pembau hanya memiliki tujuh reseptor, namun dapat membedakan lebih dari 600 aroma yang berbeda.
Alat pembau atau sistem olfaction biasajuga disebut dengan Organon Olfaktus, dapat menerima stimulus benda-benda kimia sehingga reseptomya disebut pula chemoreceptor. Organon olfaktus terdapat pada hidung bagian atas, yaitu pada concha superior dan membran ini hanya menerima rangsang benda-benda yang dapat menguap dan berwujud gas.
Bagian-bagiannya adalah sebagai berikut:
a.       Concha Superior
b.      Concha Medialis
c.       Concha Inferior
d.      Septum nasi (sekat hidung)
Concha-conchater sebut adalah dari tulang,ditutupi oleh selaput lendir yang mengandung penuh pembuluh, pembuluh darah dan dapat membesar. Gunanya untuk memanasi hawa yang akan masuk ke paru-paru.
Reseptor organon olfactory terdapat di bagian atas hidung, menempel pada lapisan jaringan yang diselaputi lendir dan disebut olfactory muscosa. Selaput lendir tersebut berfungsi untuk melembabkan udara. Pada bagian tersebut juga terdapat bulu-bulu hidung yang berfungsi untuk menyaring debu dan kotoran.
Benda kimia yang dapat menstimulasi sel saraf dalam hidung adalah substansi yang dapat larut dalam zat cair (lendir) yang terdapat pada cilia yang menutupi sel tersebut. Makin berbau suatu substansi, maka hal tersebut menunjukkan bahwa makin banyak molekul yang dapat larut dalam air dan lemak (konsentrasi penguapannya tinggi).
Olfactory muscosa memiliki axon yang mampu melalui bagian tengkorak yang permiable (cribriform plate) dan masuk ke olfactory bulbs (saraf cranial yang pertama). Pada olfactory bulbs, terjadi sinapsis dengan neuron yang menyampaikan pesan secara menyebar ke olfactory paleocortex di lobus temporal bagian medial melalui lateral olfactory tract. Dari olfactory paleocortex, ada jejak saraf yang menuju medial dorsal nucleus di thalamus dan kemudian menuju olfactory neocortex di bagian depan frontallobes, tepatnya pada permukaan inferior. Neuron-neuron olfactory paleocortex yang lain akan menuju ke sistem lymbic. Bila proyeksi neuron ke thalamic-neocortical bertugas sebagai perantara kesadaran persepsi terhadap aroma, maka proyeksi neuron ke sistem lymbic bertugas sebagai perantara respon emosional terhadap aroma.
Reseptor olfaktori hanya mampu berfungsi selama 35 hari. Bila mati, baik karena sebab yang alami, maupun karena kerusakan fisik, maka reseptor tersebut akan digantikan oleh reseptor-reseptor baru yang axonnya akan berkembang ke lapisan olfactory bulbs yang akan dituju, dan bila telah sampai pada lapisan yang dimaksud, mereka akan memulihkan koneksi synapsis yang terputus.



Kemampuan membau makhluk hidup tergantung pada:
a.       Susunan Rongga Hidung. Bentuk Concha dan Septumnasi tempat reseptor pembau pada masing-masing orang tidak sarna bentuknya. Contohnya pada orang yang berhidung mancung akan lebih luas daripada yang berhidung pesek.
b.      Variasijisiologis, contohnya pada wanita, saat sebelum menstruasi atau pada saat hamil muda akan menjadi sangat peka.
c.       Spesies, pada spesies tertentu yang kemampuansurvivalnya tergantung pada pembauan, akan memiliki indera pembau yang lebih peka, contohnyapada anjing.
d.      Besarnya konsentrasi dari substansi yang berbau. Misalnya skatol (bau busuk yang terdapat pada kotoran atau faeces) memiliki konsentrasi yang kuat karena memiliki kemampuan menguap yang tinggi. Bila konsentrasinya kuat maka baunya busuk, sebaliknya bila konsentrsinya rendah akan menimbulkan bau yang berbeda (contohnya pada bunga yang mengandung skatol dalam konsentrasi yang rendah malah akan menimbulkan bau harum).






LIDAH
Reseptor sistem gustatory atau perasa berada di lidah dan bagian-bagian rongga mulut. Reseptor perasa disebut taste buds yang umumnya terletak disekitar kuncup pengecap yang disebut papillae.
Sistem gustatory atau organon gustus adalah indera pengecap yang terdapat pada lidah dan memiliki 4 modalitet yaitu
a.       Manis, pada puncak lidah, dapat diselidiki dengan meletakkan gula di lidah.
b.      Asin,pada puncak dan tepi lidah, dapat diselidiki dengan meletakkan garam di lidah
c.       Asam, pada tepi lidah, dapat dibuktikan dengan meletakkan asam sitrun di lidah.
d.      Pahit, pada pangkallidah, dapat dibuktikan dengan meletakkan kina di lidah.

Beberapa ahli menambahkan modalitet yang kelima, yaitu rasa alkali. Di luar ke lima macam rasa tersebut, ada kombinasi antara keempat atau kelima macam rasa itu yang akan menimbulkan rasa yang berbeda-beda. Berbagaimacam rasa tersebut masih dikombinasikan dengan tipe-tipe rangsangan yang lain, seperti rangsang panas, dingin, lembut, dan nyeri.
Reseptor pada lidah akan digantikan oleh reseptor yang bam setiap 10 hari sekali. Reseptor perasa tidak memiliki axon sendiri. Tiap neuron yang membawa impuls dari taste buds, akan menerima input dari beberapa reseptor sekaligus. Sinyal yang timbul pada reseptor perasa akan meluas ke sistem second-order neuron yang akan disampaikan ke cortex.
Saraf afferen pada sistem gustatory meninggalkan rongga mulut yang merupakan bagian dari saraf cranial bagian facial , glossopharyngeal , dan vagus . Informasi bermula dari bagian depan lidah, ke bagian belakang lidah, akhimya menuju ke bagian belakang rongga mulut. Saraf-saraf tersebut akan berakhir di solitary nucleus di medulla dan bersinapsis dengan neuron yang akan menyampaikan pesan ke ventral posterior nucleus di thalamus (letaknya berbeda dengan bagian penerima impuls dari stimulasi oral yang motorik sifatnya).
Axon-axon pada nucleus ventral posterior akan membawa berita ke primary gustatory cortex dan ke secondary gustatory cortex. Sistem gustatory juga akan menuju sistem lymbic. Proyeksi impuls ke hypothalamus diperkirakan memiliki peranan penting dalam mengatur rasa lapar. Satu hallagi yang perlu diingat dalam sistem gustatory, yaitu berbeda dengan sistem sensoris yang lain, sistem gustatory diproyeksikan secara ipsilateral.
Kemampuan mengecap seseorang tergantung pada:
a.       Faktor Individual, contohnya seseorang yang sedang sakit, maka kepekaan mengecapnya jadi berkurang.
b.      Nilai Ambang, nilai ambang ini tergantung dari kebiasaan seseorang. Contohnya seseorang yang sudah biasanya makan makanan yang asam, akan lebih tinggi dari pada orang yang tidak terbiasa makan asam.
c.       Konsentrasi, contohnya seseorang yang makan garam satu mangkok garam, lama kelamaan tidak merasakan asin lagi seperti pertama kali ia memakannya.


























BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Sistem sensoris adalah sistem penghantaran rangsangan dari perifer (reseptor) ke pusat (otak). Mulai dari reseptor di perifer sampai ke korteks sensorik di otak jalur sensorik sekurang-kurangnya terdiri dari 3 tingkatan neuron. . Impuls (rangsang) berjalan secara sentripetal dari reseptor di perifer ke badan sel neuron tingkat pertama (primer) di ganglion akar dorsal dari saraf spinal. Aksonnya menuju ke sentral, bersinaps degnan neuron tingkat dua (sekunder) di kornu posterior medulla spinalis atau inti homolog di batang otak. Akson neuron sekunder melintas garis tengah dan menuju pada sisi sebelahnya (kontralateral), kemudian naik sebagai jaras spinotalamik atau lemniskus medialis menuju ke sinaps berikutnya di thalamus. Neuron di thalamus, biasanya berupa neuron tingkat tiga (tersier) terletak di kompleks ventrobasal thalamus dan berproyeksi melalui kaki posterior kapsula interna ke korteks sensorik di girus postsentral (area brodmann 3-1-2).
Prinsip Umum Organisasi Sistem Sensoris
Tiap sistem sensoris khusus menerima, mengkodekan, dan mengintepretasikan informasi sensoris yang tertentu. Tetapi secara umum, sistem sensoris memiliki prinsip kerja yang saMa. Prinsip-prinsip umum dari sistem sensoris yang mampu disimpulkan adalah sebagai berikut:
1.      Sistem sensoris merupakan sistem yang sifatnya hierarkis. Pada setiap jenis sistem sensoris ada kecenderungan umum bahwa informasi akan mengalir dari sistem yang lebih rendah ke sistem yang lebih kompleks (lebih persepsual daripada sensoris).
2.      Sistem sensoris merupakan sistem yang paralel. Pada mulanya sistem sensoris digambarkan sebagai suatu sistem yang serial (hanya ada satu jalur aliran informasi), tetapi ternyata sistem sensoris cenderung bersifat paralel,yaitu bahwa informasi dapat mengalir pada komponen-komponen yang sesuai melalui berbagai jalur.
3.      Semua sistem sensoris yang eksteroseptif akan diproyeksikan ke neocortex melalui thalamus. Meskipun ada perbedaan yang nyata antara jejak -jejak saraf ke lima macam sistem sensoris eksteroseptif, tetapi adajejak sarafutama dari thalamus yang menuju ke neocortex. Tiap sistem sensoris umumnya memiliki lebih dari satu pasang jalur yang menuju thalamus (misalnya sinyal-sinyal visual yang disampaikan melalui nucleus pulvinar dan nucleus lateral geniculate).
4.      Korteks sensoris umumnya diorganisasikan dalam satu colum ljalurlsaluran). Setiap sistem sensoris eksteroseptifyang neuronnya terletak padajaringan cortical yang sarna (pada satu column) memiliki kecenderungan untuk responsif terhadap input sensoris pada column yang sarna.
5.      Permukaan cortex sensoris terbagi-bagi secara sistematis. Cortex terbagi-bagi secara jelas antara cortex visual (retinotopically), cortex auditory (tonotopically), dan cortex somatosensory (somatotopically). Sedangkan bagian cortex yang berhubungan dengan sistem organisasi gustatory dan olfactory belum diketahui dengan jelas. Keuntungan mengetahui pembagian cortex tersebut adalahuntuk memahami interaksi antara chanels atau column sistem organisasi yang satu dengan yang lain.
6.      Terdapat Representasi Multiple pada Setiap Sistem Sensoris di Cortex. Mula-mula diperkirakan bahwa tiap pola daerah di cortex hanya berkaitan dengan satu sistem sensoris tertentu, tetapi pada hasil penelitian terakhir menunjukkan bahwa satu daerah di cortex mempresentasikan lebih dari satu macam sistem sensoris.
7.      Reaktivitas dan Kemampuan Seleksi Neuron-neuron di Secondary Sensory Cortex terjadi karena atensi selektif. Pada secondary sensory cortex terdapat mekanisme pada tiap sistem sensoris untuk meningkatkan sensitivitas neuron terhadap stimulus tertentu yang difokuskan oleh subjek yang bersangkutan.















DAFTAR PUSTAKA

pdf sistem-sensorik
pdf Anatomi_Fisiologi_pendengaranx
pdf Telinga
pdf bab6_mekanisme_sensoris_dan_persepsi_serta_anatomi_organ_organ_sensoris
pdf ANATOMI-FISIOLOGI-SISTEM-SARAF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SKRIPSI Hubungan Kemandirian dengan Penyesuaian DIri pada Mahasiswa Perantau di Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri BAB I PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang Masalah Sering kita temui mahasiswa yang meninggalkan tanah kelahirannya hanya untuk mencari ilmu. Pelajar ya...